
Hari sudah malam menampakkan bulan berbentuk bulat sempurna dengan bintang-bintang yang menemaninya.
Aleski terduduk lemas bersandar ke tembok membiarkan pria angkuh itu meninggalkanya sebab ia merasa lemas apalagi perutnya merasa lapar.
"Astaga, aku lapar tapi di sini tidak ada apapun yang bisa aku makan. " gumam Aleski dengan menelungkupkan wajahnya di lututnya.
Tap,,, Tap,,, Tap,,,
Aleski mendongak saat mendengar suara langkah kaki seseorang dan ternyata itu adalah Alan yang masih fokus meraba tembok dengan ekpresi wajah sangat serius berharap menemukan sesuatu yang dapat membantunya untuk lolos.
"Tuan, "
Alan menoleh dan betapa kagetnya saat melihat Aleski tengah menatapnya dengan wajah datar dan bibir yang pucat.
"Kamu ngapain di sini? " tanya Alan dengan menautkan kedua alisnya memperhatikan Aleski yang tengah duduk manis di lantai.
"Dari tadi saya sudah di sini Tuan, " jawab Aleski dengan santai lalu kembali menelungkupkan wajahnya di lutut.
"Jadi dari tadi aku hanya berputar-putar?" ucap Alan yang tidak ada balasan dari Aleski, jujur pria angkuh itu merasakan betisnya kaku akhirnya dengan malas berjongkok dengan kepala mendongak dan matanya yang terbuka menatap malam yang indah, Mungkin.
***
Waktu semakin berlalu dan di saat itulah malam bertambah larut dengan hembusan angin yang menenangkan.
Aleski yang tidak dapat tidur akhirnya mendongak dan langsung menampakkan Alan yang tengah memejamkan matanya walau sebenarnya dia tidaklah tidur.
Aleski bangkit melepas sandalnya lalu mulai berjalan dengan tangan yang meraba-raba, ia berharap akan menemukan petunjuk dari pada berdiam diri.
Tap,,, Tap,, Tak,,
Bunyi langkahnya ada yang berbeda seperti melangkah di atas sebuah besi dan seperti mendapatkan udara segar Aleski segera memeriksa.
Tidak ada yang berbeda, namun jika dirinya sentuh ada tekstur yang berbeda dari salah satu lantai dimana ia injak terasa dingin sementara yang lainya terasa hangat dengan butiran-butiran pasir.
Tanganya menyentuh lantai dingin itu dengan mencoba berbuat sesuatu dengan lantai itu dan akhirnya.
Krek!
Terbuka, di sana muncul sebuah lorong yang sangat gelap, ragu. tentu saja Aleski merasa ragu untuk masuk ke dalam lubang yang tidak seberapa itu namun mungkin saja itu adalah tempatnya untuk lolos.
Kedua kakinya mulai masuk ke dalam lubang itu dan setelah merasa yakin akhirnya dirinya memberanikan diri.
__ADS_1
Sluur!
Meluncurlah dia masuk lebih dalam dan di hatinya terus berharap semoga di sana tidak menyeramkan.
Bugh!
Aleski telah mendarat dengan sempurna dan di sana matanya langsung di suguhkan dengan dinding yang terbuat dari tanah, labirin bawah tanah mungkin itulah nama yang pas untuk apa yang sedang di lihat oleh mata kepala Aleski sendiri.
"Aku kira jalan keluar, " Aleski mendengus kesal ketika tidak sesuai dengan ekspetasi-nya, apalagi dirinya sudah merasa lapar karena belum makan sama sekali.
Aleski akhirnya melangkahkan kakinya menyusuri lorong yang entah akan berakhir sampai kapan.
"Ke kanan, kiri atau lurus? " Aleski berfikir ketika melihat tiga tikungan yang entah akan membawanya kemana.
...✧༺♥༻✧...
Sementara di tempat lain nampak Alan masih memejamkan matanya berusaha menahan rasa lapar, rasa lapar ini kembali dirinya rasakan setelah puluhan tahun namun sekarang ia kembali merasakanya sangat lapar.
"Sialan, kenapa harus begini!!" teriak Alan dengan frustasi dan sekarang matanya sudah terbuka tak tertutup lagi dengan wajahnya yang memerah.
Namun ia baru sadar jika gadis yang tadi di depanya dengan menumpukan kepalanya di antara lututnya sekarang sudah tidak ada.
Sendirian, Ya. itulah yang di rasakan sendiri oleh Alan yaitu sendirian, sebenarnya dirinya tidak mempermasalahkan hal itu namun sekarang tidak ada yang menemani langkahnya selama mencari jalan keluar.
Bragk!!
"Aahhkk! "
Sungguh Alan sangat terkejut saat dirinya sendiri terjatuh ke dalam lubang yang entah akan membawanya kemana.
...✧༺♥༻✧...
Gadebug!
"Huh,,, huh,,"
Aleski bernafas dengan tersengal-sengal, sedari tadi ia terus berjalan tanpa henti hingga akhirnya terjatuh sangking tak kuat dirinya berjalan.
Di senderkanya ke dinding yang terbuat dari tanah tersebut, keringat sebesar biji jagung terus menetes dari dahi dan lehernya karena lelah namun bukan hanya lelah yang ia rasakan tapi juga engap ketika harus berada di labirin bawah tanah.
Tap,,, Tap,,, Tap,,,
__ADS_1
Suara langkah kaki berhasil mengalihkan pandangan Aleski dan langsung mendapati pria angkuh itu yang tengah berjalan dengan lemas seperti tak ada semangat lagi.
Dengan acuh Aleski menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya kembali.
Gadebug!
Alan menjatuhkan tubuhnya di samping Aleski.
"Aku kira Tuan sudah menemukan jalan keluar, " ucap Aleski dengan tiba-tiba sementara yang di tanya hanya diam.
"Saya hanya ingin mendapatkan jawaban atas semua teka-teki di hidup saya, tapi saya harus terjebak disini dan jika memang tidak bisa keluar tidak apa. mungkin saya memang tidak di perbolehkan untuk mengetahui semuanya, "
Lagi, Aleski mencurahkan isi hatinya namun pria di sampingnya hanya diam dengan sesekali berdehem tak menjawab sedikitpun pria angkuh itu masih asyik memejamkan kedua matanya.
"Tuan tahu? kemarin ketika aku mengetahui bahwa aku bukanlah anak kandung, rasanya rapuh tetapi tak apa. mereka mau merawatku saja aku sudah bersyukur setidaknya aku tidak terlantar."
"Maaf, mungkin aku terlalu banyak bicara. sebab aku ingin bercerita membagi beban yang aku hadapi selama ini. "
"Hm, "
Hanya itu respon yang di berikan oleh Alan, sedari tadi pria angkuh itu memang hanya diam merasa tak perduli.
"Oh ya, kesan dan pesan anda sekarang ini apa? " tanya Aleski dengan menoleh ke arah Alan dengan mata yang memandanginya, sementara orang itu membuka matanya.
"Maksudmu? "
"Ya aku hanya ingin tahu saja, " jawab Aleski dengan tersenyum sementara Alan tengah membenarkan posisinya.
"Yang aku rasakan saat ini adalah rasa takut, takut jika aku mati sekarang karena jika aku mati tidak ada lagi yang menjaga orang yang aku sayang aku juga tidak mau membuat orang lain menangis karena aku. sementara pesanku hanya satu tetap semangat jangan menyerah karena impian tak akan terjadi jika tidak ada semangat. "
Aleski tersenyum akhirnya pria di sampingnya itu berbicara panjang tidak singkat seperti biasanya.
"Lalu? apakah Tuan mau mencari jalan keluar? " tanya Aleski yang membuat Alan menoleh.
"Aku tidak yakin, "
"Gagal dalam perjuangan belum tentu berarti kemunduran. " ucap Aleski yang sudah bangkit, rasa lelahnya sudah menghilang dan sekarang dirinya ingin melanjutkan perjalanan.
Akhirnya Alan bangkit, berjalan di belakang Aleski dengan mata yang menoleh kemana-mana mencari sebuah petunjuk.
"Apa anda tau? tiap orang bisa punya mimpi, tapi tak semua bisa bangkitkan semangat tinggi. "
__ADS_1
.