Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 21


__ADS_3

Ray yang memiliki janji pada Nico untuk pergi bersama akhirnya senggang. Dia telah banyak belajar dan persiapan untuk ujian. Jadi dia telah menundanya sangat lama. Perjalanan ini awalnya untuk menghibur kak Nico namun sekarang sepertinya hanya karena dia lelah belajar dan ingin mencari udara segar.


Ray sedikit merasa bersalah karenanya. Perjalanan itu tidak jauh. Mereka memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota. Supir pertama kali menjemput Eshal kemudian kembali ke keluarga Cardita untuk menjemput Ray dan Nico. Di perjalanan, Eshal akan secara sengaja dan tidak sengaja selalu melirik Nico. Itu karena calon ayah tiri Ray ini telah membuatnya penasaran.


Mobil segera sampai di alun-alun kota dan mereka juga memulai perjalanan keliling mereka. Menikmati angin sejuk yang berhembus, Mereka tampak senang karena itu. Nico juga telah merasa tenang beberapa saat lalu. Setelah menerima semuanya, dia menjadi sedikit santai.


Dia tidak lagi memikirkan semua rumor itu lagi. Dia juga telah menyadari Hatinya. Saat ini dia melihat beberapa burung merpati yang terbang dan tersenyum dengan bebas. Dia sekarang tau, memiliki orang yang penting dihatinya membuatnya tidak lagi mementingkan pandangan orang lain tentangnya.


Setelah berkeliling, mereka duduk di bangku dengan senang. Saat ini seseorang tengah mendatangi mereka. Nico yang merasakannya mendongak dan melihat bahwa itu adalah Vino dan Fiolyn.


Senyum yang ada di bibir Nico hilang perlahan melihat mereka berdua. Dia telah menebak mengapa mereka datang kepadanya. Nico menatap kosong pada mereka berdua.


Fiolyn yang muncul segera berkata dengan mata penuh harap, "Kakak Nico ini sungguh kebetulan. Apa kakak telah berubah pikiran dan mau untuk pulang bersama kami."


"Aku tidak mau, bukankah aku telah mengatakannya dengan jelas di depan kampus waktu itu." Nico melihat Fiolin seolah dia melihat pengganggu. Nico segera berdiri dan maju sedikit untuk menutupi Eshal dan Ray.


"Kakak, Kamu bujuk lah Kak Nico." Fiolyn memegang tangan Vino dengan manja.


Vino mengusap kepala Fiolyn dan kemudian menatap Nico dan berbicara padanya, "Nico, sebaiknya kamu kembali dengan cepat. Fiolyn sudah dengan baik ingin kamu kembali, mengapa tetap keras kepala."

__ADS_1


"Aku sudah bilang, bahwa aku tidak akan kembali ke keluarga itu." Nico berkata dengan mati rasa. Dia merasa dengan semua kebaikan dan kehati-hatian Melisa untuknya, Keluarga Helingga yang selalu berbisik ke telinganya bahwa dia harus bersyukur dan dia harus menundukkan kepalanya tidak ada apa-apanya.


Apa itu bisa disebut keluarga untuknya. Nico telah merasa bahwa dia adalah luka dan rasa sakit mereka. Mereka tidak ingin kenyataan itu. Mereka yang telah membesarkan Fiolyn sedikit tidak mau mempercayai fakta karena dia bukan anak kandungnya. Mereka merasa Nico adalah debu di mata yang menggangu.


Jadi mereka lebih suka hidup di dunia fantasi mereka bahwa Fiolyn tetap putri mereka, dan menganggapnya sebagai orang luar itu. Yang terpenting Tunangan Fiolyn adalah Maul Abie Grahadi. Bagaimana mereka bisa menolak memiliki menantu seperti itu.


Vino yang merasa Nico tidak enak dipandang, marah karena sikapnya yang asal-asalan, "Apa yang kau bilang. Kau akan membuat malu dengan bergantung pada wanita seperti itu. Merusak citra keluarga saja."


"Memangnya aku ingin? Aku tidak ingin menjadi keluarga kalian." Nico berbicara dengan sedikit keras. Mengepalkan tangan kuat dia menahan rasa sakit di hatinya mengucapkan kata itu. Karena dia tau, bahwa ada hari di masa lalu bahwa dia berharap keluarga Helingga baik padanya.


Vino yang mendengar itu kesal, mengangkat tangannya dan akan menampar Nico. Nico yang tau segera menutup matanya dan akan menerima tamparan itu. Namun beberapa saat rasa sakit yang dia bayangkan tidak datang.


Nico membuka matanya penasaran dan melihat tangan Vino ada didepan wajahnya. Sebuah tangan telah memegang pergelangan tangan Vino yang membuatnya untuk menghentikan tamparan itu. Nico menoleh pada pemilik tangan dan terkejut.


Tau bahwa mereka ada di alun-alun kota. Dia juga bergegas kesini untuk memberi mereka kejutan. Tentu saja tugas utamanya adalah melihat apa Nico telah baik-baik saja.


Namun saat dia sampai pemandangan inilah yang dia lihat. Vino yang mengangkat tangannya untuk menampar Nico. Jadi dia bergegas untuk menghentikannya.


"Apa yang kau lakukan, apa bahkan kamu seorang sarjana tidak bisa mengenali bahwa ini adalah tempat umum dan bersikap impulsif." Melisa berkata dengan mengingatkan.

__ADS_1


"Mengapa kamu yang orang luar ikut campur?" Vino yang marah beberapa saat lalu segera menenangkan emosinya karena perkataan Melisa.


"Nico sekarang telah berada di keluarga saya. jadi saya berhak untuk ikut campur." Melisa berkata dengan tenang dan pindah untuk berdiri di depan Nico.


"Tidak, Nico adalah Adik kandungku, dia juga berhak pulang. mengapa kamu menahannya." Vino mulai mencari masalah lain dan mengembalikan keinginannya di awal untuk membawa Nico.


Melihat Fiolyn yang menahan air mata ketakutan dan bingung, Melisa menebak bahwa masalah ini disebabkan oleh gadis itu. "Apa kamu tau bahwa ayahmu menandatangani surat itu langsung. Dia bahkan langsung mengeluarkan Nico dari daftar keluarganya. Mengapa kamu masih berdebat."


Vino yang tidak tau tercengang sebentar dan menyangkal, "Tidak mungkin. Itu tidak mungkin terjadi."


Melisa melihat penyangkalan dan frustasi samar pada Vino, berkata, "Kamu bisa bertanya langsung pada mereka jika tidak mempercayaiku. tapi itu adalah kenyataan bahwa ayahmu bahkan tidak menginginkan Nico lagi."


Vino yang penuh dengan pertanyaan pergi dengan cepat, dia ingin segera mengkonfirmasi pada orang tuanya. Mengapa menjadi seperti ini. Vino segera duduk di kursi mengemudi dan menatap kosong didepan.


Fiolyn yang berhasil menyusul kakaknya segera masuk mobil. Melihat kakaknya yang linglung dia menepuk pundaknya dan berkata, "Apa kakak baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja?" Vino menjadi marah dan menampar tangan Fiolyn yang ada di pundaknya, "Mengapa kamu tidak memberitahuku ini. Ayah dan ibu juga tidak memberitahuku. mengapa itu?"


"Ah... Maaf." Melihat tangannya yang Merah, Fiolyn segera menitikkan air matanya. "Aku minta maaf kakak. aku tidak bermaksud begitu."

__ADS_1


Melihat adiknya menangis Vino segera sadar dan memeluk Fiolyn. Dia merasa mudah marah karena semua insiden ini. "Maafkan kakak juga, kakak terlalu marah dan menyakiti Fiolyn."


Fiolyn mengangguk dengan ringan menanggapi itu. Vino sekarang frustasi, Menghela nafas dia akan berbicara juga peda kedua orang tuanya. Mereka telah menyembunyikannya darinya dan membuatnya mengetahui ini dari mulut orang lain. Dia sedikit tidak bisa mempercayai bahwa orang tuanya lah yang telah mengeluarkan Nico dari rumah itu. Menjalankan mobil, dia segera mengemudi untuk pulang ke rumah dengan cepat.


__ADS_2