Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 36 | Mimpi Marwin


__ADS_3

Aleski tengah berjalan di trotoar dengan betisnya yang terasa pegal ketika berjalan dari rumah sakit sampai di lokasi sekarang ia berada.


"Capek, " keluhnya dengan mengusap keringat yang terus mengucur.


Kalau saja para Bodyguard berbadan gede itu tidak menyuruhnya pulang ke rumah yang sedang di hindari olehnya, pasti sekarang masih di rumah sakit.


Aleski yang merasakan betisnya tidak karuan karena terus berjalan tanpa henti akhirnya memutuskan untuk duduk di pinggir trotoar sembari berteduh di bawah pohon untuk menghindari sinar matahari yang sangat menyengat.


"Huh panas, " gumam Aleski sembari mengibas-ngibaskan tanganya bahkan tidak menghiraukan para pejalan kaki yang memperhatikanya.


...✧༺♥༻✧...


Sementara itu di ruang ICU dimana terdapat seorang pasien yang masih betah terbaring di ranjang dengan berbagai macam alat.


Matanya terpejam menikmati mimpi yang dia dapati ketika bertemu wanita yang di cintainya pada pandangan pertama namun semua itu seketika sirna saat melihat dua manusia berbeda kelamin sedang bermain di atas ranjang.


Di alam bawah sadar pasien itu yang tak lain adalah Marwin di kagetkan dengan seorang wanita yang datang ke arah kursi yang ada di taman dimana dirinya duduk di sana.


"Elline,"


Nampak wanita yang di panggil Elline tersenyum bahkan terlihat sangat bahagia sementara Marwin dengan segera berjalan mendekat ke arah wanita tersebut.


"Apakah benar ini kau Elline Maresya?" tanya Marwin dengan mata berkaca-kaca sedangkan wanita yang di tanya mengangguk tanda mengiyakan bahwa dirinya memanglah Elline Maresya.


"Ti-tidak mungkin, " seketika Marwin merasa ketakutan.


"Iya ini aku, Elline Maresya orang yang sudah kamu bunuh tapi tak apa asalkan anaku tidak kau bunuh. " ucap wanita itu dengan senyuman yang merekah.

__ADS_1


"Ta-tapi kau sudah aku bunuh, " ujar Marwin.


"Hehehe iya aku sudah kau bunuh, " ucap wanita itu dengan terkekeh.


Marwin merasa bingung dengan situasi saat ini namun beberapa saat kemudian dirinya di buat tambah bingung karena seorang pria datang.


"Nicholas, "


Pria tersebut tersenyum di samping wanita yang juga tersenyum lalu berkata, "Aku titipkan anaku kepadamu Marwin, jaga dia dengan baik dan jangan biarkan air mata menetes dari mata indahnya. sudah cukup anaku menderita sekarang dia harus bahagia, "


"Anggap dia seperti anakmu sendiri, dan berhentilah melampiaskan dendamu yang seharusnya kau tujukan kepadaku. Karena anaku tidak bersalah bahkan dia tidak tau apa-apa. "


Marwin tertegun mendengar ucapan dua orang yang sangat di kenalinya, memang anak mereka tidak bersalah bahkan tidak tau apa-apa tapi malah di siksa olehnya karena bagi Marwin anak mereka sama seperti orang tuanya.


Di saat Marwin sedang terdiam mereka sudah pergi entah kenapa dan di saat itulah Marwin berhasil membuka matanya yang langsung melihat ruangan berwarna putih.


...✧༺♥༻✧...


"Mau hujan, " Aleski bangkit namun terlihat sebuah mobil berhenti tepat di depanya dengan kaca mobil yang di turunkan dan barulah terlihat siapa pemilik mobil tersebut. Alan.


"Naik, "


Dengan cepat Aleski mengayunkan kakinya mendekat ke arah mobil yang di kendarai oleh Alan,


Aleski duduk di kursi belakang sementara Alan mulai menjalankan mobilnya menembus kota metropolitan.


Di sepanjang jalan hanya ada keheningan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sampailah mobil berhenti di depan Restoran Mewah.

__ADS_1


"Turun, "


Aleski menurut lalu turun dari mobil dan mengikuti Alan yang sudah berjalan terlebih dulu dengan gagahnya sampai-sampai banyak mata yang memandang.


"Kayak artis, " gumam Aleski yang merasa takjub apalagi ketika melihat orang-orang mulai memotret Alan.


Aleski duduk di kursi, di depanya sudah ada Alan yang sedang memilih menu sementara Aleski hanya bisa berdiam diri.


[Pria itu sangat tampan iya kan?]


[Iya sangat tampan]


[Siapa pria itu? kenapa sangat tampan,]


[Dia adalah Alan Ghaizan Mahendra seorang pengusaha kaya raya]


[Aku akan menjadi wanita yang paling beruntung jika bisa menjadi istrinya]


[Iya, tapi yang aku dengar Nyonya Irisliana sangat dingin dan bukan hanya itu dia juga sangat misterius jadi sangat sulit untuk menjadi istri dari cucunya]


[Ngomong-ngomong siapa perempuan itu?]


[Apakah dia kekasih tuan Alan?]


Semuanya berbisik-bisik membicarakan Alan bahkan Aleski pun yang notabenya tidak tau apa-apa harus menjadi bahan obrolan mereka.


Sedangkan Alan nampak biasa saja tidak memperdulikan dengan yang sedang di bicarakan bahkan dengan santainya Alan menatap tablet di tanganya.

__ADS_1


__ADS_2