
Ray kesal dan bergegas ke kamarnya. Dia mengambil smartphone nya dan Mengirim pesan pada Eshal. Mengetik dan menghapus dia akhirnya menekan tombol kirim. 'sepertinya ibu membawa pria aneh ke rumah, bagaimana ini?'
Eshal yang sedang tengkurap di kasurnya sambil memainkan smartphone nya. Dia melihat notifikasi pesan dari Ray dan membukanya. sesaat setelah mengetahui apa yang dikirim Ray dia langsung terduduk melihat pesan itu. 'Kamu bilang saat itu bahwa ibumu telah bercerai kan, mungkinkah kamu akan memiliki ayah tiri?'
Ray melihat jawaban Eshal dan segera membalasnya, 'ibu bilang sementara dia adalah kakakku, tapi siapa tau jika di masa depan dia tiba-tiba menjadi ayahku'
Eshal berpikir sebentar dengan bingung sebelum menuliskan pertanyaannya, 'kakak? berapa umurnya?'
Ray bersandar di kepala tempat tidur sambil menunggu pesan Eshal, namun saat dia menerimanya dia kesal lagi mengingat pria aneh itu, 'dia setidaknya berusia sembilan atau sepuluh tahun lebih tua dari aku.'
Eshal lebih berharap tentang cerita itu. 'wow, kamu akan memiliki ayah yang muda, itu akan memiliki age gap sekitar 20 tahun dengan ibumu. ibumu sangat hebat?'
Ray hampir melempar smartphone nya karena pesan dari Eshal. menahan, dia mengepalkan smartphone nya dan membalas Eshal, 'tidak aku tidak menginginkannya, mengapa aku harus memiliki ayah baru? saya tidak membutuhkannya sama sekali.'
Mendengar Ray, Eshal teringat perkataan ayahnya yang dia dengar dulu, 'tapi Ray ibumu pasti membutuhkannya, seorang pendamping. apalagi saat anda dewasa nanti dan anda sibuk, siapa yang akan menemani ibumu saat tua bukankah dia akan sendirian.'
Melihat pesan dari Eshal, Ray tertegun sejenak dan berpikir. perkataan itu memang benar, 'mengapa kamu tiba-tiba berbicara sangat baik. kamu biasanya akan memarahi dengan parah.'
Eshal tersenyum melihat pesan Ray, membalas, 'hehe, saat pamanku menikah lagi, aku pernah protes ke ayah. aku bahkan bingung mengapa sepupuku memperbolehkannya, jadi ayah menceramahiku sangat lama karena itu. jadi Ray apa kamu sudah bisa menerima jika ada ayah baru?'
'aku tidak tau.' pikiran Ray sendiri sangat kacau saat ini, kebingungan dan kekesalan campur aduk dengan yang lainnya membuatnya tidak tau apa keputusannya.
'baiklah, namun jika nanti dia jahat pada kamu atau ibumu, adukan saja pada siapapun atau kamu bisa menolaknya dan memusuhi pria itu jika ibumu tidak mendengarkan kamu.' Eshal sangat tegas dengan menulis ini.
__ADS_1
'iya.' Ray tersenyum karena dia tau itulah karakter Eshal.
Dengan itu Eshal mengepalkan tinju kecilnya dan mendengus. Dia akan membantu Ray jika pria aneh yang dikatakan Ray mengganggunya.
Eshal kemudian melihat pada kaca jendela dan mendapati ayahnya pulang saat ini. Dia segera bangun, bergegas keluar dan menemukan ayahnya. Dia bisa mendengar bahwa dapur sibuk saat ini, sepertinya sang ibu sedang memasak di dapur.
Melihat kebawah dari atas tangga Eshal menunggu ayahnya. Saat Ayahnya Ada di bawah dia tersenyum lembut pada Eshal, "Ada apa Sayang."
"Eshal Merindukan Ayah." Eshal segera berlari kearah ayahnya dan Akan membantu ayahnya mengambil jas yang disampirkan ke tangan oleh ayahnya.
"jadi Eshal hanya rindu pada ayah, bagaimana dengan ibu?" Suara ibunya terdengar dari dapur dan membuat Eshal menoleh ke arah dapur.
"Tidak Eshal juga merindukan ibu." Dengan jas yang dipegangnya, dia meletakkan jas pada kursi sebelum pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk ayahnya.
Melihat apa yang dilakukan anaknya sang ayah hanya menggelengkan kepalanya. Dia datang, merapikannya dan duduk dengan tenang untuk menunggu anaknya itu.
Sang ayah meminum tehnya sebelum bertanya pada Eshal, "jadi apa Eshal akan bercerita pada ayah tentang teman baru yang kamu dapatkan. Eshal sepertinya menyukainya kan, kamu selalu menyebutkannya di telpon saat kamu di asrama."
"Bagaimana ayah tau?" Eshal cemberut saat Ayahnya sudah mengetahui apa yang akan diceritakannya.
sang ayah hanya tersenyum tipis mendengarnya. dia tau bahwa putrinya hanya akan menyambutnya pulang dan menunggunya seperti tadi saat dia ingin sesuatu atau ingin bercerita dengannya. jika tidak dia hanya akan turun saat hampir makan malam.
bukan karena dia tidak baik atau sesuatu namun memang karena anaknya selalu malas untuk turun dan bermain dengan telponnya. memang benar mereka memanjakan anak ini, tapi dia sendiri tidak ingin anaknya terdistorsi dan menjadi buruk juga. untung saja anaknya menjadi putri kecil yang ceria dan energik sampai sekarang.
__ADS_1
jadi dengan itu Eshal bercerita tentang Nico kepada ayahnya kecuali tentang ayah baru itu. Dia tidak ingin menjadi orang yang tidak bisa menjaga rahasia. dengan percakapan mereka, waktu berlalu dengan cepat. Aroma makanan pada dapur menguat menandakan waktu makan malam akan datang. Jadi Eshal menyudahi ceritanya dan pergi untuk membantu ibunya menata meja seperti biasa dan mereka makan bersama dengan harmonis.
Rumah keluarga Cardita.
Bibi ifa yang telah selesai memasak makan malam segera pergi ke ruang belajar untuk memanggil nyonya nya terlebih dahulu sebelum memanggil Tuan muda dan tuan Nico.
mengetuk pintu ringan, Bibi ifa memanggil nyonya nya itu. "Nyonya sudah waktunya makan malam, semua sudah dihidangkan."
segera suara juga bergema dari dalam ruangan di depan bibi Ifa, "iya bibi. kamu bisa memanggil mereka berdua untuk turun juga."
jadi dengan itu bibi Ifa memanggil tuan muda nya dan tuan Nico.
Melisa keluar dari ruang belajar dan menuju ke ruang makan. duduk, Melisa melihat makanan yang tertata rapi didepannya. Dari hidangan sayur sampai hidangan daging ada di atas meja dalam porsi kecil. tentu saja karena hanya tiga orang yang akan makan ini.
Bibi Ifa akan pulang di sebuah rumah kecil dibelakang rumah utama dan makan dengan suaminya, jadi dia tidak makan di sini.
Dengan suara langkah kaki, melisa menoleh, melihat ke arah tangga dimana Ray dan Nico turun. Ray dengan ekspresi cemberutnya dan Nico tetap menundukkan kepalanya.
Nico telah tinggal di panti asuhan sejak kecil, perlakuan kasar juga pernah diterimanya. begitu dia pergi ke keluarga Helingga dia juga mendapat perlakuan kasar dari ibunya, ketidak pedulian dari ayahnya dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. dia juga menghadapi skema besar dan kecil dari orang-orang yang menyukai Fiolyn. sekalipun dia dekat dengan orang, dikemudian hari orang itu juga berpaling darinya dan membela Fiolyn. Nico yang tinggal di lingkungan seperti itu telah menjadi sensitif dan pengecut dari pada yang lain.
Itulah kenapa dia selalu memposisikan dirinya serendah mungkin dan terus meminta maaf pada apa yang tidak dia lakukan saat disini. dia tidak ingin orang yang baik padanya menderita karena adanya dia dan tidak ingin orang itu berbalik melawannya. perasaan kecewa dan kesedihan berulang kali membuatnya mengalami Cherophobia.
Ray segera duduk di kursi. walau dia kesal dia menahannya saat ini. Melisa juga segera tenang dan mulai untuk makan malam. Hanya suara tabrakan sendok dan piring yang memenuhi. tidak ada yang berbicara membuat udara juga sunyi saat ini. ini sangat kontras dengan Keluarga Eshal yang rukun dan hangat.
__ADS_1
Cherophobia: Rasa takut pada kebahagiaan. Karena percaya bahwa setiap kali sesuatu yang baik terjadi pada diri mereka, hal buruk pasti menyusul.