
Tangan Aleski bergetar dengan mata menatap kosong ke arah map yang berisi tanda bukti bahwa semua aset milik Marwin telah di alihkan untuk anak mantan tunangannya, namun bukan itu yang membuatnya syok. Tetapi ucapan seorang pria di depanya yang telah mengatakan jika Marwin telah tiada.
Kemarin sewaktu kecelakaan terjadi tidak ada yang berani mendekat, karena asap tipis nampak dari mesin mobil yang membuat orang-orang di sekitar semakin mundur karena takut mobil akan meledak. Mereka hanya bisa menunggu pertolongan datang saja dan tidak memperdulikan dua orang yang tidak berdaya di dalam mobil.
Sampai akhirnya asap tipis semakin tebal dengan di iringi percikan-percikan, hingga terjadilah ledakan dahsyat di Jl Mawar.
Tentu saja, Marwin dan Andra tidak bisa selamat karena mereka sudah terbakar hidup-hidup.
Aleski merasa menyesal karena kemarin bersikap cuek hanya karena merasa kecewa padahal itu adalah kesempatan terakhir baginya untuk bertemu dengan sang ayah tiri.
"Nona," pria berjas biru tua itu langsung menyadarkan lamunan panjang Aleski, pria yang bernama Ramdan seorang pengacara kepercayaan Marwin yang akan mencoba untuk mengeluarkan Aleski dari sangkar besi.
"Saya rasa Tuan tidak perlu mencoba untuk membebaskan saya," ujar Aleski dengan pandangan sayu.
"Tapi ini perintah dari mendiang tuan Marwin, jadi saya harus melaksanakannya." saut Ramdan menolak.
"Baiklah, itu terserah Tuan saja. Saya ingin kembali ke sel dan ini saya tidak bisa menerimanya," pamit Aleski seraya menyerahkan map tersebut, hampir saja Ramdan ingin berbicara namun dirinya rasa tidak ada gunanya ketika kaki Aleski telah melangkah,
'Aku tidak menerima penolakan,'
__ADS_1
...✧༺♥༻✧...
"Kasihan sekali kau anak muda," ujar pria tua yang usianya sekitar 80 tahun, matanya menatap Alan dengan sebuah senyum mengejek.
"Apa sudah puas Anda mengejekku?" tanya Alan dengan kesal yang di jawab anggukan dari pria tua itu.
"Sepertinya kau sangat lemah, berbeda dengan anak cucuku yang kuat hati menghadapi cacian dan siksaan dari orang yang ia anggap orang tua kandung. " ucap pria tua dengan mengingat kembali seorang bayi mungil yang sempat dirinya timang.
"Ck, sudahlah jangan bertele-tele." decih Alan yang duduk bersandar di ranjang pasien.
Nampak, pria tua itu cengengesan sebelum akhirnya mengucapkan perkataan penuh keyakinan. "Aku rasa anak cucuku lebih pantas memimpin Lion's Revenge di bandingkan dengan kau," jari telunjuknya mengarah ke arah Alan.
"Lalu, kenapa Anda dulu selalu mengejarku dan menyuruhku untuk menjadi pemimpin Lion's Revenge? kalau cucumu itu lebih pantas. " ujar Alan.
"Oh," saut Alan singkat dan terlihat tidak perduli.
"Sepertinya kau sedang sakit gigi wahai anak muda, baiklah kalau begitu aku pulang saja karena ada hal yang lebih penting dari pada mengurusi bocah angkuh sepertimu."
"Hm,"
__ADS_1
Pria tua itu melirik anak buahnya yang membawa bingkisan, dengan patuhnya langsung meletakkan bingkisan tersebut di atas nakas samping ranjang.
"Itu sedekah untukmu, dan tenang saja karena aku belum sempat memberikan racun." ucapnya setelah itu pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Pak tua menyebalkan,"
,
,
,
,
,
,
Mungkin ada yang udah lupa, sebenarnya Alan itu bukan pemimpin asli dari Lion's Revenge.
__ADS_1
Dan itu udah di jelaskan di Bab 45 | Perdebatan, ada di salah satu dialog.
Saya hanya sekedar mengingatkan, siapa tau ada yang lupa. Biar gak ada kebingungan.