Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 18


__ADS_3

Semenjak kejadian besar sebelumnya. Ray mulai berinisiatif untuk mendekati Nico. Melisa dapat dengan jelas melihat mereka berdua menjadi semakin dekat. Nico juga terlihat telah melepaskan ketidaknyamanan dan bisa tersenyum dengan bebas dari sebelumnya.


Beberapa bulan berlalu dengan tenang seperti itu. Nico juga semakin dekat pada Melisa. Nico akan sering tersenyum dan berinisiatif mengajak Melisa untuk berbicara.


Melisa yang melihat ketenangan itu juga senang. Dia bisa segera pergi keluar kota untuk mengatasi masalah yang ada di perusahaan cabang. Dia telah menundanya karena menghawatirkan Nico dan Ray. Jadi karena semua sudah tenang dia bisa segera menyelesaikan urusan itu.


Tapi semua ketenangan itu juga tidak bertahan lama. Sebuah rumor yang tidak menyenangkan menyebar di sekolah Nico. Group kelas K dan forum universitas tiba-tiba ramai karena itu. Rumor itu adalah tentang mahasiswa yang telah menjual tubuhnya untuk uang. Itu sangat jelas bahwa itu Nico karena inisial N dan mahasiswa itu laki-laki.


Dikatakan dia pergi dari rumah dan pergi untuk tinggal bersama seorang yang umurnya hampir sama dengan ibunya. Membuka group kelas K Nico bisa melihat cacian dan pembicaraan yang tidak menyenangkan.


Saat berjalan di koridor pula banyak yang menunjuknya dan berbisik tentangnya. Dia merasa memang dia tidak seharusnya bahagia kan. seperti biasanya kebahagiaannya diiringi dengan kesedihan nantinya.


Senyum yang didapat dengan susah payah di bibirnya pudar dengan cepat. Dia hanya bisa diam dan menganggap itu angin yang lewat. Dia hanya bisa menahannya sampai pulang.


Saat sampai di rumah, dia yang telah memiliki mood yang buruk sejak pagi menjadi lelah. Dia pergi ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur.


Dengan penasaran lagi dia membuka group kelas K dan melihat pesan yang terus dikirim dari para mahasiswa dan mahasiswi.


1: "Benarkah itu. bukankah itu murid baru yang pindah beberapa saat sebelumnya?"


2: "Iya, saya mendengar dia mempercepat urusan pindahnya."


3: "Bukankah dia menggunakan uang wanita itu untuk jalur khusus."


4: "Itu sudah pasti kan."


..........


29: "Apakah dia tidak merasa buruk bersama orang yang berumur sama dengan ibunya sendiri."


..........


36: "Hahaha... memikirkannya membuat saya muak."


..........

__ADS_1


108: "Hey, bukankah dia memiliki orang dalam bukankah kita akan dibungkam atau semacamnya.


.........


114: "Benar, bukankah dia akan mengadu."


..........


126: "Bagaimana jika begitu bagaimana dia bisa membungkam orang sebanyak ini?"


.........


157: "Lihatlah mukanya yang merasa baik-baik saja. bukankah dia merasa bangga."


171: "Benar bukankah dia tadi juga datang ke ruang kuliah seakan tidak terjadi apa-apa."


..........


Melihat pesan yang semakin banyak dan mempengaruhi suasana hatinya itu, Nico mematikan ponselnya dan memejamkan matanya. Perlahan dia tertidur.


Dia terbangun secara alami dan mengetahui bahwa ini menjadi waktu makan malam. Memikirkan masalah itu lagi dia telah pusing dan membuatnya tertidur terlalu lama.


Bukankah dia seharusnya membangunkannya. Jadi Saat bibi Ifa menyajikan makanan ke meja untuk dirinya Nico bertanya tentang itu. "Bibi, apa nyonya Melisa telah menyelesaikan makannya terlebih dahulu?"


Bibi Ifa tertegun sejenak sebelum menjawab, “Apa nyonya Melisa belum memberitahu anda? Pagi ini Nyonya pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis di perusahaan cabang yang memiliki masalah.”


“Jadi begitu.” Nico memakan makanannya dan membenamkan kepalanya.


Bibi Ifa tersenyum dengan reaksi Nico. “Mungkin nyonya akan menghubungi anda nanti. Apa tuan Nico ada masalah?”


“Tidak.” Dengan cepat Nico menyangkal itu. Dia tidak mau Melisa yang telah sibuk malah harus memikirkan masalahnya lagi. Dia tidak mau untuk merepotkan nyonya Melisa.


Nico dengan cepat menyelesaikan makannya sebelum kembali ke kamar. Melihat reaksi itu Bibi Ifa tau bahwa memang ada masalah. Jadi dia segera menelepon nyonya Melisa.


Setelah berdering sebentar, terdengar dari seberang suara nyonyanya. “Halo?”

__ADS_1


“Halo, nyonya apa saya mengganggu anda?” Bibi Ifa segera teringat bahwa nyonyanya pasti sibuk dan dia telah dengan tergesa-gesa meneleponnya.


Melihat berkas yang menumpuk didepannya Melisa ingin segera mematikan telepon tersebut. Namun dia tau bahwa bibi Ifa tidak akan meneleponnya jika tidak ada masalah yang serius. “Tidak apa-apa. Jadi kenapa bibi menelepon saya saat ini?”


“Nyonya sepertinya tuan Nico mengalami masalah. Saya merasa bahwa mood nya rendah sejak dia pulang dari universitasnya.” Bibi Ifa berkata dengan lugas. Berpikir sebentar dia juga memberitahu Melisa tentang yang terjadi di meja makan beberapa saat lalu.


“Baiklah, saya akan menutup teleponnya dan segera menelepon Nico.” Melisa segera mematikan panggilan. Dia tidak memberitahu Nico bahwa dia pergi ke luar kota, karena pagi ini Nico memiliki kelas. Jadi dia hanya masih sempat untuk memberi tahu Ray.


Mengusap pelipisnya Melisa lelah saat ini. Dia segera menelepon Nico dan berbincang sebentar dengannya. Walau dia tidak mengungkapkan masalahnya. Melisa segera tau dari nada suaranya bahwa dia berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.


Melihat masalah di perusahaan ini, dia seharusnya bisa menyelesaikannya dalam beberapa bulan sambil melihat perkembangan lanjutan dari penyelesaiannya. Sepertinya itu tidak bisa dilakukan dan dia harus bisa lembur untuk menyelesaikannya sesegera mungkin.


Jika sekretaris dan karyawan tau bahwa Melisa ingin mempercepat dan bekerja lembur mereka akan menangis karena itu. Karena mereka tidak mungkin pulang saat bos mereka masih bekerja dan mengawasi mereka.


Hari demi hari berlalu namun rumor itu terus menyebar dengan liar dan tidak kunjung mereda. Nico hanya bisa menelan rasa tidak senangnya dan menjalani kehidupan seperti biasa. Dia telah seperti ini bahkan saat di universitas dulu. Jadi dia tidak masalah karenanya.


Saat pulang dari universitas, Nico berjalan menuju gerbang depan universitas. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya, Fiolyn. Nico segera menghampiri Fiolyn saat ini.


"Kak Nico, Fiolyn telah menunggu kamu belakangan ini. Aku telah mencari dan bertanya pada orang-orang tentang kamu." Fiolyn berkata dengan senang karena telah bertemu Nico.


"Mengapa kamu mencari aku?" Nico bertanya dengan bingung.


"Aku khawatir pada kak Nico. Ibu berkata bahwa kamu telah pergi dengan kekasihmu yang memiliki umur yang hampir sama dengan ibu. bukankah kamu hanya dipaksa saja." Fiolyn berkata dengan khawatir.


"Apa kamu berkata seperti itu juga kepada orang-orang?" Nico menatap Fiolyn dengan curiga. Bukankah wanita ini yang telah menyebarkan rumor itu. Rumor yang telah menjelekkan nama nyonya Melisa.


"Iya, mereka bertanya jadi aku menjawab dengan jelas. lagipula aku akan membawa kakak pulang segera. kamu tidak perlu bersama wanita itu." Fiolyn berkata dengan tekad untuk menyelamatkan Nico.


Jadi dengan itu Nico tau semua penyebab dari rumor adalah Fiolyn. Apa dia tidak tau bahwa perkataannya bisa saja menyakiti seseorang dan membuat tuduhan yang kejam untuk orang. Apa menurut Fiolyn semua perkataan dan perbuatannya adalah benar. Bukankah itu hanya racun yang diberi lapisan gula untuk mempermanis luarnya saja.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini." Nico berkata dengan amarah yang terpendam.


"Tapi kak." Fiolyn bingung kenapa dia diusir saat ini.


"Aku bilang pergi. Jangan pernah datang lagi padaku." Nico berkata dengan keras saat ini. Kemarahan langsung tercurah dan membuatnya bisa berbicara pada orang yang terus membuatnya menderita tanpa alasan. "Saya telah keluar dari keluarga Helingga, anda tidak lagi harus memperhatikan saya."

__ADS_1


Nico pergi meninggalkan Fiolyn yang terlihat sedih. Nico tidak lagi mau memperhatikan perasaan wanita itu. Dia telah menahannya terlalu lama untuk terus menuruti perkataan Fiolyn dan keluarga Helingga.


Dengan keluarnya dia dari keluarga itu, dia merasa telah lepas dari rantai yang melilitnya. Mengapa dia sekarang peduli dan menghancurkan hidupnya lagi.


__ADS_2