Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 45 | Perdebatan


__ADS_3

Satu hari mereka terus melangkah dan terus melangkah dan hanya Aleski yang nampak semangat dalam mencari jalan keluar sementara Alan pria yang biasanya terlihat berwibawa sekarang nampak berantakan.


Gadebug!


Akhirnya Alan kembali menjatuhkan dirinya di tanah dengan pakaian yang ia kenakan yang sudah basah kuyup karena keringat yang terus mengucur tak mau berhenti.


"Tuan, "


Aleski menoleh dan hendak mendekat namun tangan Alan memberi kode untuk Aleski tetap diam.


"Tinggalkan aku,"


Aleski tersenyum lalu berucap "Seorang sahabat tidak akan meninggalkan sahabatnya walau dalam keadaan segenting apapun. "


"Dasar keras kepala, " gumam Alan merasa sewot.


Akhirnya Aleski mendudukan dirinya di tanah dengan bersandar di tembok, tak mungkin dirinya tinggalkan pria angkuh itu sendirian di sana.


"Kau tau? kita sudah berputar-putar bahkan sekarang kita sudah di tempat semula. " ujar Alan dengan lirih.


Mendengar hal itu sontak saja Aleski memperhatikan sekitarnya dan benar saja tempat itu adalah tempat yang sama sangat sama.


Aleski menghela napas panjang merasa frustasi sebab seharian ini ia hanya berputar-putar saja.


"Sudah ku bilang bahwa semuanya akan sia-sia, tapi kau tidak menurut. " ketus Alan.


Aleski hanya diam membiarkan Alan yang tengah mengomel sekaligus memegangi perutnya yang sakit karena kelaparan.


Kreet!


Aleski terkaget saat tembok yang sedang dirinya sandarkan tetiba bergeser, maka dari itu gadis berumur dua puluh tahun tersebut menoleh dan benar saja tembok yang ia belakangi tetiba bergeser.


Dengan cepat Aleski bangkit dan menggeser tembok itu, setelah tergeser sepenuhnya langsung memperlihatkan sebuah lorong yang terlihat panjang sama persis seperti lorong-lorong yang lainya namun bedanya lorong ini terlihat menanjak.


"Tuan, " ujar Aleski sementara yang di panggil hanya berdehem dengan membuka matanya.


"Tuan, aku menemukan jalan. siapa tau ini adalah jalan keluar, " jelas Aleski dengan tersenyum.


Dengan malas Alan bangkit dengan langkah yang sempoyongan dan tanpa berbicara satu katapun pria angkuh itu langsung melangkah mendahului gadis yang sudah menemaninya.


Aleski geleng-geleng kepala melihat apa yang di lakukan Alan, setelah itu barulah Aleski berjalan menyusul langkah pria angkuh itu.


Tap,,, Tap,,, Tap,,,

__ADS_1


Suara langkah mereka ketika berjalan menyusuri lorong tersebut dengan Alan yang berjalan dengan berpegangan pada tembok.


,


,


Mungkin sudah satu jam atau lebih mereka melangkah hingga akhirnya Aleski melihat sebuah pintu yang terbuat dari besi.


Aleski sudah tersenyum lebar membayangkan bahwa pintu tersebut adalah pintu yang membawanya keluar dari sana.


Aleski berlari kecil sebab pintu tersebut tidak jauh dari posisinya sekarang, sebelum membuka pintu Aleski menoleh ke belakang menatap Alan yang berjalan lemah dengan tangan yang memegangi perutnya yang sakit.


"Bukalah, "


Alan menatap Aleski dengan sendu sementara yang di tatap hanya tersenyum dengan tangan yang mulai mendorong pintu.


Sreet!


"Woah ternyata kau datang lebih cepat Izan, aku kira kau akan mati disana. " langsung Felix berucap dengan memanggil Alan dengan sebutan Izan supaya pria angkuh itu mengingat masa kecilnya.


"Brengsek!! "


Alan menggeram dengan tangan yang sudah mengepal sedangkan Aleski hanya bisa mengernyit tak tahu dengan apa yang sedang terjadi.


Alan terdiam, dirinya mulai paham bahwa pria di depanya itu tengah menyindir dirinya atas apa yang pernah ia perbuat terhadap Felix Endrosen pria culun yang sekarang sudah sangat berbeda dari segi fisik maupun sifat.


"Hahaha, Izan,,, Izan,, kau sangat lucu di mataku saat ini. Kelaparan dan tersesad ya ampun, " kembali Felix menyerocos tanpa henti dengan memandang Alan rendah.


Emosi Alan seketika membuncah saat mendengar kata-kata yang barusan Felix ucapkan, "Sebelum kau berucap seenak jidat lebih baik pikir dulu, siapa yang akan betah jika setiap hari di perlihatkan sesuatu yang jelek! "


Felix hanya tersenyum licik "Tenanglah, jangan terbawa emosi karena aku mengundangmu bukan untuk berdebat tetapi untuk bersenang-senang. "


"Ck,,, omong kosong. " Alan berdecih mendengar penuturan Felix.


Melihat hal yang sedang terjadi di hadapannya mampu membuat Aleski terheran-heran.


"Tuan,,, Tuan,,, bisakah kalian berhenti berdebat?" tanya Aleski yang di sambut decihan dari Felix.


"Hey, gadis bodoh! lebih baik kau diam saja karena ini bukan urusanmu. " ucapnya.


Aleski terdiam mendengar ucapan pria di depanya, maka dari itulah Aleski memutuskan untuk diam selagi mereka tidak bertindak serius.


'Jika mereka sampai melakukan tindak kekerasan maka aku tak mau lagi diam,'

__ADS_1


,


Felix melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Alan yang masih setia meringis sembari memegangi perutnya, bukan hanya lapar tetapi rasa sakit yang begitu parah ketika penyakit yang ia miliki akibat selalu telat makan akhirnya kumat apalagi dua hari ini dirinya tidak makan apapun sama sekali.


"Kau sangat mengenaskan Izan, " ucap Felix seraya menggangkat dagu Alan supaya menatap dirinya namun tanganya segera di tepis dan itulah yang membuat Felix merasa geram.


"Ck,, dasar rendahan! tak tahu malu! "


"Jangan menghinaku! "


Ingin rasanya Felix melanjutkan sebuah kata-kata namun Alan dengan cepat menghentikan ucapan Felix.


"Kenapa? kau merasa terhina! hahaha apa kau sadar? bahwa akulah yang sebenarnya terhina tetapi sekarang tak akan aku biarkan begitu saja. "


Dugh!


Alan menendang perut Felix sangking emosinya yang berhasil membuat Aleski panik.


"Tuan,,, Tuan,,, hentikan!! "


Felix menatap tajam Aleski dengan tersenyum smrik namun pria berkulit sawo matang itu tampak tak perduli dan dengan cepat langsung mencekik leher Alan lalu membelokanya ke kanan dan kiri.


Kretek!


Kretek!


"Ck, kau memang tak pantas untuk di juluki sebagai seorang Mafia tetapi kau lebih pantas jika di juluki sebagai pecundang. " ucap Felix seraya menjauhkan tanganya dari leher Alan.


"Aku tidak berharap mendapatkan julukan sebagai seorang Mafia tetapi pak tua itulah yang memanggilku Mafia, " jelas Alan dengan suara serak menjelaskan bahwa dirinya memang tidak mengharapkan sebuah julukan Mafia tetapi seorang pria tua menghampirinya saat dulu dirinya menghabisi nyawa orang tua Marie, pria tua tersebut memanggilnya dengan sebuah julukan Mafia. Awalnya Alan mengacuhkanya namun pria tua tersebut terus mengganggunya dan dia terus menawarkan agar Alan memenuhi permintaanya.


"Ck, menghayal. "


Dugh!


Sekarang giliran Felix yang menendang perut Alan hingga yang di tendang terjatuh.


Aleski yang melihatnya seketika berlari mendekat langsung memeluk Alan seraya berkata "Tuan! bisakah Anda tidak melakukan tindak kekerasan? apakah Anda tidak mempunyai belas kasihan sedikit-pun? " tanya Aleski merasa geram dengan apa yang di lakukan Felix barusan, sudah ia turuti agar diam namun masih saja main fisik.


Felix melangkah menjauh merasa muak dengan sikap Aleski yang menurutnya sangatlah berlebihan.


"Tuan, " Aleski mencoba memanggil Alan yang nampak lemah namun tidak ada jawaban darinya.


Merasa tidak ada respon akhirnya Aleski bersandar di tembok yang terbuat dari besi itu, hanya helaan napas saja yang menemaninya.

__ADS_1


__ADS_2