
Trektek!
Siang hari ini terdengar jeruji besi terbuka yang membuat perhatian para tahanan teralihkan, "Saudari Aleski, ada yang ingin menemuimu."
"Oh iya," saut Aleski seraya bangkit yang sudah mengenakan pakaian berwarna oranye.
Tektek!
Setelah jeruji besi itu terbuka, petugas kepolisian langsung mengarahkan Aleski untuk menuju tempat dimana seseorang ingin bertemu denganya.
Dari tempatnya melangkah, kedua matanya tak sengaja melihat Marwin yang juga menatapnya dengan sendu.
Setelah sampai di dekat Marwin, Aleski langsung duduk setelah di persilahkan.
"Anaku,"
"Aku bukan anakmu, "
Deg!
"Apa maksudmu Aleski? "
"Aku sudah tahu semuanya,"
__ADS_1
Marwin terdiam, lalu menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Maafkan papah ya, papah tau itu salah tapi perbuatan ibumu itu tidak dapat termaafkan." ungkap Marwin dengan sendu.
"Tidak dapat termaafkan? apa tidak terbalik? seharusnya Tuan yang tak dapat termaafkan karena sudah membunuh orang yang jelas-jelas tidak bersalah. Apakah Tuan memang notabenya mudah percaya? sehingga hanya dengan bukti bohong dan ucapan satu orang saja sudah percaya tanpa mencari tahu kebenarannya." bantah Aleski dengan suara bergetar, dirinya benar-benar merasa kecewa saat ini. Hingga mengubah panggilan Papah menjadi Tuan.
Marwin merasa getir ketika mendengar penuturan Aleski barusan, niat hati ingin membuka lembaran baru dan hidup bahagia dengan anak tunanganya yang kini sudah ia anggap anak sendiri. Tapi sepertinya itu tidaklah mudah ketika mata kepalanya sendiri melihat sikap Aleski yang berubah padanya.
"Ya, Papah ngaku kalau itu salah. Tapi bisakah kamu memberi Papah kesempatan?" tanya Marwin menatap teduh anak mantan tunangannya itu, namun dengan pelan tapi pasti Aleski menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan sekaligus permintaan dari Marwin.
Marwin kini terdiam, merasa paham akhirnya dia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan yang sudah dirinya niatkan dari sebelum ke polsek. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Marwin memutuskan untuk memberikan seluruh aset miliknya untuk Aleski sebagai tanda permintaan maaf. Apalagi usianya kini sudah tidak lagi muda.
"Kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi, lebih baik aku pamit kembali ke sel." ujar Aleski tiba-tiba yang sudah bangkit, Marwin yang mendengarnya seketika mendongak setelah berenang di lautan untuk mencari titik terang. Namun ketika ingin berbicara Aleski sudah berjalan jauh dengan dengan seorang petugas kepolisian di belakangnya.
"Dra, "
"Lakukan seperti apa yang saya katakan tadi malam, dan bebaskan Aleski dari tempat ini." titah Marwin seraya bangkit dan berjalan mendahului anak buah kepercayaannya itu.
Tanpa ingin berlama-lama lagi, Andra langsung menyusul sang tuan yang kini sudah duduk di kursi kemudi dengan tatapanya yang menerawang jauh.
Brag!
Di bukanya pintu kemudi lalu menutupnya kembali, setelah itu menyalakan mesin kendaraan roda empat berwarna hitam tersebut.
__ADS_1
"Setelah ini kita kemana Tuan?"
"Pulang saja, saya ingin segera istirahat." saut Marwin di tengah lamunanya, tanpa bisa membantah Andra langsung mengangguk dan melajukan kendaraan.
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, hingga sebuah lampu merah terlihat yang membuat Andra spontan mengurangi laju kendaraan dan mengerem ketika sudah hampir dekat dengan kendaraan di depanya. Namun sudah berkali-kali Andra menginjak pedal rem namun mobil tetap melaju dengan berkecepatan sama saat dirinya awal menyalakan.
"Astaga!" pekik Andra dengan wajahnya yang memancarkan aura ketakutan.
"Ada apa? " tanya Marwin menyadari anak buahnya yang panik.
"Remnya blong Tuan, sepertinya ada seseorang yang sudah mengotak-atiknya." jawab Andra dengan terus menginjak rem yang soalnya sudah tidak berfungsi lagi.
"Ke-"
Ciit!
Duaash!
Bragk!
Kecelakaan beruntun tepatnya di Jl, Mawar tidak dapat di elakan. Banyaknya kendaraan ikut menjadi korban kecelakaan tersebut entah itu pengendara bermotor maupun pengendara roda empat.
Mobil hitam yang di tumpangi Marwin bersama sangat supir terguling bermeter-meter hingga mengeluarkan asap tipis dari mesinya, yang membuat semua orang yang ada di sana panik.
__ADS_1
Kecuali seorang wanita setengah abad mengenakan kebaya dan kain jarik, wanita itu adalah Mak Njah. Nampak di wajah keriputnya tersenyum puas.
"Abdi moal ngantep jalma jahat hirup, "