
Sepuluh bulan telah berlalu, namun masih belum ada yang tahu keberadaan Eline selama ini. Entah hidup atau tidak itu belum di ketahui.
Kini Marie dan Marwin tengah duduk berhadap-hadapan di sebuah restoran dengan berbagai macam makanan terisi penuh di atas meja.
Tik!
Tik!
Hanya ada suara dentingan yang terdengar sepanjang mereka makan, tak ada obrolan ringan maupun berat sekalipun. Mereka hanya di sibukan dengan pikiran mereka masing-masing walau Marie sesekali mencuri pandang terhadap Marwin.
Dert,,, Dert,,,
Terdengar suara nada dering yang berasal dari ponsel milik Marwin, sekilas matanya melirik ke layar yang menyala untuk membaca nama si penelfon. Rupanya itu anak buahnya, dengan segera jari-jemarinya mengangkat telepon tersebut.
"Ada apa? " tanya Marwin langsung tanpa basa-basi.
"Bos, tadi saya melihat ada yang mirip sekali dengan Nona Eline. Dia ke toko swalayan tapi karena mirip dengan Nona Eline saya ikuti dan dia masuk ke dalam sebuah rumah di belakang bangunan gedung-gedung. " jawab anak buahnya di seberang sana.
"Dimana? "
",,,, "
Marwin seketika terdiam saat mendengar jawaban anak buahnya mengenai keberadaanya sekarang, karena untuk kesana sangatlah membutuhkan waktu apalagi harus menaiki berbagai kendaraan dari mulai pesawat lalu kereta setelah itu roda empat.
"Marwin, ada apa? " tanya Marie seraya menoleh ke arah Marwin.
Namun yang di tanya hanya diam memikirkan banyak hal, bagaimana jika itu memang benar Eline mantan tunanganya?.
"Marwin, "
Panggilan dari Marie di abaikanya, dirinya langsung berlari keluar dari restoran dengan tangan yang menelfon seseorang sementara Marie di belakang sana tidak tinggal diam. Ia berlari mengikuti Marwin yang masuk ke dalam mobil miliknya dan Marie-pun ikut masuk ke dalam mobil.
"Aku ikut, " ucap Marie sementara Marwin hanya berdehem saja dengan tanganya yang masih sibuk mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi anak buahnya.
Akhirnya di saat itu juga mobil melaju menuju ke bandara yang ada di kota itu untuk menuju tempat yang di maksud oleh anak buahnya barusan di telepon, di perjalanan nampak Marwin terlihat gusar tak bisa diam sama sekali sementara Marie hanya diam dengan tersenyum tipis.
***
Mereka menaiki pesawat dan kereta tak lupa juga mengendarai kendaraan roda empat sampai beberapa jam untuk sampai tujuan.
Hingga sekarang Marwin tengah menatap kota yang jauh dari tempat semula dirinya berada, kota yang penuh dengan suara bising kendaraan yang berlalu lalang dengan orang-orang beraktivitas seperti biasa. Tak lupa juga bangunan-bangunan tinggi yang ikut mewakili seberapa sibuknya kota itu.
Namun, yang lebih Marwin perhatikan hanyalah sebuah gang yang terselempit di antara bangunan-bangunan tinggi itu.
"Mari Tuan, " Jon, salah satu anak buah Marwin yang menghubunginya siang tadi.
Tanpa ragu Marwin langsung mengayunkan kaki panjangnya mengikuti kemana arah Jon pergi, begitu juga dengan Marie yang mengikuti paling belakang.
"Tadi saya melihat wanita itu masuk ke dalam rumah itu, Tuan. " ujar Jon dengan menunjuk sebuah rumah yang tidak besar tapi tidak kecil juga.
Tanpa menjawab Marwin langsung melangkah maju mendekat ke arah rumah yang di maksud, hingga langkahnya terhenti ketika sudah berada tepat di depan pintu. Tanganya terangkat hendak mengetuk walau rasanya sedikit ragu namun akhirnya tangan itu menempel juga di pintu.
Tok,,, Tok,,, Tok,,,
__ADS_1
Tok,,, Tok,,, Tok,,,
"Iya sebentar! "
Deg!
Suara teriakan wanita dari dalam sana membuat jantung Marwin berasa ingin berhenti, karena suara itu sangat dirinya kenali namun ia harus tetap tenang hingga pada akhirnya pintu terbuka.
Cklek!
Wanita berdaster itu mematung di depan pintu dengan memandangi wajah pria yang dirinya hindari selama sepuluh bulan ini, tadinya dia kira kalau yang mengetuk pintu adalah orang laundry namun ternyata tidak.
Eline Maresya, ingin sekali dirinya menutup kembali pintu rumahnya namun tanganya di cekal dengan kuat oleh Marwin. Terpaksa dirinya membalikan badan dengan menelan saliva.
"Kenapa? takut ya? " tanya Marwin dengan suara datar namun matanya menatap tajam ke arah wanita yang sudah terhempas jauh dari ruang hatinya.
"Ba-bagaimana bisa? " ucap Eline dengan terbata-bata karena tak menyangka bahwa Marwin mantan tunanganya itu dapat menemukanya, padahal dulu Nicholas bilang tidak akan ada seorangpun yang tahu dengan keberadaanya.
"Tentu saja aku bisa menemukanmu wahai wanita murahan!" ujar Marwin dengan nada yang meninggi hingga membuat Eline tersentak di buatnya.
"Apa maksudmu Marwin!? " tanya Eline yang mulai terbawa suasana sangking tak terimanya di sebut-sebut wanita murahan.
"Ck! masih mau mengelak rupanya? padahal sudah jelas-jelas kau selingkuh di belakangku dengan sahabatmu sendiri hingga kalian menikmati malam yang panas sebelum aku! "
"Selingkuh? coba kau fikir dulu dengan otakmu itu karena aku bukanlah wanita yang semurah itu, lebih baik kau tanya saja kepada sahabatmu yang licik itu! " ujar Eline dengan melirik Marie yang berada di samping Marwin.
Marie yang tadi hanya asyik menonton akhirnya angkat bicara karena dia rasa sekarang waktunya dia bermain peran, "Kenapa kau membawa-bawaku Eline? kau mau menyalahkanku ya?"
"Stop! "
Dengan suara yang keras Marwin menyela apa yang akan Eline katakan karena dirinya sudah muak.
"Kau tidak usah menyalahkan sahabatku! karena dia tidak bersalah, " Marwin mencoba untuk membela sahabatnya yang hatinya tengah tertawa terbahak-bahak menyaksikan betapa bodohnya Marwin.
"Baiklah, lagi pula aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu Syakil Marwin. dan sekarang aku minta agar kamu cepat pergi dari sini! " bentak Eline yang sudah kecewa.
"Sudah selesai kau bilang?"
"Iya, karena kau sudah menganggapku wanita rendahan. Maka lupakan saja diriku seperti tidak ada yang terjadi di antara kita berdua, relakan aku dan biarkan aku hidup tenang! " jelas Eline dengan berapi-api.
Plak!
"Kau kira semudah itu!! "
Tanpa pikir panjang lagi Marwin langsung menampar Eline dengan begitu kencangnya hingga Eline meringis kesakitan.
Marwin menatap berang ke arah Eline dengan tangan yang terkepal kuat memperlihatkan emosinya yang sudah meledak-ledak, sementara Eline merasa pria di depanya bukanlah pria yang selama ini dirinya kenal dia merasa bahwa Marwin sudah berbeda.
Eline memundurkan langkahnya merasa waswas takut Marwin akan melakukan hal yang fatal, namun dirinya berhenti saat suara tangis seorang bayi kecil terdengar jelas.
"Bayi siapa? jawab Eline Maresya! apa itu hasil dari perselingkuhanmu?"
"Iya, itu anak hasil satu malam yang panas dengan Nicholas sahabatku dan aku beri nama puteri kecilku Sabrina Aleskia. " jawab Eline.
__ADS_1
"Rendahan! "
Marwin langsung mencengkeram kuat wajah mulus Eline dengan tangan kekarnya hingga Eline merintih kesakitan merasakan rahangnya bagaikan retak.
Brugh!
Marwin mendorong Eline dengan cukup keras hingga terbentur tembok cukup keras, Marwin berjongkok menatap tajam Eline.
"Jika kau ingin membunuhku silakan saja, tapi tolong jangan bunuh anaku. " ucap Eline dengan lemah.
Marie maju lalu ikut berjongkok di samping Marwin, dirinya berbicara dengan lirih.
"Kau ingin membunuhnya? "
Marwin menoleh namun dirinya diam sesaat, hingga akhirnya kepalanya menggangguk pelan penuh keraguan.
"Aku akan mendukungmu, dan ini jika kau membutuhkanya. " ujar Marie seraya meletakan sebuah pisau lipat lalu kembali mundur.
Marwin menatap pisau tersebut dengan diam, lalu menoleh ke arah Eline yang tengah kesakitan.
"Apa pesan terakhirmu? "
"Hanya satu, jangan bunuh anaku. " jawab Eline dengan lemah.
Marwin hanya tersenyum miring, lalu mendekat namun sebelum itu dirinya menekan leher Eline dengan cukup kuat hingga sang empunya terbatuk-batuk.
Jleb!
Marwin menusuk leher Eline dengan begitu sadis, hingga membuatnya mati seketika dengan darah yang bercucuran setelah itu Marwin mencabut pisau lipat yang ada di leher Eline dengan paksa.
Marwin bangkit namun telinganya terus mendengar suara tangisan bayi kecil yang berasal dari salah satu kamar.
Dengan ragu Marwin berjalan menuju sumber suara, lalu membuka pintu kayu tersebut dan langsung matanya melihat seorang bayi mungil yang berada di atas kasur.
Marwin mendekat, menatap bayi mungil yang lucu itu dengan mata berkaca-kaca padahal sebenarnya awal niat dirinya ke sini untuk membunuh mantan tunanganya sekaligus anaknya karena Marwin tak mau ada yang tersisa di antara orang-orang penghianat namun hatinya justru sakit ketika melihatnya.
Prak!
Pisau lipat yang tadi sempat dirinya cabut seketika jatuh ke lantai, padahal tadi dirinya berniat untuk membunuh bayi tak berdosa itu namun kini dirinya malah menggendong bayi itu.
"Apa yang kau lakukan Marwin? " tanya Marie merasa ini melenceng jauh dari pemikiranya.
"Aku tidak tega Marie, mungkin aku akan mengabulkan permintaan terakhir dari Eline. * jawab Marwin dengan menatap bayi mungil yang kini berada di gendonganya.
" Tapi Marwin, siapa yang akan merawatnya? kau akan kerepotan nanti. " ujar Marie mencoba untuk mengelabui pikiran Marwin.
"Menikahlah denganku Marie," jawab Marwin dan itu membuat Marie bingung namun ada sedikit rasa senang.
Akhirnya satu bulan kemudian mereka resmi menjadi pasangan suami istri, namun Marie tidak mungkin berbuat baik kepada bayi mungil tak berdosa yang di bawa Marwin.
Tentu Marwin tak mempermasalahkanya karena pikiranya sudah di kelabui oleh Marie.
Walau terkadang Marwin merasa tidak tega dengan anak dari mantan tunanganya itu, hingga dirinya sengaja menyela acara kesenangan Marie dengan mengajaknya keluar atau apapun itu.
__ADS_1