Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 2


__ADS_3

Sinar matahari menembus celah tirai dan mengenai sosok yang ada di tempat tidur besar. Merasa terganggu dengan cahaya itu Melisa perlahan duduk dan meregangkan tubuhnya sebelum mematung.


Pasalnya kini ia tengah berada di kasur yang empuk dan lembut, kamar ini juga sangat luas dan mewah. Sangat beda dari kontrakannya.


Melisa sempat berpikir apakah ini transmigrasi yang legendaris itu. Tapi dia sama sekali tidak meninggal. Tentu saja dari banyak novel yang pernah ia baca ada pula yang tidur dan pergi transmigrasi tapi tidak seperti ini.


Di tengah kebingungannya sebuah suara mengejutkannya.


“halo host. ” suara manis yang kaku terdengar.


“ah, apa ini sistem? apa saya sudah meninggal? ” Melisa berkata dengan bertubi-tubi. Melisa juga terus menoleh sekelilingnya untuk memastikan bahwa memang tidak ada orang selain dirinya di kamar itu.


“ya, saya pemandu untuk host, sedangkan pertanyaan ke dua, jawabannya tidak, anda belum mati.” kata sistem dengan riang.


“lalu bisakah kembalikan saya, cari saja orang lain.” Jawab Melisa yang tengah menenangkan pikirannya.


“Hmm.. tidak bisa, dan keinginan dari tubuh host adalah menumbuhkan ahli waris untuk perusahaan dan kekayaannya. Selebihnya itu hidup sesuai keinginan host, bukankah itu menyenangkan.” Sistem itu memaksa dan terus berbicara.


“saya tidak mau” kata Melisa tegas karena mengingat ada orang yang akan menghawatirkan dirinya.


“tidak perlu menolak, saya hanya pemandu awal jadi saya akan pergi setelah mengirim ingatan pemilik asli, buat cerita yang bagus.” dengan itu sistem pergi.


Melisa yang ditinggalkan oleh sistem Merasa bahwa dia tidak memiliki hak suara sama sekali.

__ADS_1


'dasar sistem tidak bertanggung jawab' gerutu Melisa didalam hati dengan tidak puas.


Saat sudah tenang tiba-tiba Melisa merasa pusing dan mendapatkan memori dari pemilik asli tubuh ini. Itu benar-benar tanpa peringatan sama sekali yang membuatnya mengumpat untuk sistem berulangkali dalam hatinya.


Setelah pusing itu mereda Melisa segera menyusun ingatan. Melisa tahu bahwa pemilik tubuh ini memiliki banyak kesamaan dengannya yang membuatnya bersyukur untuk tidak harus menyesuaikan sifat tubuh dahulu.


Nama mereka juga sama Melisa Febia Cardita, ia juga memiliki sikap serius pada pekerjaan dan sifat acuh pada orang asing, lembut dan perhatian pada orang yang dia sayangi. Yang membedakan mereka adalah Melisa ini sangat kaya, ia adalah pemilik perusahaan besar. Ia sekarang berusia 40 tahun dan satu anak laki-laki berusia 13 tahun, anak itu sangat pendiam dan pemalu sehingga saat pemilik aslinya meninggal beberapa tahun kemudian karena kecelakaan, anak itu yang berada di tengah pusat perebutan saham memutuskan untuk menyerah. Karena kekacauan itu juga harga saham perusahaan anjlok dan mengalami kerugian.


sistem itu menginginkannya untuk menumbuhkan ahli waris yang kompeten. Mungkin pemilik tubuh menyayangkan kejadian tersebut. pasalnya dari ingatan dia tau bahwa perusahaan ini adalah perusahaan yang dikembangkan oleh almarhum kakeknya dulu.


Melisa menutupi wajahnya. Ingatan itu detail untuk ingatan sampai sekarang, tapi ingatan masa depan yang sedikit bocor itu kabur. Ia tau tubuh ini memiliki takdir kecelakaan tapi ia tidak tau kapan tepatnya. Melisa kemudian ke kamar mandi. Saat melewati kaca ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan jalan dan mandi. Wajah itu memang wajahnya. Itu terlihat dewasa, tapi tidak setua umur dari tubuh ini, wajahnya masih seperti usia awal 30-an.


Setelah memakai pakaian nya Melisa turun ke bawah untuk sarapan karena kamarnya memang ada di lantai dua. bibi Ifa juga telah selesai memasak dan mulai menatanya ke meja.


Saat Melisa duduk, Ray anak Melisa juga turun untuk makan. Ray telah siap dengan seragam lengkapnya. Dia turun dengan menundukkan kepalanya.


Melisa makan dengan tenang. Sebenarnya dia sangat ingin berbicara kepada Ray agar dia juga bisa dekat dan cepat menyelesaikan tugas sistem yang tidak masuk akal itu. Tapi dia sangat canggung saat ini, dia belum terbiasa sama sekali dengan semuanya.


Di rumah besar ini, bibi Ifa bertugas untuk memasak dan pelayan utama di rumah ini, dia juga yang membersihkan kamar yang dipakai. Sedangkan untuk bersih-bersih lainnya akan ada pelayan datang saat pagi dan membersihkan sebelum pergi.


Ada juga paman Rahmad suami bibi Ifa yang seorang tukang kebun disini. Dia sangat mencintai tanaman dan memperhatikan mereka.


Mereka berdua telah lama bekerja disini. Karena mereka tidak memiliki anak, mereka sangat menyayangi Ray. jadi walaupun Ray selalu ditinggal oleh ibunya, dia tidak merasa sendirian di sini.

__ADS_1


Sarapan selesai dengan tenang. Melisa segera beranjak untuk berangkat bekerja. Biasanya Melisa asli menyetir sendiri saat berangkat bekerja karena supir itu akan mengantar Ray. Namun karena Melisa sendiri tidak bisa menyetir mobil, dia memutuskan untuk berangkat bersama Ray.


Setelah selesai mengantar Ray barulah Melisa berangkat ke perusahaannya. Dari ingatan Melisa, dia telah menebak bahwa yang akan menunggu di kantornya nanti adalah berkas-berkas yang menumpuk. Dan dia menebaknya dengan benar. Di dalam ruangan terdapat meja dengan banyak berkas diatasnya.


Berkas itu menumpuk dengan banyak. Untung saja berkat ingatan pemilik aslinya, Melisa bisa menangani semua urusan yang ada di mejanya.


Dia tidak bisa berpikir bagaimana bisa Melisa dahulu bertahan untuk mengerjakan semua ini. Melisa yang dulu bahkan tidak memiliki waktu untuk keluar dan menikmati waktu untuk dirinya sendiri, kecuali saat bersosialisasi dan membicarakan bisnis dengan kliennya.


Pantas saja Ray tidak terlalu dekat dengan ibunya. Melisa yang dulu juga canggung dengan Ray karena mereka sangat jarang untuk berinteraksi. Untuk menutupi kecanggungan nya dia hanya bisa membuat wajah datar di depan Ray, yang membuat Ray sedikit takut dan berpikir ibunya tidak menyayanginya.


Melisa sendiri juga mengetahui perasaan Ray, karena ayahnya yang selalu memiliki wajah lelah dan membuatnya takut untuk menganggu istirahatnya. Saat mengetahui perasaan mereka dari sudut pandang lain, Melisa baru tahu bahwa mungkin ayahnya juga ingin dia mengambil inisiatif untuk berbicara.


mungkin karena dia yang tidak ingin membebani ayahnya dengan ceritanya, membuat ayahnya juga enggan untuk bertanya dan membuat hubungan mereka renggang.


Saat ini dia benar-benar ingin mencari telfonnya dan memanggil ayahnya. Bertanya apakah dia baik-baik saja, dan bercerita tentang keluhannya hari ini.


sayang sekali ayahnya tidak ada disini. Dia bukan Melisa penulis novel yang tinggal jauh dari keluarga untuk kuliah. Dia adalah Melisa seorang pebisnis yang berusia 40 tahun dan memiliki anak berusia 13 tahun.


mungkin jika dia tidak bisa kembali, ini akan menjadi penyesalannya. tapi dia tahu bahwa penyesalan adalah percuma, jadi dia hanya bisa menyingkirkan pemikirannya untuk saat ini.


Pekerjaan yang menumpuk ini adalah yang harus dia perhatikan.Melisa segera menenggelamkan dirinya pada berkas-berkas itu. Pekerjaan yang sangat banyak adalah keseharian dari Melisa terdahulu dan akan menjadi keseharian Melisa sekarang.


Sesekali sekretaris atau direktur perusahaan akan datang untuk melaporkan. akan ada juga telepon untuk memberitahu bahwa seseorang yang telah membuat janji temu dengannya datang. Itu sangat melelahkan untuk Melisa yang dulunya bersantai dan menulis novel jika tidak ada tugas dari kampusnya.

__ADS_1


dengan seriusnya Melisa, ruangan itu dipenuhi oleh suara balikan kertas dan guratan pena.


Dia bahkan tidak menyadari bahwa jam makan siang telah tiba. Sampai sebuah telfon membangunkannya dari menjadi semakin tenggelam pada pekerjaannya.


__ADS_2