Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 52 | Menyerahkan Diri Ke Kantor Polisi


__ADS_3

Srek,,, Srek, Srek,,,


Mak Njjah nampak menggeret kaki Marie yang sudah menjadi mayat dengan wajahnya yang berlumuran darah.


Bug!


Mak Njah melepaskan kaki mayat yang ia genggam tadi, lalu menatap galian tanah yang dirinya buat sendiri untuk menguburkan mayat Marie.


"Nyusahkeun," cetusnya seraya menendang tubuh Marie sampai benar-benar masuk ke dalam lubang galian.


Brug!


Mayat Marie akhirnya jatuh ke dalam sana, dengan cepat Mak Njah meraih cangkul miliknya lalu menimbunya.


Sebuah senyum misterius terukir di bibirnya, hatinya merasakan kepuasan tatkala melihat wanita yang paling dirinya benci sudah is kubur.


Di injaknya kuburan Marie seraya berbicara. "Mugia dilebetkeun ka naraka," usainya nampak angin berhembus kencang dengan di iringi hujan rintik-rintik.


...✧༺♥༻✧...


"Turunkan aku disini, " ucap Aleski dengan datar yang membuat Fera menoleh ke arah samping dengan wajah yang mengerut.


"Maksudmu apa? " tanya Fera tak paham dengan maksud Aleski, tidak mungkin kan jika gadis itu ingin turun di sini saja? bahkan ini masih jauh untuk ke rumah.


"Turunkan aku disini kak Fera, aku ingin hidup mandiri. " ucap Aleski masih dengan datar.


Ciit!


Sontak Fera langsung menghentikan mobilnya lalu menoleh ke arah Aleski yang juga menatapnya datar, "Why!? kenapa kamu minta turun? apa ada masalah?"


Aleski mengabaikanya dan lebih memilih untuk membuka pintu mobil namun sayangnya terkunci, di hembuskanya napas lalu menatap manik kebiriuan milik Fera.


"Terimakasih sudah mau membantuku, terimakasih sudah mau menjadi temank. Sekali lagi terimakasih," ucapnya.


"Ta~"


"Kak, biarkan aku hidup mandiri." ujar Aleski memohon.

__ADS_1


"Bukalah pintunya," ucap Fera datar dan lebih memilih untuk memandang ke arah depan.


"Terimakasih,"


Brag!


Pintu mobil terbuka dan setelah Aleski keluar kembali tertutup, setelah itu Fera yang kesal menjalankan mobilnya tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"Maafkan aku Kak, aku gak mau menyusahkan orang lain dan biarlah aku belajar hidup mandiri." gumam Aleski dengan sendu.


Prok,,, Prok,,, Prok,,,


Aleski menoleh menatap pria yang beberapa hari yang lalu pernah ia lihat sewaktu di labirin, Felix Endrosen.


Felix menatap gadis manis di depanya dengan tersenyum smrik, "Lihatlah, pelaku pembunuhan ini justru tidak berniat untuk menyerahkan dirinya ke kantor polisi. Padahal di seberang jalan terlihat jelas sebuah tulisan kantor polisi,"


"Maksud Tuan apa!? " tanya Aleski.


"Ck, dia bahkan tidak menyadari. Padahal baru saja sudah membunuh ibunya sendiri dengan sadis tapi malah berpura-pura lupa." bisiknya kepada anak buahnya namun suaranya sengaja ia perjelaskan agar Aleski mendengarnya.


Deg!


"Baiklah, aku mengakui jika aku salah." ucap Aleski menyadari.


"Hahaha, "


Mereka yang ada di depanya tertawa nyaring, lalu Felix mendekat ke arah Aleski dan menepuk-nepuk pundaknya seraya berkata "Kalau begitu serahkan dirimu ke kantor polisi, karena aku ingin melihatmu menderita di dalam jeruji besi!" setelah mengatakanya Felix langsung pergi bersama anak buahnya.


Tatapan Aleski kini menjadi kosong memikirkan segalanya, tapi dia sudah melakukan kesalahan besar.


"Baiklah, aku akan menyerahkan diri." gumamnya mantap lalu berjalan menyebrang untuk ke kantor polisi.


***


"Jadi kedatangan saudari Aleski datang kesini untuk menyerahkan diri? karena sudah melakukan pembunuhan. " ucap petugas kepolisian memastikan.


"Iya Pak," jawab Aleski, nampak pria berseragam itu menoleh ke rekanya.

__ADS_1


"Baik kalau begitu, mari saya antar saudari Aleski ke sel tahanan." ujar rekanya sembari bangkit yang di ikuti oleh Aleski, dengan patuh di ikutinya pria yang ada di depan untuk membawanya ke sel tahanan.


TrekTek!


Di bukanya jeruji besi yang di dalamnya terdapat tiga perempuan tengah saling memijat, namun ketika mendengar jeruji besi di buka mereka langsung mengalihkan perhatian.


"Silahkan masuk, "


Aleski menurut saja lalu masuk ke dalam sel, sementara pria itu menutupnya kembali lalu berjalan pergi.


Tiga perempuan tadi terus menatapnya dengan kening mengkerut, tak percaya gadis yang terlihat lugu justru melakukan hal yang melarang undang-undang.


Aleski yang di tatap terus seketika merasa kikuk sendiri, akhirnya ia memilih untuk menyapa saja "Ha-hay, "


"Hay, " saut mereka serentak.


"Aku boleh gabung? " tanya Aleski yang di balas anggukan oleh mereka.


"Boleh kenalan? namaku Sabrina Aleskia." ujar Aleski mengulurkan tanganya.


Mereka langsung menggapai tangan Aleski, dan yang pertama adalah wanita gemuk bernama Shela, lalu di susul oleh perempuan kurus bernama Riken. Dan yang terakhir perempuan berambut keriting dengan kulit hitam bernama Selis.


Usai berkenalan mereka kini saling berdiam diri, sampai akhirnya Selis membuka suara dengan sebuah pertanyaan.


"Sa mau tanya, Ko kenapa bisa masuk di sini? " perempuan logat papua itu bertanya mewakili yang lain.


"Aku membunuh seseorang," jawab Aleski yang membuat Selis tertekun.


"Kalau kakak-kakak kenapa bisa berada di sini? " tanya balik Aleski.


"Sa mencuri uang Bos semasa bekerja, " ungkap Selis.


"Aku merampok Bank," lanjut Riken.


"Kalau aku membunuh adiku sendiri," timpal Shela dengan enteng.


Aleski hanya tersenyum kikuk saja mendengar jawaban teman barunya.

__ADS_1


,


__ADS_2