Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 33 | Bertemu Bi Desi


__ADS_3

Tiga wanita itu sudah sampai di supermarket bahkan sekarang mereka sedang memilih apa yang akan di beli.


"Min, " panggil Bi Ina kepada Bi Minah.


"Hm, " Bi Minah hanya menjawab dengan deheman saja tanpa menoleh sedikitpun.


"Semuanya sudah kita beli, lebih baik kita pulang. " ujar Bi Ina karena semuanya sudah di beli.


"Yowis, " Bi Minah dengan tanpa aba-aba menarik tangan Bi Ina, namun Bi Minah seketika berhenti.


"Non Al dimana? " tanya Bi Minah sementara yang di tanya seketika merasa panik.


"Gawat! "


"Yowis geti, " ucap Bi Minah yang langsung melangkah pergi mencari gadis berusia dua puluh tahun.


...✧༺♥༻✧...


Di tempat lain terlihat Aleski tengah berjalan-jalan di tengah-tengah rak yang berisi banyak sekali bahan makanan.


Tanganya menari-nari dengan mulut yang terbuka lebar sebab dirinya baru pertama kali keluar rumah apalagi masuk ke tempat belanja dirinya tidak pernah.


Namun beberapa saat kemudian dirinya merasakan ada yang menyentuh pundaknya dan dengan cepat Aleski menoleh.


"Bi Desi, " ucap Aleski dengan mata yang berbinar ketika melihat wanita yang sudah membantunya untuk keluar dari tempat menyeramkan itu namun setelah dirinya keluar mereka tidak pernah di pertemukan kembali dan barulah sekarang mereka di pertemukan.


Berbeda dengan raut wajah Bi Desi yang nampak lesu namun masih menampakkan senyuman yang membuat Aleski merasakan ketenangan.


"Non Al baik-baik aja kan? terus Non Al tinggal dimana?" Bi Desi bertanya dengan memeriksa keadaan Aleski yang sekarang terlihat lebih baik.


"Al baik-baik aja kok Bi," jawab Aleski sedangkan wanita berusia tiga puluh lima tahun di depanya nampak lega ketika mengetahui bahwa Aleski tidak kenapa-napa karena jujur semenjak Aleski keluar dari rumah dirinya terus merasa khawatir akan kehidupan majikanya di luar sana.

__ADS_1


"Syukurlah, "


"Oh ya Bibi gimana?" tanya balik Aleski dengan menatap Bi Desi.


"Bibi sehat, tapi.. Tuan yang gak baik-baik aja. " jelas Bi Desi sedangkan Aleski tampak mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya? "


"Tuan masuk ke rumah sakit, dan sekarang sedang koma. " jawab Bi Desi.


"Loh kok bisa? " sekarang Aleski merasa cemas karena bagaimana pun itu mereka adalah orang tuanya.


Akhirnya Bi Desi menceritakan semuanya di saat istri dari bosnya pulang ke rumah namun malah mencelakai suaminya sendiri sampai di larikan ke rumah sakit dan sekarang sedang koma.


"Al boleh ke rumah sakit? " tanya Aleski yang nampak gelisah bisa di lihat dari raut wajahnya.


"Tapi.. "


"I-iya Non, " dengan berat hati Bi Desi mengiyakan, Toh tuanya sedang tidak sadarkan diri jadi tidak mungkin akan menyiksanya.


Akhirnya Bi Desi mengajak Aleski untuk ke rumah sakit, sementara Aleski sebenarnya ada rasa cemas jika dirinya akan di siksa namun rasa tidak tega selalu menyerangnya.


...✧༺♥༻✧...


Di tempat lain terlihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di depan halaman rumah yang sangat luas.


Dua orang keluar dari mobil memandangi apa yang ada di depan mata mereka berdua yaitu sebuah halaman yang sangat luas dengan rumah kayu.


"Apa kamu yakin? " tanya wanita itu yang ternyata Marie dengan menoleh ke arah pria di sampingnya.


"Hm, " pria di sampingnya hanya berdehem lalu melangkah mendekat ke arah pagar rumah yang terbuat dari kayu.

__ADS_1


Sreet!


Tanganya mendorong pagar yang langsung mengeluarkan suara berdecit setelah itu melanjutkan langkahnya.


Tok.. Tok... Tok...


Pria itu mengetuk pintu dan setelah itu terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.


Cklek!


Pintu terbuka dan langsung menunjukan seorang wanita paruh baya yang memakai kebaya dengan kain jarik dan rambut yang di sanggul.


"Kungsi ngahontal, " ujar nenek itu dengan tersenyum ramah.


"Iya nek, " jawab pria tadi dengan tersenyum juga.


"Muhun mangga lebet, " nenek itu mempersilahkan untuk masuk lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Siapa? " tanya Marie kepada pria di sampingnya.


"Mak Njah, yang ngurus rumah ini. rumah masa kecilku, " jawab pria itu setelahnya masuk dan duduk di kursi kayu.


"Lix, " panggil Marie dan seketika pria yang di panggil menoleh dengan mengangkat kedua alisnya.


"Kamu yakin mau di sini? " tanya Marie menatap pria yang di panggil Felix.


"Di sini sangat aman, lagi pula kau katanya ingin mencelakai anakmu itu? kita bisa santai tanpa takut ketahuan, " ujar Felix.


Marie mengangguk tanda mengiyakan dengan apa yang barusan di ucapkan oleh pria yang mengajaknya untuk bekerja sama.


Beberapa saat kemudian datanglah Mak Njah dengan membawa nampan setelah itu meletakanya di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2