Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 31 | Masa Lalu


__ADS_3

Mereka sudah sampai di rumah dan Oma Iris langsung menuju kamarnya untuk beristirahat karena dirinya hanyalah manusia biasa yang sudah tua dan pastinya akan mudah lelah.


Begitu juga dengan Alan yang langsung ke kamar, kecuali Aleski. dirinya langsung menuju dapur untuk mengisi perutnya yang lapar sebab tadi dirinya tidak makan apapun hanya meminum minuman sedikit dan itupun karena dirinya di paksa oleh Oma Iris yang tanpa sadar berhasil membuatnya sakit perut.


Aleski mengambil makanan dan langsung melahapnya bahkan tidak perduli walau pakaian yang ia kenakan sudah belepotan karena sangkin lahapnya Aleski.


Namun Aleski terdiam saat mendengar suara dispenser dengan suara batuk dan seketika Aleski menoleh di saat itulah dirinya melihat seorang pria dengan memakai baju tidur di depan dispenser, namun ketika pria itu akan menoleh dengan cepat Aleski mengalihkan pandangannya dan melanjutkan acara makanya.


Tak... Tak... Tak...


Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah Aleski dan pria itu langsung duduk di kursi seraya meminum air putih dan ternyata pria itu adalah Alan.


Sementara Aleski hanya bisa diam jujur dirinya gemetaran saat berdekatan dengan Alan yang menurutnya sangat menakutkan itu dengan sikap dinginya.


Tuk...


Alan meletakan gelas mewah terbuat dari berlian itu ke atas meja kaca dengan ukiran yang sangat cantik dari emas, namun bukanya bangkit atau apa Alan justru terdiam memandangi Aleski yang mampu membuat Aleski semakin gemetaran, dan akhirnya Aleski memberanikan diri untuk bersuara.


"A-ada apa tuan mafia? " tanya Aleski dan seketika Alan mengalihkan perhatianya.


"Tidak, " jawab Alan singkat yang di balas anggukan Kepala dari Aleski tanda mengerti.


"Tapi saya minta kamu jangan panggil saya tuan mafia karena itu bukan nama saya! " ujar Alan.


"La-lalu sa-saya hari panggil? " tanya Aleski lagi.


"Alan, "


"Ba-baik tuan mafi.. eh maksudku tuan Alan. " ucap Aleski dengan nada gemetaran sementara Alan bangkit meninggalkan Aleski sendirian di sana.


...✧༺♥༻✧...


Oma Iris yang berada di kamar belum juga tidur, dirinya lebih memilih menatap lurus ke depan dengan meneteskan air matanya ketika mengingat masa lalu.


"Aku akan membuat mereka merasakan apa yang kalian rasakan. " gumam Oma Iris bahkan tanganya mengepal saat mengingat masa lalunya bahkan berhasil membuat dirinya benci bahkan sangat benci.


Flashback On


Api berkobar dari seluruh rumah dan di dalam salah satu rumah tiga orang sedang meringkuk di lantai sekaligus menangis sejadi-jadinya.


"Ibu!! Ayah! " seorang anak laki-laki menangis pilu ketika melihat dua orang yang sangat dia cintai dan sayangi sudah menjadi mayat.


"Kalian keluar lah! " ujar seorang lelaki paruh baya yang sedari tadi terus menyuruh dua orang itu keluar.

__ADS_1


"Tidak, aku gak mau keluar. kalo mereka mati aku juga akan ikut mati! " ucap seorang wanita paruh baya yang masih keukeh ingin tetap di sana tak mau pergi meninggalkan anak dan menantunya sementara lelaki paruh baya itu semakin emosi.


"Kalo kamu udah pengen mati ya silakan, tapi selamatkan dulu Izan. dia harus tetap hidup!, " tegas lelaki paruh baya itu yang berhasil menyadarkan wanita paruh baya yang tadi keukeh ingin berada di sana sedangkan anak laki-laki yang bernama Alan Ghaizan Mahendra masih menangis dengan terus mengguncangkan tubuh orang tuanya berharap mereka akan membuka matanya.


"Tapi.. " belum selesai wanita paruh baya yaitu Oma Iris berucap sudah di potong oleh lelaki paruh baya yang bernama Slamet Rahardjo.


"Sudah! jangan banyak omong, untuk mereka ini sudah takdir! " pak Slamet berucap dengan lantai seraya menggendong cucunya.


"Ayo! " pak Slamet menarik tangan Oma Iris dengan sangat kencang yang di pikiranya saat ini hanya keluar dengan selamat.


Ketika sedang melangkah, nampak kayu yang sudah di penuhi oleh api terjatuh dan berhasil membuat Alan kecil semakin histeris.


Pak Slamet menurunkan Alan kecil dari gendonganya begitu juga dengan tangan kirinya yang melepas genggaman tangannya dari tangan Oma Iris.


"Kalian duluan, " pak Slamet berucap namun Oma Iris terlihat ragu tetapi ketika suaminya menunjukan mata emangnya seketika dirinya menurut lalu menggendong Alan kecil yang masih menangis sementara pak Slamet menyusul.


Kretek...


Sebuah kayu kembali terjatuh dan tepat mengenai pak Slamet dan karena itu berhasil membuat Oma Iris dan Alan kecil histeris maka dari itu Oma Iris hendak mendekat namun Pak Slamet melarang.


"Jangan hiraukan aku, kau selamatkan Izan. jaga dia dengan baik sayangi Izan didiklah dia dengan baik jadikan anak yang berbakti dan bisa membanggakan untuk aku kau tidak perlu khawatir karena ini sudah takdir." pak Slamet berucap dengan tersenyum namun dari ekpresinya memang tidak bisa berbohong karena terlihat jelas lelaki paruh baya itu sedang menahan sakit karena api sudah membakarnya.


"Tap.. " Lagi-lagi ucapan Oma Iris terpotong karena ucapan Pak Slamet.


"Aku mencintaimu Grecia Irisliana, aku akan menunggumu di syurga. " lanjut pak Slamet sebelum menutup matanya untuk selamanya.


"Hiks... Hiks... Hiks.. " Alan kecil menangis ketika melihat orang yang dia sayangi meninggalkanya setelah orang tuanya.


Oma Iris menitikan air matanya, dirinya merasa sudah tidak mempunyai semangat hidup namun ketika mengingat ucapan suaminya, dirinya merasa harus hidup demi cucu yang masih berumur enam tahun.


Dengan hati-hati Oma Iris melangkah berusaha menghindari kepingan kayu yang siap membakar dirinya dan akhirnya dirinya berhasil keluar dari sana.


Matanya berkaca-kaca melihat rumah yang sudah di tempatinya selama puluhan tahun sekarang sudah hancur akibat si jago merah.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. " Alan kecil masih menangis di pelukan neneknya.


"Loh kok jagoan nenek nangis? cucu nenek kan Ultraman jadi gak boleh nangis, entar Ark Bogar malah seneng, " hibur Oma Iris dengan menyebut cucunya sebagai Ultraman tokoh pahlawan super.


Alan kecil yang mendengar itu seketika tersenyum seraya menghapus air matanya.


Hahaha!!


Terdengar suara seseorang tertawa dan seketika Oma Iris menoleh mencari siapa yang sedang tertawa dengan bahagia.

__ADS_1


Matanya menangkap sosok laki-laki dengan banyak pria menyeramkan di sekitarnya.


"Om itu siapa nek? " tanya Alan kecil sembari menunjuk sekumpulan pria yang terlihat sedang berbahagia.


Hap!


Oma Iris menutup mulut Alan kecil sebab dirinya merasa ada yang tidak beres maka dari itu wanita paruh baya tersebut dengan cepat bersembunyi di semak-semak.


Pria itu menoleh karena mendengar seperti ada orang lain namun matanya tidak melihat apapun dan setelahnya pria itu kembali tersenyum.


Setelah itu mereka tinggal di kolom jembatan karena tidak mempunyai apapun namun beruntung ada orang baik yang memberikan tempat tinggal dan saat itulah perjuangan mereka di mulai.


Oma Iris mulai mencari pekerjaan yang dirinya bisa dan akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sebagai penjahit.


Namun karena Oma Iris memang sangat pandai dengan masalah menjahit bahkan dirinya sangat pandai mendesain maka dari itu Oma Iris menjadi seorang Desainer dan akhirnya dirinya sukses dengan hasil yang sangat di sukai oleh banyak orang sampai akhirnya Oma Iris membuka usaha toko Butik yang sangat di sukai hingga Oma Iris bisa menyekolahkan Alan dengan setinggi-tingginya.


Namun dirinya bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba menghina dirinya.


"Bukankah ini salah satu orang yang rumahnya kita bakar? "


"Iya, dan lihatlah sekarang dia menjadi gembel. "


"Iwh, sangat menjijikan. "


"Sangat menjijikan maka dari itu kau orang MISKIN lebih baik pergi sejauh-jauhnya, jangan sampai kemiskinanmu itu menular"


Oma Iris yang mendengar dua orang itu berbicara seenaknya tanpa di saring terlebih dahulu hanya bisa pasrah dengan menunduk memainkan ujung bajunya yang terlihat lusuh walau dirinya sudah sukses namun ia tidak mau memakai barang mewah yang nantinya akan membuat dirinya sombong.


Dua orang di hadapannya satu wanita dan satunya pria terus menghina dengan tangan yang menunjuk-nunjuk wanita paruh baya di depanya tanpa tau sopan santun.


Dan setelah puas mereka menghina akhirnya melangkahkan kaki pergi sementara Oma Iris meneteskan air matanya yang sudah dirinya tahan dan sekarang ia tau siapa yang sudah membakar rumahnya sekaligus rumah-rumah yang lain dengan seenak jidatnya


yang sekarang sudah menjadi gedung.


Oma Iris melangkah pergi pulang ke rumahnya yang langsung di sambut dengan banyak pertanyaan dari cucunya, Alan.


Oma Iris akhirnya menceritakan semuanya yang langsung membuat Alan merasa emosi dan akhirnya dengan tekad Alan mencari tahu tentang dua orang itu yang ternyata bernama Atalie Rosaela dan Harison Gantara.


Tengah malam Alan mendatangi rumah mereka dengan memakai hodie dan masker tidak lupa membawa senjata tajam.


Setelah masuk ke dalam rumah dirinya langsung membunuh dua orang itu dengan tragis namun karena belum merasa puas Alan menggeret dua orang itu sampai ke ruang tengah setelah itu dirinya memaksa seorang wanita untuk ke ruang tengah dan di saat itulah Alan membunuh dua orang itu.


Membiarkan wanita tadi menangis histeris karena dirinya melihat pembunuhan di depan matanya dengan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2