
Dinding tinggi setinggi-tingginya dengan jalan yang berkelok-kelok dimana hanya berputar saja ke satu tempat yang sama, Labirin.
Langit mendung hendak meneteskan air dari langit dimana berhasil membuat Aleski yang pingsan sadar.
Dirinya mencoba untuk memperjelas penglihatannya dan setelah sadar seketika ia terperanjat.
'Dimana ini? '
Matanya menoleh kesana-kemari yang hanya ada tembok dan tembok yang menjulang tinggi.
Matanya menoleh kembali ke arah kanan dan matanya langsung terbuka lebar saat mendapati Alan seperti tengah frustasi.
Tes,, Tes,, Tes,,
Hujan rintik-rintik mulai membasahi tubuh keduanya, Alan melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya lalu setelah itu kembali acuh dan melepas jaketnya untuk menutupi tubuhnya agar tidak terkena air hujan.
Membiarkan Aleski kedinginan karena hujan semakin lebat dengan suara petir yang bersahut-sahutan dengan angin menambah hawa dingin sampai menusuk ke tulang.
Gadis berusia dua puluh tahun itu menggosokan kedua telapak tanganya agar merasa hangat.
Jger!!
Sekilas bumi menjadi terang benderang setelah itu kembali seperti semula namun karena suara yang barusan terjadi membuat Aleski menutup telinganya.
"Dasar lemah!"
...✧༺♥༻✧*...
Felix Endrosen tengah tersenyum smrik memandang layar I-ped di tanganya melihat dua orang yang sudah dirinya tangkap.
Sebenarnya ia tidak ada niatan untuk membunuh teman semasa sekolahnya dulu yang sudah membully pria culun berkacamata dengan wajah penuh jerawat.
Felix hanya ingin membuat pria berusia tiga puluh tahun itu merasakan apa yang dulu dirinya rasakan, di sesadkan di cekoki minuman keras. di olok-olok dan di perlakukan tidak senonoh.
"Aku hanya ingin kau merasakan apa yang aku rasakan, seperti sekarang ini aku akan membuat kau merasa tersesat dan pada akhirnya bersimpuh di depanku memohon ampun. " gumam Felix mengingat masa sekolah dulu.
Flashback On
"Akh! "
Teriak Felix pria culun berkacamata dengan wajah penuh jerawat yang di mata orang-orang terkesan menjijikan.
"Hahaha,,, dasar cowok culun gak guna!"
"Mati aja Lo! "
"Orang kayak elo tuh gak pantes hidup! "
"Bisanya cuman malu-maluin aja, "
"Menjijikan! "
__ADS_1
"Elu tuh lebih mirip B**i tau gak?! "
Hahaha!
Mereka tertawa gembira di tengah gelapnya malam apalagi posisi mereka saat itu malam hari yang bisa di pastikan sangat-sangatlah gelap.
Mereka mengerubungi Felix yang ketakutan sama halnya seperti Alan yang tengah mengambil seekor ular hitam panjang yang di lilitkan ke kayu yang di tanganya.
"Makan nih! "
Alan menyodorkan ular itu ke arah Felix dengan menyeringai sementara Felix hanya bisa mundur sebab dirinya tidak menyukai ular.
Brugh!
"Akh! "
Feldon menendang pergelangan kaki Felix sehingga sang empunya terjatuh dan di saat inilah kesempatan emas bagi Alan untuk melempar ular ke arah Felix.
Bhas!
"Aaaa! "
Felix kembali berteriak ketika ular hitam panjang itu merayap di tubuhnya dengan sangat bahagia.
"Nikmati malam kalian berdua, "
"Kami tidak akan menggangu kalian, jadi tenang saja. "
Enam orang itu akhirnya pergi meninggalkan Felix bersama ular yang masih asyik menggerayangi tubuh Felix sementara sang korban mencoba untuk tetap tenang walau rasanya sangatlah sulit.
Menit hingga menit terlewat dan akhirnya ular itu sudah menjauh, di saat itulah pria culun itu bisa bernafas lega namun kelegaanya seketika hilang saat menyadari bahwa dirinya sedang berada di tengah-tengah hutan, sendirian.
Tak ingin berlama-lama dalam kesendirian akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dan berjalan berusaha mencari jalan keluar namun tak dapat di pungkiri lagi bahwa pria culun itu bukanya semakin dekat ke arah tenda malah semakin jauh masuk ke hutan.
...***...
Akhirnya sudah waktunya untuk pulang ke rumah masing-masing dan sekarang keadaan di tempat kemping sangatlah ricuh dengan orang-orang yang sedang membereskan.
Ada juga yang sedang bercanda, tertawa dan serius seperti Alan, Feldon, Jeki, Rendom, Laydi, Reynold sekumpulan pria yang sudah berbuat jahat kepada Felix sewaktu malam itu sedang tertawa dengan riang tanpa membantu yang lain sama sekali.
Berbeda dengan para panitia yang merasakan cemas sebab salah satu siswa menghilang entah kemana mereka sudah mencarinya namun nihil apalagi hutan yang sangat luas semakin membuat mereka susah dalam mencari.
***
Felix terduduk lemas di bawah pohon dengan memakan daun untuk mengganjal perutnya yang keroncongan minta di isi.
"Aku rasa akan mati konyol di sini, apalagi aku sudah kehilangan semangat untuk berjalan. " lirih Felix dengan menatap sendu ke arah daun yang dirinya barusan konsumsi.
"Ini semua karena mereka, " lanjutnya dengan mata yang memerah dan rahang sudah mengeras.
[Setelah berhasil keluar dari sini kau harus balas dendam]
__ADS_1
[Jangan! manusia tidak berhak untuk menghukum sesama manusia, biar Tuhan saja yang membalas]
[Jangan dengarkan malaikat putih itu Felix!! jika kau mendengarkanya maka kamu menjadi satu-satunya manusia paling bodoh di dunia]
[Apa yang di katakan malaikat hitam itu tidak benar, kau harus memaafkanya karena manusia itu adalah mahluk yang selalu berbuat salah]
[Halah,, walau begitu nanti juga akhirnya manusia melebihi setan]
"Diam! "
Felix berteriak dengan tangan yang mengepal merasa pusing karena isi kepalanya tengah berdebat hebat.
Felix kembali bangkit berjalan dengan malas tanpa arah, setengah hari dirinya berjalan dengan asal sampai akhirnya telinga kanan dan kirinya mendengar banyak orang berteriak.
"Felix! "
"Aku disini!! "
Felix meloncat-loncat dengan tangan yang melambai-lambai dan akhirnya sekumpulan orang itu menoleh setelah itu dengan cepat pula mereka mendekat.
Flashback Of
Ya, akhirnya bisikan malaikat hitam dirinya pilih sebab ia tidak bisa membiarkan orang yang dengan mudahnya membuat dirinya menderita dan dengan mudah pula mereka bisa tertawa.
...✧༺♥༻✧...
Hujan mereda dan sekarang Aleski sudah basah kuyup dengan menggigit kedinginan sementara Alan tidak basah karena ia berlindung di jaketnya.
"Manusia, "
Hening, tidak ada jawaban sama sekali sebab tidak ada yang merasa akhirnya Alan menoleh ke arah kiri.
"Heh! apa kau tuli! "
Aleski tersentak dan langsung menoleh dengan pandangan menunduk tak berani menatap pria angkuh di depanya itu yang mungkin saja sudah keluar tanduk.
"Aku sudah membantumu dan sekarang kau harus menuruti apa yang aku katakan, " ucap Alan.
"I-iya, " balas Aleski dengan suara bergetar sedangkan Alan bangkit menatap ke atas yang nampaknya tinggi.
Alan berjongkok "Naik, " dengan menepuk pundaknya namun Aleski hanya diam melihat ke arah Alan.
"Ayo naik, " dengan nada ketus kembali Alan berucap dan dengan ragu Aleski naik ke pundak Alan.
Alan dengan perlahan berdiri dan Aleski hanya diam dengan berpegangan kepada tembok agar tidak terjatuh.
"Coba kau naik ke tembok, " ujar Alan namun Aleski tidak bisa berbuat apapun itu sebab hanya kepalanya yang terlihat.
"Tidak bisa Tuan, ini sangatlah tinggi. " ucap Aleski, Alan yang mendengar penuturan Aleski seketika mendengus kesal setelah itu menurunkan Aleski dengan kasar.
Brugh!
__ADS_1
"Aduh! "
Alan berjalan meraba tembok berharap akan menemukan sesuatu meninggalkan Aleski sendirian di sana.