
Didalam ruangan yang terang benderang, Jocasta sedang mengemasi pakaiannya saat ini. Mengepak dan mengecek persiapannya, dia sedikit bersemangat karena akan berlibur ke kota B dengan kedua sahabatnya.
Mengecek kembali semuanya, dia akhirnya mengingat bahwa dia lupa membeli sesuatu saat pulang kerja tadi.
Jadi dia memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat dan membelinya. Untung saja toko yang ditujunya masih buka, jadi dia bisa segera membelinya dan kembali ke rumah lagi.
Berjalan keluar dari supermarket, Jocasta berjalan menuju rumahnya. Namun di sebuah gang yang selalu dilewatinya, dia melihat seberkas cahaya yang terang.
Gang yang selalu gelap itu sekarang memiliki cahaya yang membuatnya melirik karena penasaran. Melihat dengan sekilas dia terkejut melihat bahwa ada sebuah toko di sana.
Toko yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, toko itu memiliki desain yang tradisional dengan banyak ukiran di setiap sisinya. Dengan gaya seperti itu, menjadi toko serba ada sangatlah bertentangan dengan temanya.
Jadi dengan penasaran Jocasta pergi menuju toko itu dan masuk kedalamnya. Melihat dekorasi, dia menjadi semakin penasaran karenanya.
"Apa yang anda cari pelanggan?" Dari samping Jocasta, terdengar suara seorang yang bertanya padanya. Membuat Jocasta sedikit terkejut.
"Ah, Ya." Menoleh menuju tempat suara, Jocasta melihat Hyde Ada di sana.
"Kamu bisa membeli apapun yang anda butuhkan disini." Hyde mengabaikan keterkejutan Jocasta dan berkata dengan senyum.
"Tuan, apa anda bercanda. Tidak mungkin aku bisa membeli apapun disini." Jocasta yang telah menenangkan keterkejutannya menjadi sadar karena mengira bahwa Hyde bercanda.
"Bisa, apapun yang pelanggan inginkan." Hyde tersenyum dan berjalan menuju meja kasir.
"Bagaimana jika aku mencari sebuah kamera, apakah tetap bisa ada?" Jocasta berkata dengan bercanda. Walau dia memang ingin membeli kamera, tapi tidak mungkin itu ada di sini.
"Ada, apa pelanggan ingin?" Hyde mencari di sebuah laci dan menunjukkannya pada Jocasta.
Jadi Jocasta melihat sebuah kamera kuno yang indah di depannya. Merasa itu pasti tidak dijual. "Tuan bukankah itu milik anda? Itu tidak mungkin dijual kan?"
Hyde mengangkat kamera untuk dilihat lebih detail oleh Jocasta, "Ini dijual. Ini diletakkan ditoko memang untuk dijual."
"Benarkah." Jocasta berkata dengan nada yang sedikit bersemangat.
"Benar."
Jadi Jocasta yang merasa tidak nyata baru sadar saat dia sudah jauh dari toko, bahwa dia telah benar-benar membeli kamera itu.
__ADS_1
Namun dia segera senang dan berjalan dengan cepat pulang. Dia akan liburan bersama temannya jadi kamera itu akan segera terpakai.
Di sebrang gang gelap tempat toko dimensi, Seseorang kini tengah menatap dari bayang-bayang malam. Dia terus berdiri dan menatap toko itu lama sebelum toko itu menghilang perlahan dan tidak terlihat lagi. Setelah gang itu menjadi gelap, orang itu juga perlahan pergi.
Dalam toko, Eugene yang melihat pelanggan pergi juga keluar dari tempat sembunyi nya. "Aku tidak menyangka mereka bahkan bisa menemukan kita."
"Para pelanggan yang terpilih akan secara otomatis tertarik dan pergi ke toko ini. Dan barang yang mereka inginkan akan muncul secara eksklusif." Hyde kemudian menatap Eugene dengan sedikit curiga, "Apa kau benar-benar sudah belajar? Kamu bahkan tidak tau informasi umum."
"Eh, itu membosankan jadi aku tertidur saat dijelaskan. Tapi itu tidak terlalu penting kan? Aku juga merupakan yang teratas saat praktik." Eugene membanggakan dirinya sendiri tanpa malu sedikitpun.
"Hah, Itulah kenapa ayahmu mengkhawatirkan dirimu." Hyde menatap Eugene dengan pengertian dan kesedihan karena temannya memiliki putra seperti itu.
"Benar, pria tua. orang itu juga selalu tau kita ada di mana kan?" Eugene berbicara sambil menunjuk seseorang yang bersembunyi di bayang-bayang dengan dagunya.
"Iya, Karena dia akan bisa merasakan kedatangan kita." Hyde melirik seseorang itu dan tersenyum.
"Apa dia tidak akan masuk ke sini?"
"Dia hanya ingin memperhatikan terlebih dahulu."
Hyde melihat Eugene dengan makna. “Dia juga tau bahwa jika dia tidak dipanggil dia tidak akan diterima.”
"Mengapa anda melihatku seperti itu?" Eugene yang ditatap merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.
Namun Hyde tidak lagi memperhatikan Eugene. Dia pergi ke pintu, membalik papan tutup dan pergi ke pintu di belakang toko, sambil berkata “Tidak apa-apa, ayo kembali saja. Oh dan kamu juga harus belajar lebih banyak lagi."
"Tunggu pak tua." Eugene yang telah menunggu jawaban itu menjadi kesal karena ditinggalkan dengan banyak pertanyaan di kepalanya, Tapi dia tetap pergi ke pintu belakang toko untuk mengikuti Hyde.
Di rumah, Jocasta yang baru saja sampai segera membuka Smartphonenya dan bertukar pesan di grup yang terdiri dari tiga orang.
^^^^^^Jocasta, 'Rania, Erina, tebak apa yang aku dapatkan''^^^^^^
Rania, 'Apa itu?'
Erina,'Bukankah itu kamera yang ingin kamu beli beberapa saat lalu.'
^^^^^^Jocasta, 'Bagaimana kamu tau?'^^^^^^
__ADS_1
Erina,'Garvi memberitahuku terakhir kali. Apa benar kamu telah membeli kamera yang kamu inginkan itu?'
^^^Jocasta, 'Tidak, tapi aku mendapatkan yang lebih baik. Itu memiliki gaya yang sedikit kuno namun bagus.'^^^
Rania, 'Jadi kita bisa menggunakannya nanti saat liburan kan?'
^^^Jocasta, ' Tentu, tapi setelah aku puas memotret pemandangan.'^^^
Rania, 'Dasar, mengapa kamu lebih terobsesi memotret pemandangan daripada dirimu sendiri?'
Erina, 'Iya.'
^^^Jocasta, ' Itu karena mereka lebih alami dan cantik kan?'^^^
Rania, 'Kamu lebih cantik tahu?'
Rania, 'Benarkan Erina?'
Erina, 'Iya Benar '
Melihat balasan dari sahabatnya itu Jocasta tersenyum dengan lembut. Kedua sahabatnya memang selalu memperhatikannya, Dia sangat berterima kasih karena itu.
Terutama untuk Rania yang telah menjadi sahabatnya dari kecil karena selalu memiliki kelas yang sama. Bahkan Rania yang telah menghiburnya saat kedua orang tuanya berpisah dulu. Jadi dia lebih percaya dan selalu menghargai persahabatan mereka.
Mereka memutuskan untuk berlibur pun karena mereka jarang keluar bersama sejak Jocasta memiliki kekasih. jadi mereka memutuskan berlibur hanya bertiga agar bisa menghabiskan waktu yang baik bersama.
Membalas pesan temannya untuk segera tidur Jocasta memasuki selimut dan mengatur jam alarm sebelum tertidur.
Jadi saat jam alarm berbunyi, Jocasta yang telah tidur dengan nyenyak bangun dengan sendirinya. Dia menata tempat tidur, mandi, lalu memasak untuk porsi dua orang.
Sebelum berangkat untuk liburan, dia meninggalkan pesan untuk ibunya yang masih bekerja, Meletakkannya di bawah gelas berisi susu kedelai.
Itu berisikan kekhawatiran nya untuk ibunya dan menyuruh ibunya untuk makan dengan baik saat dia liburan. Dia juga meminta maaf tidak bisa menunggu ibunya pulang karena harus berangkat pagi.
Menatap kertas itu, Jocasta sedikit sedih karena jarang bertemu ibunya walau mereka tinggal satu atap. Ibunya yang bekerja malam dan dia yang bekerja pagi.
Menghela nafas untuk menenangkan pikirannya, Jocasta berangkat untuk liburan ke kota B selama tiga hari.
__ADS_1