
Karena pengusiran itu, Fiolyn merasa sedih. Dia tidak bisa bercerita pada Maul, karena Maul sangat sibuk belakangan. Paman ingin segera berlibur jauh bersama bibi, jadi paman segera membuat Maul belajar langsung untuk mengurus semua bisnis.
Dia telah duduk di tempat tidur lama karena bingung akan bercerita kepada siapa. Kakaknya pasti sibuk juga kan.
Tepat saat dia memikirkannya, Kakaknya Vino menelponnya.
Dengan senang Fiolyn segera mengangkatnya dan mengeluh pada Vino. "Kakak, akhirnya kamu menelpon. Aku telah dalam mood yang buruk belakangan."
Vino disebrang mengernyit dan bertanya, "Mengapa itu, apa ada yang menyakiti adik ku lagi?"
Fiolyn cemberut dan menjawab, "Saat aku pergi ke kak Nico, Aku dimarahi dan diusir. Padahal aku ingin membantunya."
Vino segera menangkap inti pembicaraan dan bertanya, "Mengapa memangnya? Apa yang telah terjadi saat aku tidak dirumah?"
Fiolyn menceritakan semua yang terjadi belakangan ini. Tentang Nico yang pergi bersama Melisa dan tentang kejadian di kampus waktu itu.
Vino yang mendengar juga terkejut betapa banyaknya dia telah melewatkan informasi dari keluarganya. Dia telah sibuk di laboratorium dan tidak menghubungi dunia luar karenanya. Jadi kejadian itu juga baru saja diketahuinya.
"Kakak, Kamu membujuknya kan, Aku merasa bersalah. Aku ingin kak Nico kembali saja ke rumah ini dari pada dipaksa disana kan." Fiolyn merasa sedih lagi karenanya. Dia merasa semua terjadi karenanya.
"Aku akan pulang beberapa minggu kemudian. Jadi kita bisa pergi ke tempat Nico dan membujuknya pulang." Vino menghibur adiknya itu.
Fiolyn senang dan dengan gembira menjawab, "Terima kasih kakak."
Di sebrang telepon Saat ini Vino tengah makan bersama temannya. Setelah mematikan telepon wajahnya yang tersenyum juga menghilang.
__ADS_1
Temannya disebrang meja bertanya penasaran, "Mengapa wajahmu begitu buruk?"
"Aku tidak apa-apa, kalian tenang saja." Vino juga cepat menenangkan suasana hatinya.
Temannya tidak terlalu peduli dan mencampuri urusan orang jadi dia tidak terus bertanya. Selesai makan mereka melakukan pekerjaan mereka lagi di laboratorium.
Maul di sisi lain baru saja pulang ke rumah setelah pekerjaan kantor. Melihat kemesraan kedua orang tuanya dia sedikit muak karena dia harus melakukan pekerjaan ini. Dia segera pergi ke ruang belajarnya sendiri untuk beristirahat.
Duduk di belakang meja, dan mengeluarkan tumpukan kertas yang berisi banyak tulisan. Dia tersenyum bahagia. Menyebar Semua kertas diatas meja, Dia bisa melihat seberapa sempurna rencana yang telah dia buat.
Dia tidak sabar mengimplementasikan semua rencananya dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Inilah alasan mengapa dia dengan senang hati menerima semua pengalihan pekerjaan yang melelahkan itu.
Maul merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki Apa yang dia inginkan. Dengan senyum di bibirnya dia memejamkan mata dan membayangkan bahwa dia tidak perlu menyembunyikan lagi sifatnya saat itu.
Ray yang Selesai menerima telepon dari Melisa sedikit cemberut. Eshal disampingnya dengan iseng berkata, "Buka mulutmu!"
Eshal tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukannya, tersenyum dan Bertanya pada Ray, "Mengapa kamu cemberut setelah menelpon ibumu."
Ray segera tersadar dan malu karena reaksinya sendiri. Mendengarkan Eshal bertanya padanya dia segera menjawab dengan sedikit malu, "Ibu berkata bahwa ada rumor buruk yang tersebar di universitas dan itu tentang kak Nico."
Eshal bingung dan berkata, "Tentang apa itu. Bukankah kamu bercerita bahwa kak Nico sangat baik."
"Aku tidak tau karena ibu tidak memberitahuku. Ibu hanya berkata untuk pergi keluar bersama kak Nico mencari udara segar." Ray menjawab pertanyaan Eshal. Sambil melihat pemandangan didepannya, banyak siswa juga yang masih berkeliaran untuk sekedar bersantai atau belajar di perpustakaan.
"Kamu mengajakku kan? Ya? Aku ingin pergi juga." Eshal menatap Ray dengan mata memohon.
__ADS_1
"Emm... Baiklah, kita juga bisa bersantai sekalian setelah banyak belajar belakangan ini." Ray memperbolehkan Eshal untuk ikut, lagipula itu hanya perjalanan akhir pekan. Dia akan bertanya pada kak Nico tentang itu juga.
Jadi mereka berdua merencanakan perjalanan akhir pekan mereka dengan riang sambil membicarakan tentang Nico juga.
Disebuah Cafe tempat Nico bekerja, Dia bersin dan merasa ada orang yang telah membicarakannya. Namun sepertinya belakangan memang banyak orang yang membicarakan dirinya dibelakang kan.
"Hey, apa kamu tidak apa-apa?" Orang didepan Nico bertanya dengan khawatir.
"Saya baik-baik saja bos. Terimakasih telah khawatir." Kata Nico dengan senyum di bibirnya.
Orang didepannya lega dan berkata, "Kamu tidak perlu khawatir tentang rumor itu dan bekerjalah dengan tenang." Pria didepannya yang adalah Pemilik Cafe tempatnya bekerja berbicara dengan baik kepada Nico, sebelum dia mulai mengingat masa lalu, "Aku dan Istriku dulu juga memiliki masalah dalam percintaan kami. Orang tua kami menentang itu karena beberapa perselisihan. namun karena cinta kita yang tulus kita bisa bersama sampai sekarang."
Disisi lain Nico tersenyum kaku, pasalnya dia telah sering mendengarkan cerita betapa pemilik sangat mencintai istrinya. Mendengar itu pertama akan seru namun setelahnya dia telah lelah jika bos terus bercerita. "Baik bos, saya tidak terlalu memikirkannya."
Bos itu juga tau kepribadian Nico sangat baik dan pasti karena cinta lah dia bisa bersama wanita itu. Setelah mendengar jawabannya dia berkata, "Benar, jangan terlalu memikirkannya. Kalian adalah cinta sejati, tidak perlu mengukurnya dari perkataan orang lain. jangan memikirkan perkataan buruk itu."
"Terimakasih bos." Nico bersyukur dan merasa sangat berterimakasih. Dia telah banyak dipecat karena rumor itu. Beberapa pelanggan adalah murid dari Universitas yang sama dengannya dan mereka komplain tentangnya. Jadi bos tempat lain segera memecatnya karena bisa mempengaruhi toko mereka.
Dia juga bekerja sebagai tutor untuk anak-anak dan rumornya yang diketahui oleh orang tua anak membuatnya diberhentikan oleh mereka. Mereka merasa kepribadiannya buruk dan akan mempengaruhi anak-anak mereka. Jangan sampai anak mereka sepertinya.
Nico merasa perkataan mereka bahkan lebih menyakitkan daripada perkataan teman-temannya. Dia bahkan harus menunggu lama sebelum dia bisa menjadi tenang.
Jika perkataan para siswa bisa diabaikannya, perkataan para orang tua itu tidak bisa. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada mereka karenanya.
Bersikap rendah hati dan kemudian mereka lebih berani untuk mengkritiknya lebih banyak. Jikalau pun dia tidak melakukannya mereka juga akan berkata dia tidak memiliki sopan santun dan mereka menyesal telah membiarkannya mengajar anak mereka.
__ADS_1
Setelah semua itu dia telah siap dipecat disini juga. Namun Bos sangat baik padanya dan tulus. Bos memanggilnya kekantor nya dan menyuruhnya untuk tidak memperhatikan rumor dan bekerja dengan baik. Dia sangat bersyukur karena itu.