Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 4


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Melisa fokus kembali untuk menyetir mobil. Barulah saat lampu lalu lintas berubah merah Melisa menoleh pada Ray yang menundukkan kepalanya. Dalam hatinya, saat ini dia tengah memegang kepalanya frustasi dan menyalahkan dirinya sendiri karena marah saat di sekolah tadi. Melisa segera memalingkan wajahnya untuk melihat ke depan. dia merasa akan membuat Ray semakin takut jika tau bahwa dia telah menatapnya lama.


Ray sebenarnya telah menyadari bahwa Melisa melihatnya. Dia takut untuk mendongakkan kepalanya saat ini. Dia sudah bersiap untuk di kritik dan dimarahi, hanya saja suara yang diharapkannya tidak terdengar. merasa ada yang salah, Ray mendongakkan kepalanya sedikit untuk melirik Melisa.


Saat dia melihat ibunya sudah melihat ke depan lagi. Tanda tanya segera memenuhi pikirannya. walau wajah ibunya itu dingin seperti biasanya, sepertinya ibunya tidak berniat untuk marah padanya. Ray mengutak-atik tangannya dengan pikiran yang rumit. Saat dia ingin memulai percakapan dengan ibunya, suaranya seakan hilang. Dia tidak bisa bersuara untuk memulai percakapan. Dia hanya bisa menyerah berkata dan melihat ke arah luar dimana pemandangan berlalu dengan cepat saat ibunya menjalankan mobil ini.


Saat sampai di rumah Melisa memanggil bibi Ifa untuk mengambil kotak obat. Sedangkan melisa Meminta Ray untuk duduk.


Ifa segera mengambil kotak obat dan menyerahkannya pada Melisa, "ini nyonya."


Melisa mengambilnya dan menoleh pada Ray, "terima kasih, bibi bisa pergi untuk meneruskan pekerjaan bibi lagi."


Ifa menunduk sedikit sebelum pergi dengan senyum lembut di bibirnya. 'Sepertinya nyonya Melisa akan mulai memberanikan diri untuk dekat dengan Ray.'


Melisa Melihat wajah Anaknya yang lebam merasa marah. dia seharusnya mempersulit ayah dan anak itu, bukankah hanya meminta maaf itu kurang. Jika itu adalah siswa lain yang statusnya lebih rendah dari mereka, pastinya ayah dari anak itu akan menekannya. memang seperti itulah sekolah itu bekerja, itu akan lebih buruk lagi jika kepala sekolah nya bukan paman Roni.


Dengan pikiran seperti itu wajah Melisa semakin buruk juga, membuat Ray didepannya ketakutan. Ray tidak bisa berpikir tentang sakit nya saat ini. dia hanya berdo'a agar ini berakhir tanpa mendengar kemarahan dari Melisa.


Setelah Melisa memberi obat pada luka Ray. Dia hanya berkata bahwa Ray bisa beristirahat di kamarnya. Sedangkan Melisa terus bekerja di ruang belajarnya dan menangani urusan yang bisa dikerjakan melaluinya. sedangkan untuk penandatanganan dan persetujuan, dia hanya bisa melakukannya besok. jadi sebisa mungkin Melisa mengurus pemindahan Ray dengan cepat. Agar dia bisa pergi ke perusahaan untuk bekerja.


Melisa sedikit khawatir pada Ray, karena sifat anak itu. Melisa asli takut perceraian nya dulu juga memiliki bayangan untuk anak itu, jadi dia sedikit menghindar dari Ray. Walaupun dia peduli pada Ray karena sifatnya pula dia tidak terlalu bisa mengungkapkan kepeduliannya. jadi Melisa saat ini hanya bisa mengusahakan untuk lebih dekat dengan Ray.

__ADS_1


Ia sendiri juga merupakan seorang anak yang dibesarkan orang tua tunggal dan tau betapa rendah diri dan sedihnya karena ayahnya sibuk bekerja. Dia jarang untuk berbicara dan bercerita pada ayahnya karena takut mengganggunya. Sedangkan Ray merasa takut pada Melisa karena wajah dinginnya. Jadi Ray pasti merasa bahwa ibunya tidak pernah menyukainya.


Keesokan harinya Melisa mengurus kepindahan Ray ke sekolah lain, itu adalah sekolah internasional. itu adalah sekolah terbaik dengan aturan yang ketat dan prestasi siswa yang unggul. Karena ada asrama, Melisa membiarkan Ray untuk tinggal di asrama agar sang putra bisa lebih berani dan bisa mengenal banyak orang. Selesai dengan itu Melisa harus mengurus berkas lagi.


Di ruang kelas yang ramai dengan diskusi siswa. Suasana belajar yang kuat terlihat dengan jelas saat ini. Saat bel masuk berbunyi mereka segera kembali ke posisi mereka sendiri dengan tenang dan menghentikan aktivitas mereka untuk menunggu guru datang. Guru akan datang tepat lima menit setelah bel berbunyi, jadi siswa bisa segera siap untuk belajar saat guru sampai.


Kali ini saat guru telah ada di podium, dia tidak segera memulai pembelajaran tapi menoleh ke pintu. Siswa yang penasaran juga menggeser perhatian mereka ke arah yang dilihat guru. mereka bisa melihat bahwa seorang yang tidak mereka kenal tengah ada di sana.


guru mengangguk pada orang itu. orang yang ada di pintu itu juga berjalan ke samping guru dengan tidak tergesa-gesa. baru pada saat itulah para siswa tau bahwa mereka kedatangan murid baru.


"baiklah, kita kedatangan murid baru kali ini, silahkan perkenalkan namamu agar teman-teman kelas anda tau." kata guru itu pada orang disampingnya.


"halo, nama saya Rayen Joan Cardita. Semoga kita menjadi teman baik." kata Ray sambil tersenyum tipis. sebenarnya Ray sangat gugup saat ini. untung saja ibunya menyuruhnya untuk pergi ke sekolah saat lukanya telah sembuh. jika tidak dia akan terlihat buruk saat ini.


"TIDAK...." siswa berbicara dengan serempak dan mengundang tawa dari sekitar.


"Hahaha... jika tidak Rayen bisa menuju ke tempat duduknya, anda duduk di kursi kosong itu." guru menunjuk pada kursi kosong di samping seorang gadis.


" Baik." dengan itu Ray pergi ke tempat duduknya.


Gadis yang duduk disamping Ray tersenyum cerah dan menyambut Ray dengan ceria, "halo nama saya Eshal Nafiya, kamu bisa memanggilku dengan apapun yang kamu suka."

__ADS_1


setelah duduk Ray meletakkan tas dan menoleh ke arah Eshal yang ada di sampingnya, " kamu bisa memanggilku Ray, orang disekitar saya juga memanggil seperti itu."


"aku tidak menyangka akan ada murid baru saat sebentar lagi adalah ujian kenaikan." Eshal itu menatap Ray dengan penasaran, berharap Ray akan bercerita.


Ray langsung mengerti apa yang diinginkan Eshal setelah melihat matanya yang berbinar dengan rasa penasaran. "Ibu yang memindahkan aku."


"Jadi begitu?" kata Eshal kecewa karena jawaban Ray. Walau dia tau tidak boleh terus penasaran pada sesuatu yang ingin dirahasiakan oleh orang lain. Tapi dia tetap cemberut karena rasa penasarannya tidak terpenuhi.


"Maaf" Ray sedikit mengangguk dan memutuskan untuk melihat ke depan karena guru telah memulai pelajarannya.


melihat reaksi Ray, Eshal menghilangkan perasaan kecewanya dan merasa dia telah menganggu Ray.


"tidak apa-apa, tapi ayo terus berteman oke."


Ray menoleh pada Eshal dan tersenyum tipis, "oke"


"yes" Eshal berkata dengan bersemangat. dia bahkan tidak sadar bahwa suaranya terlalu keras dan menganggu penjelasan guru di depan.


segera sebuah tutup pulpen melayang dan mengenai kepalanya diikuti teriakan dari gurunya. "Eshal jagan membuat kebisingan di kelas."


"Hehe, itu tidak sengaja" Eshal tersenyum lebar sambil mengusap kepalanya yang terkena tutup pulpen.

__ADS_1


"perhatikan saat berikutnya." guru itu kemudian melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda itu.


Eshal segera duduk tegak dan mendengarkan guru dengan seksama. Ray menggelengkan kepalanya melihat semua kelakuan teman sebangkunya dan segera tenggelam dalam belajar juga.


__ADS_2