
"Jadi begitu? "
Alan tersenyum mengejek dengan menatap Aleski nyalang sementara yang di tatap hanya menduduk dengan jari-jemari yang memainkan ujung bajunya.
"I-iya, "
"Kalau aku membantu, kau akan memberikan apa? " kembali pria angkuh dan sombong itu memberikan sebuah pertanyaan.
'Apa yang akan aku berikan? sementara aku tidak mempunyai apapun itu,'
Aleski nampak berpikir dengan sekeras-kerasnya sampai kepalanya serasa pusing, hanya ingin mendapatkan jawaban saja sampai harus seperti ini.
"Memang Tuan mau apa? " akhirnya dirinya memutuskan untuk bertanya karena otaknya sudah buntu tak dapat berpikir lagi.
"Lakukan apapun itu yang aku perintahkan, " Ya, hanya itu yang ada di otaknya sebab dirinya pun sama persis seperti Aleski.
Hening, mereka tengah di sibukan dengan pikiran mereka masing-masing begitu juga dengan Aleski yang memikirkan apa yang barusan di ucapkan oleh pria angkuh di depannya.
'Tidak buruk, lagi pula paling hanya di suruh-suruh saja dan aku sudah berpengalaman sewaktu di rumah dulu.'
"Pergilah, " ujar Alan sembari mengibaskan tanganya supaya wanita di depanya cepat keluar dari ruang kerja miliknya.
Aleski menganggukan kepalanya lalu dengan cepat melangkahkan kakinya keluar dari sana.
Tut,, Tut,, Tut,,
Telepon terangkat dan Alan segera memerintah anak buahnya untuk menjalankan perintahnya.
...✧༺♥༻✧...
__ADS_1
Semenjak saat itu semuanya kembali seperti semula hingga detik per detik, menit per menit, jam per jam, hari per hari, minggu per minggu terlewat dan sekarang Aleski tengah di bonceng oleh Alan yang menggunakan motor gede miliknya.
Ya, pria angkuh itu sudah menemukan keberadaan Marie sebelum satu bulan dan selama mencari ia juga mencari keberadaan Felix manusia yang hilang bagaikan di telan bumi.
Namun musuh bebuyutannya itu sangatlah pandai menghilangkan jejak bahkan sangat pandai namun ia hanyalah pandai menyembunyikan keberadaannya tetapi tidak pandai menyembunyikan apa yang sudah dirinya perbuat seperti sebuah Labirin yang berhasil anak buah Alan temukan namun tidak dengan pembuatnya.
Dor!
Dua motor gede seperti ingin menghimpit Alan dengan tak segan-segan menembakan peluru namun beruntung sang pengendara bisa mengelaknya.
Breem!
Wush!
"Sialan, "
Alan mengumpat di balik helmnya merasa kesal karena ada saja yang berani mengganggunya seperti saat ini tiba-tiba muncul dua pengendara yang nampak ingin sekali berbuat sesuatu terhadap Alan.
Teriak Alan namun Aleski tidak mendengarnya sebab suara motor membuat keadaan sangatlah berisik, tentu gadis berusia dua puluh tahun itu merasa waswas.
Breem!
Dug!
"Aduh! "
Aleski mengerang kesakitan ketika dirinya terhuyung ke depan akibat sang pengendara yang mengebut tanpa berpikir panjang.
"Shiit! "
__ADS_1
Umpat Alan ketika dua pengendara itu malah semakin beringas apalagi dari belakang dan depan nampak bertambah pengendara yang ingin berbuat sesuatu terhadap Alan karena itu dirinya semakin beringas pula menjalankan kendaraanya hingga melebihi batas kecepatan pada umumnya.
"Akh!! "
Pekik Aleski saat melihat kendaraan lain yang menyerang Alan hingga sang pengemudi kehilangan keseimbangan.
Bugh!!
Bragh!!
Motor gede yang di tumpangi dua orang itu akhirnya terjatuh dan orang-orang yang menyerang tadi sudah menghentikan kendaraanya lalu mendekat dan mengangkat dua manusia yang sudah tak sadarkan diri.
***
Prang!!
Di saat bersamaan secangkir teh panas jatuh ke lantai dimana berhasil mengalihkan perhatian Oma Iris yang tengah membereskan foto cucu satu-satunya yang sempat terjatuh karena tersenggol.
"Astaga, ada apa ini? "
Rasa cemas menyerang wanita tua itu yang entah kenapa rasa-rasanya sangat takut, takut cucu angkuhnya itu kenapa-napa karena itulah Oma Iris tanpa pikir panjang langsung menghubungi Fera yang tengah berada di markas.
"Halo Oma, " sapa Fera dengan nada lembut.
"Al-Alan, "
"Ada apa dengan Alan Oma? "
Fera yang mendengar nada bicara Oma Iris seketika di serang rasa cemas.
__ADS_1
"Cari Alan sekarang juga, "
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Oma Iris sebelum akhirnya panggilan telepon berakhir.