Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 49 | Flashback 2


__ADS_3

Ting!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Marwin namun sang empunya sudah terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.


Dan karena itulah di lain tempat Marie merasa cemas, takut jikalau apa yang dirinya lakukan gagal karena Marwin tak kunjung menjawab apalagi membuka pesan darinya.


"Apa dia sudah tidur? " gumam Marie yang merasa cemas dengan terus mengecek ponselnya siapa tahu sudah terbaca namun itu semua nihil, hingga akhirnya Marie menelfon Marwin namun tetap saja tidak di jawab walau sudah berkali-kali.


"Hoam, melakukan kejahatan sangat menguras tenaga sehingga aku lelah. " gumam Marie yang sudah merasa mengantuk apalagi hari sudah semakin malam.


"Aku akan pulang saja, " ucapnya sembari bangkit mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari Bar.


Dirinya masuk ke dalam mobil miliknya yang terparkir rapih di parkiran, tanpa pikir panjang lagi Marie langsung menyalakan mesinya dan melaju menuju ke apartemen miliknya.


"Mungkin bukan sekarang waktunya perang dunia terjadi, tapi esok atau lusa akan terjadi." gumam Marie dengan terus fokus mengemudi.


"Tapi tak apa, aku akan memantau Nicholas dan Eline agar mereka tidak bisa lolos. " lanjutnya dengan menyeringai.


***


Marwin mengucek matanya lalu menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya, hari sudah pagi rupanya dan di saat itulah Marwin akan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Namun sebelum dirinya bangkit, tanganya lebih dulu meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas samping tempat tidur. Ketika membuka ponsel rupanya banyak sekali sambungan telepon tak terjawab dari sahabatnya hingga membuat sang pemilik ponsel mengernyitkan alisnya sebab sangat jarang sahabat kecilnya itu menelfon hingga sebanyak ini.


Tanpa pikir panjang lagi karena sudah merasa penasaran akhirnya ia memutuskan untuk menelfon balik Marie.


"Selamat pagi Marie, aku mau bertanya kenapa kau menelfon-ku sampai sebanyak itu? Apa ada yang terjadi?" ketika telepon tersambung tanpa menunggu lama lagi Marwin langsung bertanya.


"Selamat pagi juga Marwin sahabatku, oh ya aku menelfonmu tadi malam karena ingin memberi tahu kelakuan bejad tunanganmu itu. Tapi sepertinya kau sudah tidur, " jawab Marie dengan suara mendayu-dayu.


"Tunanganku? memang ada apa denganya? " tanya Marwin merasa heran ketika mendengar kata demi kata dari Marie.


"Selingkuh! ya dia rupanya sudah berani ber-selingkuh dengan sahabatnya sendiri, Nicholas Felton. Dan tadi malam aku melihat mereka masuk ke dalam sebuah Bar lalu mabuk bersama hingga mereka melakukan hubungan terlarang. "


"Hahaha, Marie kau tidak usah mengada-ada. Tunanganku tidak akan berani melakukan hal bodoh seperti itu, " kata Marwin yang merasa tidak yakin dengan omongan Marie barusan.


"Tonton video yang aku kirim ke ponselmu, agar kau sadar Syakil Marwin." ucap Marie di seberang sana setelah itu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Deg!


'Tidak mungkin kan omongan Marie itu benar? '

__ADS_1


Pikiran Marwin saat ini tengah kalut memikirkan omongan Marie barusan, namun dirinya tidak mau menduga-duga terlebih dahulu hingga akhirnya Marwin memilih untuk segera memeriksa video apa yang Marie kirimkan kepadanya.


Hingga akhirnya tanganya terkepal kuat saat melihat video yang di kirimkan Marie, matanya memerah dan dadanya naik turun nafasnya juga nampak tak beraturan menahan emosi yang kini tengah membara.


Karena itulah dirinya memutuskan untuk menghubungi Eline, dirinya ingin tahu apa benar atau tidak bahwa tunanganya itu berselingkuh.


Tut,,, Tut,,, Tut,,,


Telepon darinya sama sekali tak di angkat, hingga membuat Marwin menggeram namun dirinya masih mencoba untuk menelfonya beberapa kali namun tetap sama hasilnya. Tidak di jawab sama sekali hingga Marwin melemparkan ponselnya ke atas kasur lalu dirinya masuk ke dalam kamar mandi.


Kini dirinya akan ke rumah Eline, meminta penjelasan kepadanya namun jika memang itu benar Marwin akan memutuskan pertunangan dan membatalkan pernikahan yang bulan depan akan terlaksanakan.


***


Kini Marwin telah berada di mobil miliknya bahkan sudah hampir sampai di rumah tunanganya, dengan rasa emosi yang meledak-ledak jika memang apa yang di katakan Marie itu benar.


Cit!


Mobil berhenti di depan gerbang, tanpa menunggu lama lagi Marwin langsung turun dari mobil lalu memencet bel.


Ting,,, Tong,,


Beberapa menit kemudian nampak seorang wanita paruh baya berlari tergopoh-gopoh mendekat ke arah gerbang setelah itu langsung membukanya.


"Nona Eline tidak pulang Tuan, " jawab Mak Mirnah dengan menatap pria di hadapanya dengan rasa takut karena tidak biasanya Marwin bersikap seperti itu.


Teng!


Dengan reflek Marwin menendang pagar besi di hadapanya apalagi pikiranya mulai berfikir bahwa tunanganya itu sengaja tidak pulang agar tak bertemu dengan dirinya.


"Marwin,"


Marwin yang merasa terpanggil akhirnya menoleh dan langsung mendapati Marie yang bersandar di pintu mobil dengan bersedekap dada menatap Marwin intens.


Bibirnya terangkat lalu berucap "Bodoh jika kau berpikir Eline ada di rumahnya, karena sudah pasti dia berada di rumah selingkuhan-nya. Nicholas Felton, "


'Benar juga,'


Marwin langsung berlari ke arah mobilnya lalu masuk ke dalam, dirinya lalu mulai menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah tunanganya untuk menuju rumah Nicholas.


Begitu juga dengan Marie yang langsung masuk ke dalam mobilnya lalu mengikuti ke mana Marwin pergi, sebab dirinya berasumsi bahwa peranya sangat penting untuk menghasut pikiran Marwin agar semakin masuk ke dalam cerita dongeng yang dirinya ciptakan.

__ADS_1


***


Singkatnya Marwin telah sampai di rumah milik Nicholas, bahkan tanpa aba-aba dirinya langsung menerobos masuk ke dalam rumah Nicholas dan dengan tidak sopanya dirinya berteriak memanggil sang pemilik.


"Nicholas keluar!! kau tidak usah bersembunyi dariku dasar rendahan! "


"Siapa yang bersembunyi darimu Tuan Syakil Marwin? aku disini, " dari belakang Nicholas muncul dengan menyeringai menatap Marwin.


"Dimana kau sembunyikan tunanganku?" tanya Marwin yang tidak bisa menyembunyikan amarahnya.


"Tunanganmu sudah aku sembunyikan di tempat yang aman, bahkan tidak akan ada satupun yang tahu dimana dia sekarang karena aku tidak mau sesiapapun menyakiti sahabatku dan anak yang di kandungnya. " jawabnya dengan penuh penekanan.


Bugh!


Emosinya benar-benar sudah meledak hingga tak tahan ingin menghajar pria yang di matanya terlihat sangat menjijikan.


"Ayo pukul, pukul aku sepuasmu! " ucap Nicholas dengan menepuk pipinya sendiri.


"Rendahan!! "


Bugh!


Bugh!


Lagi, dirinya menendang Nicholas dengan sangat brutal hingga Nicho terjatuh ke lantai dengan darah yang mengalir dari ujung bibirnya.


Ckek!


Marwin langsung berjongkok dan mencekik leher Nicho dengan kuat-kuat hingga yang di cekik merasa kesakitan yang amat besar.


"Katakan, dimana kau sembunyikan Eline!? " kata Marwin dengan menguatkan genggaman tanganya di leher Nicho.


"Sampai Ka-kapanpun aku tidak a-akan memberi tahumu walau a-aku ha-harus mati sekalipun, " ucapnya dengan nada terbata-bata.


Kretek,,, Kretek,,,


Seperti kesetanan Marwin memutarkan kepala Nicho ke segala arah dengan paksa hingga akhirnya Nicho menghembuskan nafas terakhirnya.


"Kau memang pantas mati, dan Nerakalah yang akan kamu masuki. " ucap Marwin dengan penuh penekanan.


Setelah puas mengata-ngatai jasad Nicho akhirnya Marwin memutuskan untuk bangkit lalu pergi dari sana.

__ADS_1


Ketika Marwin melangkah keluar dari rumah Nicho nampak Marie bersembunyi dengan menatap kepergian Marwin.


"Sepertinya peran-ku bukan disini," ucapnya lirih dengan tersenyum miring.


__ADS_2