
Beberapa saat yang lalu Melisa telah menyelesaikan tur dan masalah investasi dengan Dekan.
Setelah berpisah dari dekan ia membawa bodyguard dan sekretarisnya untuk pergi makan siang di kantin universitas MT yang terkenal enak. Sekalian mengingat apa yang membuatnya familier dengan nama universitas MT.
Tapi saat sampai di kantin pemandangan di kantin membuatnya tercengang, semua orang mengabaikan pemuda yang tampak sekarat untuk membantu gadis yang sepertinya hanya tergores sedikit. Melihat ini Melisa segera menghampiri pemuda yang hampir pingsan itu dan memerintahkan bodyguard nya untuk mengangkatnya. Mereka pergi ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaannya.
Dalam mobil Melisa menatap pemuda tampan di kursi belakang. Melisa segera mengeluarkan telponnya untuk menelpon sekretaris yang ada di mobil belakang bersama bodyguard.
"telepon rumah sakit terdekat untuk menyiapkan pemeriksaan darurat." Kata melisa sambil bersandar di kursi co-pilot.
"baik bos." kata sekretaris dengan serius.
"hmm.." Melisa kemudian mematikan telpon setelah membuat pengaturan itu.
Melihat pemuda di belakang lagi yang terlihat semakin pucat Melisa menoleh ke bodyguard yang menyetir untuknya.
"ayo, berkendara dengan cepat."
"baik" Bodyguard itu mengangguk dan mengendarainya dengan kecepatan Max yang diperbolehkan.
Setelah sampai penanganan darurat segera dilakukan. dokter memberitahu bahwa pemuda yang diselamatkan Melisa mengalami alergi. Untung saja tidak terlambat untuk membawanya ke rumah sakit.
Setelah konfirmasi Melisa memutuskan kembali ke bangsal pemuda itu. Dia juga melihat asisten nya yang selesai mengurus administrasi. Sekertaris itu hanya membuat laporan, membungkuk lalu undur diri.
Saat sampai di pintu bangsal ia mendengar suara dari dalam, sepertinya teman dari pria itu menjenguknya. Tapi suara di dalam terlihat seperti pertengkaran. Melisa mencoba untuk membuka pintu dan tertegun saat memegang gagang pintu karena percakapan orang didalam. Melisa telah Mendengar nama yang membuatnya tercengang, Ya, nama itu adalah Nico.
__ADS_1
Pemeran yang tidak sengaja ia buat menderita untuk menjadi sebuah pembanding pemeran utama wanita. Itu pula yang membuatnya familiar dengan universitas MT, ini adalah dunia yang tercipta dari tangannya, Novel yang telah menjadi nyata. Melisa telah melupakan nama universitas itu karena penggabungan ingatan dan kesibukannya.
Novel ini bercerita tentang seorang wanita yang melahirkan seorang anak perempuan. wanita itu telah kehilangan suaminya saat dia hamil. dia juga menyusul suaminya dan meninggal karena kehabisan darah saat persalinan. Anak perempuan itu telah menjadi yatim piatu saat lahir.
Disisi lain nyonya keluarga Helingga juga tengah melahirkan anak keduanya. Dia melahirkan seorang putra. Karena seseorang yang memiliki dendam dengan keluarga Helingga Nasib kedua anak itu tertukar. Orang itu menukar bayi perempuan dan membawa bayi laki-laki untuk di buangnya di tempat sepi. untung saja Bayi laki-laki itu telah ditemukan oleh seorang dekan panti asuhan dan dibesarkan bersama anak-anak lainnya.
Keluarga Helingga saat itu sangat senang karena bayi mereka perempuan. Mereka telah memiliki anak laki-laki sebelumnya jadi mereka sangat senang memiliki gadis tambahan dirumah mereka di masa depan. Mereka menamainya Fiolyn Nisa Helingga.
Saat Fiolyn berusia 10 tahun mereka tahu bahwa Fiolyn bukan anak mereka. walau orang itu telah membungkam perawat dan bidan yang telah mengetahui kejadian beberapa tahun lalu. sama sekali tidak sulit untuk keluarga Helingga tau. Tapi Mereka sangat menyayangi Fiolyn jadi mereka bahkan menyembunyikan kebenaran ini dari Fiolyn agar dia tidak sedih.
Namun itu tak bertahan lama. Fiolyn yang tau bahwa dia bukan anak kandung ayah dan ibunya menangis dan mengurung dirinya semalaman. Ibunya yang telah menyayangi Fiolyn bahkan berkata tidak akan mencari anak kandungnya agar Fiolyn tidak merasa tidak nyaman. Mendengar itu Fiolyn keluar dan berkata dia akan merasa bersalah jika mereka melupakan anak kandungnya.
Jadi keluarga Helingga membawa anak mereka kembali agar Fiolyn tidak merasa bersalah karena menggantikan tempatnya. Meski mereka membawanya pulang, demi menjaga identitas anak Fiolyn mereka memberi tahu publik bahwa mereka mengadopsi Nico.
Sangat berbeda dengan Nico anak kandung dari keluarga Helingga. Dia tumbuh di panti asuhan, dan telah dewasa sebelum waktunya. walau memiliki prestasi akademik yang baik tapi untuk membantu adik-adiknya di panti, ia akan memilih bekerja dan sering bolos saat di sekolah. Ini juga yang membuat keluarga Helingga tidak menyukai Nico dan menganggapnya sebagai anak yang nakal.
Nico yang saat itu diadopsi merasa senang, dia telah banyak berharap untuk keluarganya di masa depan. Namun fantasinya hancur karena semua orang dalam keluarga Helingga membencinya. Adanya dia di keluarga Helingga membuat Fiolyn Mengingat bahwa Fiolyn bukan anak keluarga Helingga. Dia juga sering dimarahi karena nilainya lebih banyak dari Fiolyn dan membuatnya menangis. Masih banyak lagi sampai ia memutuskan hubungan dengan keluarga Helingga saat lulus dari Universitas.
Ia sukses tapi untuk melengkapi cerita lagi, terjadi kecelakaan. Nico dan Fiolyn diculik bersama. Keluarga Helingga juga meminta bantuan polisi untuk menolong mereka. Karena panik penculik memilih membakar rumah yang berisi kedua orang itu dan melarikan diri. Fiolyn langsung diselamatkan sedangkan Nico meninggal karena dilupakan. Nico terbakar bersama rumah itu.
Melisa juga sedih untuk karakter ini. Karena Tulisan tangannya telah membuat karakter seperti itu. Dia dulu tidak akan peduli pada karakter yang telah dia buat menderita karena tau itu hanya pelengkap cerita. namun melihat karakter itu langsung membuat nya merasa bersalah. dia marah pada dirinya sendiri melebihi kemarahannya pada orang-orang yang telah menyakiti Nico. Karena semua penderitaan Nico adalah sesuatu yang telah dia buat.
Di dalam bangsal beberapa saat yang lalu.
Pintu terbuka dengan keras diikuti dua orang pemuda yang masuk dengan agresif membuat pemuda tampan yang tengah memejamkan mata itu membuka matanya karena terkejut.
__ADS_1
Pemuda terakhir menutup pintu sebelum berjalan mengikuti dua temannya didepan. Seorang di tengah kini menatap pemuda di brankar dan berbicara padanya, “Nico kamu sudah bangun”
“Toni apakah kamu yang membawa saya ke rumah sakit,” Niko duduk perlahan tersenyum pada teman-temannya ini.
“itu tidak penting, yang terpenting sekarang, kamu harus ikut kembali ke kampus untuk minta maaf pada Fiolyn” Toni pemuda di tengah itu berbicara kasar pada Nico.
Nico yang mengingat suara sepatu hak tinggi yang terdengar sebelum kesadarannya hilang mulai tersenyum sinis, Nico sudah tau ini akan terjadi, mereka bersahabat dengannya hanya karena ia adalah kakak Fiolyn, mereka ingin dekat dengan Fiolyn. Bahkan keluarga Helingga pun membuat nya meminta maaf untuk apa yang tidak pernah ia perbuat jika menyangkut Fiolyn. “apakah kamu hanya ingin berbicara tentang ini.”
“Tentu saja, untuk apa lagi, cepat.” Toni tidak sabar dan mulai mengulurkan tangannya untuk menarik Nico. Dia sangat ingin menyeret Nico dan membuatnya meminta maaf pada Fiolyn.
“tapi aku tidak bersalah.” Nico membantah sambil mempertahankan dirinya agar tidak tertarik oleh Toni.
“APA??? Kamu sudah membuatnya jatuh, cepat berdiri.” Toni meninggikan suaranya membuat Nico kaget.
“Aku terkena alergi ...”
Sebelum Nico selesai Toni memotong ucapannya sambil melotot pada Nico.
“apa kamu menuduh Fiolyn sengaja memberi anda kue yang membuat kamu alergi”
“Fiolyn juga tahu bahwa saya alergi kacang, dan memberi...”
“Cukup, itu salah kamu karena tidak memastikan” sambil berkata demikian Toni menambah kekuatan pada tarikannya yang membuat Nico terjatuh dari brankarnya.
Saat itu pula pintu terbuka diikuti suara hak tinggi yang familier di telinga Nico.
__ADS_1