Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 34 | Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Aleski mematung melihat Marwin yang terbaring di atas ranjang dengan alat di sekelilingnya, Aleski sekarang tengah berada di ruang ICU.


"Papa, " panggil Aleski dengan memebelai tangan Marwin lembut.


Walaupun Marwin selalu cuek kepadanya tetapi seorang ayah pasti pernah melakukan hal yang baik.


"Huuh, " Aleski menghela nafas saat mengingat masa kecilnya.


Flashback On


Gadis kecil dengan menggunakan gaun bermotif bunga yang sangat indah dengan rambut yang tergerai, gadis kecil itu adalah Aleski.


Aleski kecil sedang duduk di kursi taman dengan mata yang sembab sembari melihat lenganya yang terdapat luka sesetan dengan darah yang mengalir.


"Hiks.. Hiks.. Hiks... " tangis Aleski kecil kembali pecah saat merasakan sakit di lengan mungilnya.


"Aleski, "


Mendengar ada yang memanggil dirinya, sontak saja Aleski kecil mendongak untuk melihat siapa yang telah memanggil dirinya.


"Papa, " Aleski tersenyum seraya menghapus air matanya.


"Hm, "


Marwin berjongkok lalu membuka kotak p3k setelah itu mulai mengeluarkan barang yang di butuhkan setelahnya Marwin mulai mengobati luka di lengan Aleski.


Dengan telaten Marwin membersihkan darah lalu menutupnya dengan perban setelah selesai Marwin membereskannya kembali kotak p3k.


Marwin mendongak melihat wajah Aleski kecil lalu berucap, "Hay anak haram, aku melakukan ini karena tidak tega. aku tidak mau hanya karena di siksa kau menjadi cepat mati. "


Aleski semakin menangis dengan terus mencoba agar tidak mengeluarkan sebuah suara sementara Marwin bangkit lalu pergi meninggalkan Aleski sendirian.


Setelah sang ayah pergi barulah Aleski bisa menangis dengan kencang, anak kecil berusia sembilan tahun itu merasakan sakit. sampai akhirnya malam pun tiba dan rasa benci orang tuanya kembali bertambah.

__ADS_1


Ketika seorang pria membunuh nenek dan kakeknya tepat di depan mata kepala Aleski sendiri dengan kejamnya.


Pria itu pergi namun setelah itu orang tuanya pulang dan di situlah dirinya langsung mendapatkan cacian dan makian tak lupa dengan siksaan yang dirinya terima.


Beruntung Marwin yaitu ayahnya mecegah Marie untuk membunuh Aleski putri semata wayangnya.


"Sayang, lebih baik jangan bunuh anak haram itu dengan cepat. "


"Apa! kau membelanya?"


"Tidak, aku tidak akan sudi membela anak haram itu tetapi akan lebih baik lagi jika kita menyiksanya. agar anak haram itu bisa merasakan rasa sakit yang kau rasakan. "


Berkat ucapan Marwin seketika membuat Marie menurut, untuk menyiksa Aleski anak tirinya.


Flashback Of


Walau dirinya tetap merasakan betapa tersiksanya namun dirinya tetap merasa beruntung karena masih di izinkan untuk hidup.


...✧༺♥༻✧...


Alan duduk di kursi kebesaranya dengan mata yang fokus ke arah laptop di depanya, sekarang dirinya sudah mulai bekerja.


Tok... Tok... Tok..


"Masuk! "


Cklek!


Pintu terbuka dan terlihatlah seorang OB atau Office Boy dengan nampan berwarna coklat di tanganya dengan sebuah minuman di atasnya.


"Tuan, "


"Letakan, "

__ADS_1


Sang OB menurut lalu meletakan kopi di atas meja sementara Alan tampak cuek.


"Saya permisi Tuan, " ucapnya yang di balas deheman dari Alan, setelah itu sang OB keluar dari ruangan tersebut.


Alan melirik gelas berwarna coklat lalu tanganya mulai mengambil cangkir tersebut namun ketika ingin di minum dirinya mencium aroma aneh dari kopinya.


"Racun, " Alan tersenyum Smrik sembari meletakan kembali cangkir kopi tersebut.


Alan menghubungi karyawanya untuk datang ke ruanganya setelah itu Alan duduk santai di kursi kebesaranya.


Tok... Tok... Tok...


Cklek!


Pintu terbuka saat mendengar jawaban dari Alan setelah itu para karyawan berbaris dengan kepala yang menunduk.


"Minum, " dagu Alan menunjuk cangkir kopi yang ada di atas mejanya.


Beberapa saat tidak ada jawaban dan akhirnya Alan berucap kembali dan kali ini dengan suara yang keras, "Minum! "


Para karyawan saling menoleh seperti sedang berdiskusi lewat tatapan dan setelah itu salah satu dari mereka maju.


Karyawan itu mengambil cangkir kopi namun sesaat berhenti lalu matanya memberanikan menatap sang atasan namun malah di balas dengan tatapan yang tajam.


Dengan tangan gemetar karyawan tersebut menyeruput kopi yang masih mengeluarkan kepulan asap tipis.


Prang!


Gelas pecah dan karyawan tersebut tumbang sementara yang lain berteriak histeris namun Alan masih saja bersikap santai.


'Dosisnya 200-300 miligram, kadar pada darah lebih dari 2,5 miligram.'


Setelah membatin Alan langsung bangkit meninggalkan karyawan yang sudah panik.

__ADS_1


__ADS_2