
Dorr!!
Peluru berhasil mengenai jantung Oma Iris namun wanita pintar itu masih berdiri tegak sementara peluru malah jatuh ke lantai sementara Oma Iris tersenyum smrik ke arah Marie.
"Oh tidak, harusnya aku tidak usah memakai rompi anti peluru supaya aku cepat mati. " ujar Oma Iris dengan memasang wajah menyesal.
'Sialan, wanita tua bau tanah ini rupanya sangat pintar. '
Oma Iris melangkahkan kaki keriputnya mendekat ke arah Marie yang sekarang sudah keringat dingin bahkan dirinya tidak bisa berkutik lagi.
"Ya ampun, Harison ternyata anakmu sangat penakut. " ucap Oma Iris yang sudah sampai di dekat Marie, dan tanganya bergerak menyentuh wajah Marie atau lebih tepatnya mencengkram kuat wajah Marie.
"Ternyata kau cantik juga ya, persis seperti Atalie. " ucap Oma Iris dengan mengusap wajah Marie dengan kukunya sehingga meninggalkan goresan.
'Ku tembak saja kepalanya,' batin Marie dan tanganya mengambil tembakan dengan tangan yang gemetar lalu namun tetap berhasil dan sekarang tembakan itu sudah berada tepat di kepala Oma Iris.
Oma Iris memasang wajah panik dan dengan begitu juga tanganya yang tadinya mencengkram kuat Marie seketika terlepas dan kakinya mundur.
Sedangkan Aleski yang melihat Marie hendak menembak Oma Iris dengan cepat berlari namun langkahnya terhenti saat suara tembakan.
Dorr!
Dorr!
Oma Iris tidak kenapa- kenapa walau peluru mengenai kepalanya namun malah Marie yang meringis kesakitan karena dua kali tanganya tertembak.
"Kenapa kau malah ingin menembak rambut palsuku?" tanya Oma Iris seraya melepaskan rambut palsunya yang berwarna hitam dan setelah terlepas barulah rambut putih itu terlihat.
Tentu rambut palsu yang di kenakan oleh Oma Iris bukanlah sembarang rambut palsu.
Tak.. Tak... Tak...
__ADS_1
Terdengar suara sepatu pantofel menggema di lorong tersebut dan ketika suara langkah kaki semakin terdengar barulah muncul seorang pria yang tampan dengan sesekali meniup senjata api di tanganya.
Pria itu seketika mendongak dengan tersenyum smrik dan dia adalah Alan dengan Leo di belakangnya.
"You want to die huh? " tanya Alan dengan suara dingin namun terdengar menyeramkan di telinga Marie sampai-sampai dirinya melangkah mundur.
'Sialan, kenapa sekarang malah ada dua orang.'
Oma Iris mendekat ke arah Marie lalu mendorongnya hingga terjatuh di lantai sementara Oma Iris berjongkok dengan tangan yang mengangkat dagu Marie supaya menatap dirinya.
"Sebenarnya aku tidak akan sejahat ini jika saja kau itu bukan anak Atalie dan Harison dua orang yang sudah membunuh suamiku dan anaku. " ucap Oma Iris.
"Tap-tapi... " belum selesai Marie berbicara tetapi jari Oma Iris sudah ada di bibir Marie.
"Diamlah, suaramu itu sangat membuatku sakit telinga. " ucap Oma Iris dengan pura-pura kesakitan.
"Dasar brengsek! wanita tua bau tanah gak tau diri! " maki Marie dengan suara yang keras.
Marie emosi lalu dirinya menoleh ke arah belakang menatap tajam mereka yang hanya diam menonton.
Tentu saja Marwin hanya bingung dirinya kasian melihat sang istri yang di perlakukan demikian namun dirinya juga tidak berani melawan dua orang yang sangat berkuasa jika dirinya sampai berani bisa mati atau perusahaan miliknya bisa saja bangkrut.
Begitu juga dengan pria berpakaian hitam mereka tidak berani melawan orang yang tentu saja di kenali.
"Kenapa kalian diam saja!! " pekik Marie menatap mereka dengan wajah yang sudah memerah namun ekpresinya juga menahan rasa sakit di pergelengan tanganya.
"Jika kalian maju aku akan melakukan ini.. " ucap Oma Iris dengan mengangkat senjata api.
Dorr... Dorr... Dor... Dor... Dor... Dor... Dor... Dor...
Oma Iris menembak para bodyguard dan mereka langsung tumbang sekaligus resmi menjadi mayat.
__ADS_1
Alan hanya melihat saja dengan menyender di dinding dan tangan yang di lipat di depan dada bidangnya pria yang di paksa untuk ke lantai atas oleh Leo, Sementara orang yang sudah memaksa Alan yaitu Leo sedang berjongkok menatap ke arah depan dimana Oma Iris sedang bersenang-senang.
Marie ketakutan bahkan sangat takut dirinya belum siap untuk mati dan sekarang harapannya hanya satu yaitu Marwin suaminya yang sekarang sudah keringat dingin.
"Marwin!! kenapa kau diam saja?! " teriak Marie dan dengan cepat Marwin menjawab.
"I'm sorry, i can't help you." ucapnya dengan berlari terbirit-birit menuju lift.
"Hahaha, I'm so sorry for you, your husband just doesn't care. " ucap Oma Iris dengan nada mengejek.
"Kau! " Marie sudah tidak bisa berkata apapun lagi, niat hati ingin mencelakai Aleski namun malah dirinya yang di celakai.
"Apa hm?"
Marie hanya bisa diam tanpa bisa menjawab sementara Oma Iris bangkit hendak pergi karena dirinya rasa tidak seru jika langsung membunuh namun sebelum pergi Oma Iris berkata.
"I don't want to kill you yet because I want to play first, " ucap Oma Iris seraya melangkahkan kakinya.
"see you again, " Oma Iris melambaikan tanganya tanda perpisahan kepada wanita iblis yang masih tersungkur di lantai.
Oma Iris masuk ke dalam lift begitu juga dengan Alan dan Leo sekaligus yang lain sementara Aleski masih diam mematung bingung dirinya harus apa, sampai akhirnya Oma Iris memanggil Aleski.
"Hay anak muda! kau mau di situ sampai kapan? " tanya Oma Iris dan seketika Aleski berjalan masuk ke dalam Lift.
Akhirnya pintu lift tertutup mulai turun ke lantai satu di mana pesta tadi di lakukan namun mereka malah mengadakan pesta peluru.
...✧༺♥༻✧...
Marie masih diam menatap nyalang ke arah depan dengan tangan yang mengepal.
"Tunggu pembalasanku! "
__ADS_1
Setelah itu wanita yang baru saja di tindas mulai berdiri dengan susah payah lalu berjalan dengan tertatih-tatih.