Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 11


__ADS_3

Karena hari ini adalah hari sabtu, Nico yang tidak memiliki kelas memutuskan untuk pergi ke panti asuhan untuk mengunjungi dekan.


dia segera bersiap setelah bangun, mandi, dan berpakaian. Nico turun untuk sarapan terlebih dahulu. di meja makan Nico bisa melihat Melisa sudah ada di sana. Dengan perhatian, Melisa membaca buku di tangannya. Nico bisa melihat bahwa itu adalah sebuah ensiklopedia.


Nico yang menuju ke arah meja menyapa Melisa, "selamat pagi."


Melisa segera mendongak dari bukunya dan melihat Nico yang menuju ke arahnya. melisa menjawab sapaan itu, "selamat pagi juga. kamu bisa menyibukkan diri dulu, Ray belum turun saat ini."


"iya." Nico duduk di kursinya dan dengan tubuh lurus dia menunggu tanpa melakukan apapun. Dia sendiri merasa bahwa ini bukan rumahnya jadi dia tidak nyaman jika dia santai.


Tidak lama mereka menunggu, Ray juga turun menuju meja makan. Ray merasa dia masih mengantuk saat ini. dia bangun seperempat jam lebih awal daripada biasanya karena telpon dari Eshal. temannya itu mengajaknya ke bazar dari sekolah SHS. Saat akan menolak, Eshal telah mengancamnya dan membuat suara menyedihkan untuk membuatnya ikut. Jadi dia dengan terpaksa bangun dari kasurnya dan mandi.


Teman Eshal yang bersekolah di SHS juga berpartisipasi dalam bazar dan membuat Eshal ingin mendukung toko sahabatnya. itulah alasan dia mengajak Ray untuk menemaninya. dia merasa akan kesepian jika sahabatnya sedang sibuk.


Ray duduk dengan kusam saat ini, jika tidak bangun secara alami dan dibangunkan. walau dia dibangunkan sepuluh menit sebelumnya pun, akan membuatnya merasa tidurnya terganggu.


Jadi dengan Ray yang sudah ada di meja makan, mereka memutuskan untuk mulai sarapan. tidak ada suara disepanjang nya dan sarapan dihabiskan dengan tenang.


Melisa yang selesai makan mengalihkan pandangannya ke arah Ray. bertanya, "kamu mau ke mana? sangat jarang kamu berpakaian seperti ini jika hanya dirumah."


Ray menundukkan kepalanya dan melihat pakaian Kasual yang dipakainya. karena Ray sendiri akan memakai pakaian santai jika dirumah. Jadi dia mengerti ibunya tau bahwa dia akan keluar. "aku akan pergi bersama teman ke bazar di sekolah SHS, apakah boleh ibu?"


Tentu saja bagaimana Melisa menolak untuk Ray yang ingin terbuka dan keluar bersama temannya. "boleh, apa ibu perlu untuk mengantarmu?"


Ray menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak perlu, Temanku berkata bahwa dia akan ke sini."

__ADS_1


Dengan selesainya perkataan Ray, petugas keamanan menelpon bahwa ada mobil yang datang. Orang yang ada di dalamnya berkata ingin mencari Ray. Jadi Ray bergegas keluar juga, "Ray pergi dulu ibu."


"Iya, hati-hati di jalan." Dengan senyum diwajahnya Melisa segera menatap Nico juga.


Melisa melihat Nico yang terus membuka tutup mulutnya dan sepertinya akan berbicara. Nico sepertinya ragu untuk menyela. Melisa hampir tertawa melihatnya yang seperti anjing yang ditinggalkan. jika Nico memiliki telinga di atas kepalanya dan ekor dibelakang dia sudah bisa membayangkan bahwa itu terkulai saat ini.


Melisa memutuskan untuk mengambil inisiatif bertanya, "jadi, apa Nico juga ingin pergi keluar?"


"ah iya. aku ingin mengunjungi panti asuhan tempatku tinggal dulu." Nico mengangkat kepalanya dan melihat reaksi Melisa terhadap perkataannya.


"apa aku perlu mengantarmu?" Melisa menyetujuinya dengan mudah.


"tidak perlu, saya bisa pergi dengan bus." Nico menolak dengan cepat.


"terima kasih." Nico mengangguk dengan sopan. jika Melisa memang berkata ingin mengantarnya sekali lagi, dia tidak akan bisa menolak. dia masih merasa dia akan lebih nyaman pergi sendiri dengan bus daripada dengan mobil Melisa.


"tidak perlu berterimakasih." Melisa meninggalkan kartu dan pin di kertas untuk Nico. Berharap Nico bisa mempertimbangkan naik taksi atau mobil online. untuk Ray tentu saja dia sudah punya.


Melisa segera pergi juga untuk ke perusahaan. meninggalkan Nico yang tercengang melihat Kartu itu.


Setelah sadar, Melisa telah pergi. jadi melihat bibi Ifa dari sudut matanya. dia segera menyerahkan kartu padanya. "bibi bisakah anda memberikan ini ke nyonya Melisa? saya tidak bisa menerimanya."


Bibi Ifa mendorong kartu kearah Nico, "Nyonya telah memberikannya pada anda, jadi pakai saja dengan nyaman."


Bibi ifa juga pergi untuk melanjutkan rutinitasnya. Nico yang masih berdiri di sana, dengan gemetar di tangannya memasukkan kartu itu kedalam dompetnya. dia tidak akan memakainya dan segera mengembalikannya.

__ADS_1


Melisa yang telah dalam perjalanan ke perusahaan tersenyum ringan. sepertinya Nico akan merasa terbebani dan Melisa telah membayangkan wajahnya yang lucu. Dengan itu dia juga akan membuatnya mau berhenti dari kerja paruh waktunya.


Nico yang merasa tertekan bersandar di kursi bus saat ini. melihat pemandangan yang berlalu dengan cepat. sinar matahari menyinari kaca dan membuatnya menyipitkan mata karena cahaya. Bus melaju cepat dan segera sampai di halte dekat panti asuhan. Nico segera turun untuk menuju panti asuhan yang telah lama tidak dia kunjungi. dia terlalu sibuk dengan pekerjaan paruh waktu dan membuatnya menjadi jarang untuk bisa datang ke sini.


Saat sampai dia melihat dekan panti asuhan yang selalu baik padanya. Dekan melihat Nico dan mengajaknya untuk pergi ke bawah pohon besar dihalaman untuk berbincang. Sambil melihat anak-anak yang bermain dengan gembira disekitarnya.


"Apakah ada masalah, keluarga anda baik kepadamu kan." dekan bertanya dengan prihatin. karena dia mengetahui seperti apa keluarga Helingga memperlakukan Nico. Dia juga tidak bisa membelanya karena Nico sendiri adalah anak kandung mereka, dan Nico telah dewasa untuknya bisa membantunya.


"tidak apa-apa, aku sudah keluar dari sana." Nico tersenyum ringan menanggapi perkataan dekan.


"apakah mereka menyetujuinya?" Dekan bertanya karena dia tau keluarga Helingga tidak akan melepaskan Nico dengan mudah. selain karena untuk menjaga martabat mereka diluar, juga untuk membuat Fiolyn merasa tenang.


"Mereka telah mendapat kesepakatan yang lebih baik, bagaimana mereka tidak melepaskan." Nico menundukkan kepalanya. bulu matanya terkulai dan matanya menunjukkan kesedihan yang tersamar.


Melihatnya dekan tidak terus berbicara mengenai itu. dia mengalihkan topik tentang anak-anak di panti asuhan. walau Nico banyak menderita karena teman panti asuhannya. Dia tetap menyayangi anak-anak itu. mereka bukan orang yang membuatnya menderita dan tidak seharusnya dia melampiaskan pada mereka. jadi Nico juga melupakan percakapan sebelumnya dan berbincang tentang anak-anak itu.


"kapan kak Nico selesai berbicara dengan Dekan?" Seorang anak menghampiri Nico untuk bertanya.


"Benar kami ingin bermain dengan kak Nico." teman dari anak itu juga berbicara dengan antusias.


"Baiklah, dekan tidak akan mengikat Kakak kalian lagi disini." Dekan tersenyum pada anak-anak itu.


Anak-anak itu bersorak dan menarik Nico untuk bergabung dengan mereka. Nico sendiri juga senang saat ini, hanya disini dia bisa merasakan ketenangan semenjak dia ke keluarga Helingga. Walau kenangan disini saat kecilnya sangat buruk tidak menutupi fakta bahwa dia bisa merasa tenang disini.


Walau perasaan itu tidak menyenangkan. Dia merasa dia tidak bisa bahagia karena ini dan merasa kesedihan akan ada setelah pergi dari sini. Namun dia bisa membuat anak-anak itu bahagia. Jadi Nico tidak apa-apa dengan itu.

__ADS_1


__ADS_2