
Keesokan harinya Berita menjadi semakin buruk. Ada orang yang melihat Nico mengusir Fiolyn, mereka merasa Fiolyn adalah orang yang baik dan manis tapi gadis itu diperlakukan buruk oleh Nico. Mereka merasa Nico memanglah orang yang buruk dan menjauhinya seperti wabah.
Dengan semakin buruknya itu, Dekan memanggil Nico ke kantornya. Nico yang saat ini dipanggil merasa takut untuk datang. Dia telah membuat keributan di universitas yang tenang ini. Pasti Dekan akan memarahinya kan.
Jadi, Sebelum dekan mulai berbicara maksudnya memanggil Nico. Nico membungkukkan badannya dan berkata, "Maaf, Saya telah membuat keributan dan mencemari nama universitas."
Melihat Nico yang seperti itu, Ikhsan tersenyum. Dia merasa sepertinya anak bau itu telah memilih orang yang baik untuk disampingnya. "Saya tidak akan memarahi anda. Saya hanya ingin memberitahu, anda bisa mengambil cuti terlebih dahulu karena rumor. Jangan sampai kamu menjadi terpengaruh karenanya."
Nico yang menangkap maksud lain dari dekan segera panik. jika dia dikeluarkan atau di drop out bukankah dia akan mencemari nama nyonya Melisa. "Itu, Dekan saya tidak apa-apa."
Ikhsan sekilas melihat kekhawatiran yang dipikirkan Nico dan menghela nafas tidak berdaya. "Kamu hanya harus tenang, Kamu bisa masuk lagi jika rumor sudah sedikit surut."
Mendengar itu Nico menghela nafas lega. "Saya tidak apa-apa. saya tidak terlalu memperhatikan rumor itu, saya bisa sekolah seperti biasa." Dalam hati dia tidak ingin Melisa menghawatirkan dirinya.
"Benar, kemana bocah bau itu, Melisa." Ikhsan berkata dengan sedikit kesal. Dia hanya datang sekali setelah meminta tolong waktu itu. Sekarang dia bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya saat pria kecil ini mendapat masalah.
"Nyonya Melisa sedang pergi ke luar kota karena pekerjaan." Nico menjawab dengan sedikit penasaran. Sepertinya Dekan Ikhsan mengenal Nyonya Melisa.
Mendengar sebutan dari pria didepannya, Ikhsan marah dan memukul meja. "Apa tadi yang kamu panggil, Apa dia yang menyuruhmu memanggil begitu?"
"Ah... Tidak? Nyonya melisa berkata untuk memanggil apapun yang saya nyaman." Nico sedikit takut karena suara Ikhsan memukul meja. Dia merasa Ikhsan marah saat ini. Apa dia salah lagi dengan panggilan itu?
"Mengapa menyebutnya Nyonya, panggil saja dengan namanya. Dia tidak akan terlalu mempermasalahkannya." Ikhsan berkata dengan kuat. Dia harus mengajari pria kecil ini untuk dekat. Dari yang terlihat Pria ini memiliki perasaan pada Melisa. Mengapa masih memanggil dengan sesuatu yang membuat jauh seperti itu.
"Ta-tapi Dekan." Nico panik saat ini. Dia merasa pusing memikirkan apa yang dikatakan Dekan.
__ADS_1
"Panggil saja dengan nama. Coba?" Dekan melihat pria didepannya.
"M-Melisa." Dengan desakan dekan, Nico benar-benar menyebut namanya tanpa gelar apapun. itu membuatnya pusing sehingga dia bahkan tidak memikirkan sekitarnya.
Dekan dengan puas menyuruh Nico keluar. Karena dia adalah sahabat dari ayah Melisa, dia harus membantu percintaan mereka juga kan.
Nico keluar dari kantor dekan dengan pusing. Sampai diluar barulah dia sadar apa yang dilakukannya. Dengan senyum ringan dia menyentuh bibirnya.
Dia masih tidak menyangka kata itu keluar dari mulutnya. Perasaan itu tidak buruk sama sekali. Mengingat Melisa lagi, Nico merasa senang dan lebih tenang sekarang. Sepertinya dia akan bisa melewati semua ini.
Dekan didalam ruangan mengeluarkan telponnya dan segera menelepon Melisa. Sepertinya Anak itu bahkan tidak tau masalah apa yang dialami Nico sama sekali.
Dengan dering telpon, Melisa yang telah lama tenggelam dengan berkas mengangkat kepalanya. Memandang Smartphone yang ada didepannya menunjukan nama paman Ikhsan, dia segera mengangkatnya. "Halo, paman."
"Paman, saya sibuk. Sangat sulit untuk menyelesaikan ini secepatnya tanpa saya harus merelakan beberapa jam istirahat." Melisa memijat tengah alisnya yang sakit.
"Kekasih kamu dalam masalah beberapa waktu ini, apa kamu bahkan tidak tau?" Dekan Ikhsan Mengernyit tidak senang mendengarkan nada melisa.
"Aku tau dia dalam masalah saat bibi Ifa menelpon beberapa saat lalu, jadi saya akan menyelesaikan masalah di sini secepatnya." Melisa bersandar ke kursinya dan beristirahat sejenak. Dia bahkan tidak sadar saat dekan mengunakan gelar kekasih untuk menyebutkan Nico.
"Baiklah jika kamu tau, Jangan terlalu memaksakan diri. Jika kamu sakit di tempat jauh, itu akan merepotkan." Paman Ikhsan sedikit melunakkan nada suaranya ketika berbicara.
"Baiklah paman, saya akan menitipkan pada paman dulu. Saya akan menutup teleponnya." Melisa menghela nafas lelah.
"Iya, luangkan waktu untuk istirahat." Dengan perkataan itu dekan Ikhsan menutup telepon. Dia sedikit menghawatirkan keadaan saat ini. Melisa terlihat lelah dalam suaranya. Jika dia tidak istirahat dengan baik, dia akan roboh jika terus seperti itu.
__ADS_1
Melisa sendiri tengah memejamkan matanya sebentar. Mendengar pintu terbuka didepannya, dia mendongak dan mendapati sekretaris masuk untuk menyampaikan dokumen.
Sekretaris melihat Melisa yang sedikit pucat dan kuyu merasa tertekan untuk bosnya ini. Pasalnya karena telepon dari rumah beberapa saat lalu, Bos terus mempercepat penanganan di perusahaan ini.
Bos sepertinya ingin segera menangani krisis dalam perusahaan sebelum bergegas pulang untuk menangani masalah lain. "Bos apa anda tidak akan istirahat dahulu. Anda akan tumbang jika anda terus seperti ini."
Melihat kekhawatiran dalam nada suara sekretaris itu, Melisa tersenyum, "Tidak apa-apa. Saya akan mempercepat masalah ini."
"Apa bos?? Karyawan juga akan kelelahan jika anda memberikan pekerjaan berintensitas tinggi." Sekretaris tercengang dengan perkataan bosnya. Karena para karyawan telah mengeluh bekerja lembur belakangan.
"Mengapa seperti itu, saya masih memperbolehkan mereka pulang saat jam pulang selesai kan?" Melisa berkata bingung. pasalnya walau dia ingin bekerja dengan cepat dan segera pulang, dia tidak akan membuat karyawan itu juga pulang larut dan melanggar hak mereka.
"Tapi karena bos masih bekerja, bagaimana mereka berani untuk pulang duluan." Sekretaris menjawab dengan tidak berdaya.
"Apa seperti itu." pantas saja melisa merasa belakangan ini perusahaan sedikit ramai dimalam hari. "Beri mereka tambahan bonus saat akhir tahun kalau begitu."
"Bos memang baik." Sekretaris mendengarkan perkataan melisa dan merasa matanya berbinar. Karena dia adalah salah satu yang akan di tambahkan bonus, bagaimana dia tidak senang.
"Baiklah, kamu bisa keluar. Aku akan mengusahakan pulang cepat nanti, jangan sampai mereka mengumpat saya karena mereka kesal." Melisa segera mengusir sekretaris itu dan akan tenggelam lagi pada berkas didepannya.
"Baik bos. Saya akan lebih giat." Sekretaris keluar dari pintu dengan gembira.
Dia membuka DZ dan mengirim pada grup kantor tentang percakapan tadi. Dia memberitahu bahwa bos akan mengusahakan untuk pulang awal nanti, jadi mereka tidak perlu lembur lagi.
Para anggota di grup bersukacita saat ini. Mereka senang merayakannya tanpa tau bahwa mereka memang bisa pulang cepat namun mereka akan memiliki pekerjaan yang lebih banyak dari sebelumnya.
__ADS_1