Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 22


__ADS_3

Pulang dari kejadian itu, Melisa berpikir untuk mencantumkan nama Nico di daftar keluarganya. Dia akan membuat Nico menjadi anaknya sungguhan. Dia juga akan mempersiapkan kejutan yang akan diberikannya saat Ulang tahunnya nanti.


Disisi lain Vino Masuk ke rumah dan melihat orang tuanya tengah menunggu mereka. Dengan cepat dia duduk didepan orang tuanya dan mulai berbicara, "Ayah dan ibu, apa benar kalian mengeluarkan Nico dari keluarga ini?"


Senyum yang ada di bibir kedua orang tua itu memudar saat mendengar kata yang diucapkan Vino dan melihat Fiolyn memiliki mata merah yang didapatnya setelah menangis.


Sang ibu yang telah membenci keberadaan Nico langsung mencibir, "Itu karena dia ingin pergi secara sukarela pada wanita itu. Jangan menyebutnya lagi di rumah ini."


"Tapi ibu, dia tetap anggota keluarga ini." Vino juga sedikit bingung mengapa orang tuanya seperti ini.


Menghela nafas Ayah keluarga Helingga meminum teh di cangkirnya sebelum menjawab, "Jangan membicarakan ini lagi. Nyonya Melisa telah memberikan uang untuk proyek dan memprioritaskan kita untuk membeli tanah itu. Dia hanya memberi syarat untuk mengeluarkan Nico dari keluarga Helingga. Masalah ini telah selesai saat itu."


"Ayah itu tidak benar." Vino berkata dengan suara yang keras dan marah.


Sang ibu kemudian sedih karena perkelahian ini segera berkata, "Sudah Vino, jangan menyalahkan ayahmu. Ayahmu melakukan ini juga untuk kebahagiaan Fiolyn."


"Benar, dengan kesenjangan kita dan keluarga Grahadi bagaimana jika Fiolyn dipandang rendah oleh orang luar. Ayah hanya ingin kita bisa menjadi pelindung Fiolyn." Sang ayah menghela nafas lelah. Lagi pula Nico itu juga selalu membuat Fiolyn sedih bukankah baik jika dia bisa keluar dengan cepat.


Vino yang mendengar itu hanya bisa menelan ketidak puasannya dan diam. Dia mungkin tidak menyukai Nico tapi dia jugalah keluarganya. Dia tidak mungkin meninggalkannya dipaksa untuk tinggal dengan orang kejam itu.


Menurut Vino, yang telah mendengar banyak. Melisa adalah orang yang acuh dan berdarah dingin. bukankah dia dahulu juga ditinggalkan oleh suaminya karena itu. Dia juga bahkan tidak memiliki kesedihan dan keengganan saat suaminya bercerai.


mana mungkin orang yang tidak berperasaan itu akan memperlakukan Nico dengan baik. Jika Melisa mendengar apa yang dipikirkannya, Melisa akan berkata betapa munafik nya Vino. Karena di keluarga Helingga tidak ada orang yang benar-benar mengulurkan tangannya pada Nico di buku yang ditulisnya.

__ADS_1


Vino berpikir kalau dia lebih baik berbicara pada Nico secara langsung.


Hari ini adalah hari terakhir ujian. Ray keluar dari ruang kelas dengan lega, Eshal disampingnya juga melompat dengan gembira karena dia bisa istirahat dari belajar.


Mereka bisa bersantai beberapa saat tanpa ada pelajaran sampai pengambilan raport. Namun karena sekolah masih berjalan seperti biasa, mereka tidak bisa bolos. Jadi bahkan Ray tidak bisa datang untuk membuat kejutan untuk ulang tahun kak Nico bersama ibunya.


"Ray, kamu bilang bahwa kak Nico akan ulang tahun kan?" Eshal bertanya dengan penasaran.


"Iya." Ray melihat temannya dan ingin mendengar apa yang akan diucapkan selanjutnya.


"Karena kita tidak bisa datang, bagaimana jika kita membuat hadiah dan membiarkan ibumu memberikannya pada kak Nico atas nama kita?" Eshal berkata dengan semangat.


Berpikir sebentar, Ray merasa ide Eshal bagus. Jadi dia menganggukkan kepalanya dan menyetujui ajakan Eshal.


Melisa mengingat sebuah cerita yang dia sisipkan pada novelnya tentang Nico. Yang tidak diketahui orang adalah Nico sangat menyukai piano. Saat di panti asuhan dulu, ada seorang kakek yang selalu pergi ke panti untuk bermain bersama anak-anak. Karena Nico adalah anak yang menyendiri dan jauh dari anak lain, jadi kakek itu menghampirinya.


Duduk dibawah pohon yang rindang, kakek itu mendekati Nico kecil dan bertanya, "Mengapa kamu tidak bermain bersama yang lainnya?"


Nico kecil mendongak untuk melihat orang yang berbicara padanya. lalu menjawab, "Tidak ada yang ingin bermain denganku, untuk apa anda berbicara padaku. pergi saja."


Kakek itu tersenyum sambil terus berusaha menarik minat anak yang tertutup ini, "Mengapa mengusirku? Pantas saja anak lain tidak dekat denganmu." Kakek itu bercanda dengan wajah serius.


Nico yang mendengarnya hampir meneteskan air matanya, "Itu bukan karena ku, mereka sendiri yang menjauhiku. memangnya aku ingin."

__ADS_1


"Hey, mengapa kamu ingin menangis. jangan menangis, saya akan mengabulkan permintaanmu." Kakek itu berkata lembut.


Nico kecil berpikir dan bertanya, "Apa pekerjaan kakek? Aku akan meminta sesuatu yang bisa kakek berikan."


Kakek itu menaikkan alisnya dengan lengkungan, senang karena pikiran hati-hati anak disampingnya. "saya pernah menjadi musisi piano, sekarang saya tidak melakukan apa-apa. Jadi kesini saja untuk bermain bersama anak-anak."


Mendengarnya Mata Nico berbinar. "Bisakah kakek mengajariku, aku selalu ingin belajar musik."


"Bisa. Namun saat kamu sudah mulai, jangan pernah berhenti di tengah jalan." Kakek itu berkata serius.


"iya, aku tidak akan." Nico kecil menganggukkan kepalanya dengan senang.


Jadi dengan bimbingan dari kakek itu Nico belajar dengan cepat. Kakek juga tau bahwa Nico berbakat untuk ini.


Nico sendiri sangat menyukai dan senang dengan setiap pelajaran. Dia selalu menunggu hari untuk latihan piano. Saat menyentuh piano Nico akan merasa senang. Kakek berkata setiap lagu akan memiliki arti berbeda karena Pianis berbeda. Sama seperti orang yang menyamakan lirik lagu tertentu yang sesuai dengan kehidupannya dan orang lain juga merasa begitu.


Kakek sangat baik pada Nico kecil yang membuatnya juga menyayanginya. Namun suatu hari kakek itu tidak datang lagi. Nico kecil menunggunya terus-menerus, Namun dia tidak pernah datang di hari-hari selanjutnya.


Saat Nico tidak lagi mendengar tentangnya, Nico pergi ke kantor dekan untuk menanyakan tentang kakek itu. Dekan dengan sedih memberitahu Nico bahwa kakek itu telah meninggal. Saat itu Nico menangis dan berlari ke belakang panti asuhan dan menyendiri. Dia sedih karena orang yang peduli padanya telah pergi.


Nico juga telah menganggap kakek itu sebagai kakeknya, tapi selalu saja sesuatu yang buruk terus terjadi di sekelilingnya. Dari saat itu dia menahan untuk tidak lagi memegang piano. walau dia berjanji tidak akan pernah berhenti pada kakek, namun dia tidak mungkin membayar untuk tutor juga.


Kerinduan akan keluarga yang ada pada diri Nico juga karena kakeknya. Itulah mengapa dia selalu berharap keluarga Helingga juga akan baik padanya. Dia telah merindukan apa itu keluarga yang akan mendukungnya dan menemaninya saat tergelap nya, namun keluarga Helingga malah akan terus mendorongnya menuju kegelapan itu.

__ADS_1


__ADS_2