
Kini mereka sudah berada di Rumah Sakit untuk mengecek kondisi dua orang itu.
Cklek!
Pintu terbuka dimana berhasil mengalihkan perhatian Fera dari keramik rumah sakit dan langsung menatap Aleski.
"Bagaimana? "
"Aku tidak apa-apa, " balas Aleski dengan tersenyum simpul mencoba untuk meyakinkan.
"Duduklah, " Fera berucap sembari menepuk kursi di sampingnya dan Aleski hanya bisa menurut.
Hening, tidak ada yang berbicara sedikitpun. Dua gadis itu masih di sibukan dengan yang ada di pikiran mereka masing-masing hingga akhirnya Fera mulai berbicara.
"Coba jelaskan kepadaku dari awal sampai akhir," kedua manik Fera menatap wajah Aleski sementara yang di tanya dengan pelan-pelan mulai menjelaskan dari awal sampai akhir.
Setelah selesai menjelaskanya dengan panjang lebar, Aleski diam begitu juga dengan Fera.
"Kau ingin menemui ibumu? " tanya Fera pada akhirnya.
Aleski mengganggukan kepalanya "Ya, aku ingin menemuinya tapi mustahil." jelas Aleski.
Fera meraih tangan Aleski lalu berkata "Hey, dengar ya. Kau itu tidak sendirian tapi ada aku dan kau bisa meminta bantuan kepadaku apapun itu karena kita sekarang adalah sahabat, aku bisa mengantarmu ke tempat dimana ibumu berada. "
"Benarkah? " kedua manik mata Aleski seketika berbinar ketika mendengar penuturan dari Fera barusan.
"Hm, " Fera mengganggukan kepalanya dengan senyuman di wajahnya "Kau mau kapan? apakah sekarang? "
"Ta-tapi bagaimana dengan Tuan Maf,, eh maksudku Tuan Alan. "
"Itu urusan gampang, kalau sekarang bagaimana?" tanya Fera sementara yang di tanya diam kebingungan "Matamu tidak bisa berbohong, " dengan cepat Fera langsung menarik tangan Aleski dan membawanya ke parkiran dimana motor gede miliknya berada.
"Pakailah, "
Fera memberikan helm miliknya kepada Aleski.
Brem!
"Ayo naik. " ujar Fera setelah siap di atas motornya dan Aleski dengan cepat menurutnya.
Brem!
Brem!
Wush!
Motor akhirnya melaju dengan cepat menjauh dari rumah sakit untuk menuju ke tempat tujuan.
"Kak Fera tau tempatnya? " tanya Aleski dengan suara yang sedikit di kencangkan agar perempuan di depanya dapat mendengar.
"Aku tau, jadi kau tenang saja. " jawab Fera dan Aleski menggangguk.
...✧༺♥༻✧...
Mak Njah hendak membuka pintu teropos di depanya namun suara yang tidak asing berhasil menghentikan aksi dirinya.
"Mak Njah, "
__ADS_1
"Anu mana? " tanya Mak Njah dengan kedua alisnya yang saling bertautan.
[Ada apa? ]
"Sebentar lagi akan ada yang datang, " mendengar hal tersebut Mak Njah langsung paham apa yang akan datang.
"Kuring bakal ngurus sagalana, "
[Saya akan urus semuanya]
Setelah itu Mak Njah membalikan badan dan melanjutkan apa yang ingin dirinya lakukan yaitu membuka pintu teropos di depanya.
Sreet!
Tepat setelah pintu terbuka cahaya matahari masuk kedalamnya hingga gudang yang tengah Mak Njah masuki akhirnya terang.
Tap,,, Tap,,, Tap,,
Mak Njah melangkah lebih dalam dan langsung menatap perempuan mengenaskan di depanya yang masih suka menatapnya dengan tajam padahal dirinya sudah seperti itu.
"Mau apa kau? " tanya Marie dengan nada ketus.
"Abdi ngan hoyong ningali anjeun," ujar Mak Njah dengan tersenyum simpul.
[Aku hanya ingin melihatmu]
"Geura-giru anjeun bakal boga semah, " lanjutnya dengan masih menunjukan senyum simpulnya.
[Sebentar lagi kamu akan kedatangan tamu]
Mak Njah menatap Marie yang tengah terikat di kursi kayu, perempuan yang masih setia menatap dengan tajam.
Mak Njah membalikan tubuhnya lalu berjalan menuju pintu teropos, kali ini dirinya tidak ada niatan untuk melukai Marie sebab perempuan setengah abad itu hanya ingin memberi tahu saja.
Sreet!
Pintu tertutup rapat dan ruangan gudang kembali gelap gulita sementara Marie hanya bisa menatap benci.
...✧༺♥༻✧...
Aleski menatap sebuah hamparan rumput hijau yang luas di depan matanya sendiri, dengan sebuah rumah kayu yang berdiri kokoh di atasnya.
Fera melangkah maju ke arah rumah kayu itu yang sudah ada wanita setengah abad menyambut kedatangan mereka Mak Njah.
"Permisi, " sapa Fera ketika sudah berhadapan dengan Mak Njah.
"Hm, "
"Apa benar ini Desa Kemangi? " tanya Fera.
"Leres, " jawab Mak Njah dengan singkat.
Fera terdiam, dirinya bingung harus memulai dengan apa dahulu sementara Aleski yang mengerti seketika maju.
"Permisi Nek, perkenalkan nama saya Aleski dan ini teman saya namanya Fera. Kami kesini untuk~"
"Kuring geus nyaho, " belum selesai Aleski berbicara namun sudah di potong oleh Mak Njah.
__ADS_1
[Saya sudah tahu]
Kedua gadis itu saling lirik sementara Mak Njah sudah berjalan entah kemana namun ketika menyadari bahwa dua gadis tersebut hanya diam saja dirinya langsung berhenti.
"Sabaraha lami anjeun bade cicing di dinya? " ucapnya kemudian kembali berjalan yang di ikuti Fera dan Aleski.
[Mau sampai kapan kalian diam di situ? ]
Mak Njah menggiring mereka berdua menuju gudang yang ada di belakang rumah kayu itu.
"Indung anjeun aya di dinya, " ujar Mak Njah sembari menunjuk ke arah gudang.
[Ibumu ada di dalam sana]
Aleski terdiam memandang Fera yang menggangguk, lalu dirinya menatap Mak Njah yang menatapnya juga namun dengan sinis.
Mak Njah kembali melangkah lalu mulai membuka pintu teropos itu, dengan di susul Aleski beserta Fera di belakangnya.
Sreet!
Setelah membuka pintu gudang dengan selebar-lebarnya Mak Njah langsung berjalan pergi meninggalkan mereka berdua tanpa sepatah katapun yang keluar.
,
,
Aleski melangkah masuk ke dalam gudang dan matanya langsung mendapati seorang wanita kurus dengan penampilan yang kusut.
"Mama, "
Marie yang mendengar suara seseorang seketika mendongak namun tatapanya menjadi sinis setelah tahu siapa yang ada di depanya.
"Mau apa kau? " tanya Marie dengan suara serak.
"Bagai~"
"Langsung saja, tidak perlu basa-basi. " Marie langsung memotong ucapanya sementara Aleski hanya bisa menghela napas dan berjalan lebih dekat lalu setelah berada tepat di depan Marie dirinya langsung duduk di depan Marie.
"Apa benar aku bukan anak kandung Mama? " tanya Aleski dengan menatap wajah Marie walau yang di tatap mengalihkan pandangannya.
Marie seketika tersenyum miring "Ya, kau memang bukan anak kandungku bahkan kau bukan anak kandung Marwin. "
"Mama tidak sedang bercanda kan? " tanya Aleski memastikan.
"Hahaha untuk apa aku bercanda Sabrina Aleskia!! " bentak Marie.
Air bening menetes dari kedua mata Aleski "Lalu siapa orang tuaku? "
"Orang tuamu itu sudah mati! " jawab Marie dengan penuh penekanan.
"Kenapa? kenapa mereka meninggal? " tanya Aleski.
"Karena aku bunuh!! ibumu dan ayahmu itu memang pantas untuk mati. " Marie kembali berucap dengan penuh penekanan.
Aleski terdiam, dirinya sekarang sudah tahu siapa orang tuanya dan siapa yang membunuhnya.
"Kenapa Mama bunuh orang tuaku?! kenapa! " tanya Aleski dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
__ADS_1
"Karena ibumu tidak mau memberikan Marwin!! " dengan emosi yang membuncah akhirnya Marie menatap wajah Aleski dengan perasaan benci.