
Di rumah besar dan mewah terlihat Marie sedang berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah penuh amarah.
Para Bodyguard mencoba untuk menghalangi Marie yang ingin masuk ke dalam Kamar namun mereka malah terluka.
BRAGK!!
"Marwin!! "
Marie berteriak dengan sekencang-kencangnya berhasil membuat Marwin yang sedang menatap layar laptop seketika menoleh.
Marwin menutup laptopnya lalu berjalan mendekat ke arah Marie dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Are you home my wife? " tanya Marwin seraya merangkul pundak Marie namun langsung di tepis dengan kasar.
"Yes i came home because I wanted to kill you, " ujar Marie dengan menyeringai berhasil membuat Marwin ketakutan.
Marie mengeluarkan pisau lipat andalanya setelahnya dirinya memainkan pisau tersebut.
Marwin ketar-ketir tidak bisa berbuat apapun sampai akhirnya dirinya melihat sebuah tombol yang biasanya untuk menyuruh para pelayan rumah, dan karena itu tanganya mulai melayang hendak menyentuh tombol tersebut.
Sret!
Pisau lipat itu mendarat di tangan dan berhasil membuat Marwin kesakitan apalagi luka tersebut lumayan dalam sampai-sampai darah keluar dengan sangat deras.
"Kau mati saja! dasar suami tak berguna!" ucap Marie dengan lantang seraya mencabut pisau yang tertancsp di tangan Marwin setelah itu kembali di tancapkan ke arah perut Marwin.
"Aarrgg, " teriak Marwin yang langsung tumbang ke lantai dengan darah yang mengalir sementara Marie ia berjalan meraih tas lalu pergi entah kemana.
Cklek..
__ADS_1
"Bos! "
Tanpa pikir panjang mereka langsung membawa Marwin yang sudah tidak sadarkan diri.
***
Marie berjalan dengan langkah cepat di trotoar dengan terus melihat kesana-kemari dan terlihatlah sebuah mobil berhenti tepat di depan Marie.
"Come in, "
Marie masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah kursi kemudi yang sudah ada seorang pria dengan memakai jaket kulit.
"Kemana? "
Tanya pria itu dengan menoleh ke arah Marie yang masih keringat dingin dengan terus mengatur nafasnya supaya lebih teratur.
'Aku akan membalasmu, '
...✧༺♥༻✧...
Sinar matahari sudah mulai terlihat dan sekarang Aleski tengah berjalan ke arah dapur namun dirinya mengernyitkan keningnya saat melihat Bi Ina sudah rapih seperti hendak pergi.
"Bibi mau kemana? " tanya Aleski sementara yang di tanya langsung menoleh dengan tersenyum.
"Mau belanja Non, buat stok. " jawab Bi Ina sementara Aleski seketika tersenyum ketika otaknya mulai bekerja.
"Al boleh ikut? " tanya Aleski dan Bi Ina langsung membuka mulutnya namun terpotong oleh suara Bi Minah.
"Olih, " ucap Bi Minah dengan seenak jidatnya.
__ADS_1
"Tap... "
Belum selesai Bi Ina berucap namun suara Bi Minah sudah terdengar kembali.
"Wis lah, ora kaiki. melas oh mesti bosen ning omah bae, " jelas Bi Minah yang langsung mendapatkan dua jempol dari dari Aleski.
"Yowis karepmu, "
Akhirnya tiga perempuan itu berjalan keluar dari rumah besar bagaikan istana namun langkah mereka seketika berhenti saat mendengar suara seseorang.
"Heh! "
Terlihat seorang perempuan muda yang langsung menarik kerah baju Aleski dengan tatapan tajam.
"A-ada apa nona? " tanya Aleski dengan menelan saliva dengan susah payah.
"Lu cewek murahan yang mau godain kak Alan iya kan? " ucap perempuan itu yang ternyata Mira.
Sedangkan Aleski justru merasa heran karena wanita di depanya memanggil namanya dengan Lu padahal namanya bukan itu tapi Aleski.
"Ma-maaf, nama saya Aleski bukan Lu. " ujar Aleski.
"Alah sok polos! " bentak Mira yang tangannya sudah melayang namun segera di cegah oleh dua orang yang ada di sana.
"Aja main fisik o, domongi baik-baik ger ana salah ya cepet selesekna aja kaya kie. " ucap Bi Minah menatap tajam ke arah Mira dengan berkacak pinggang.
"Ck, dasar orang kampung! " sentak Mira sementara Bi Minah yang mendengar ucapan Mira sontak saja ingin membalas namun Bi Ina dengan cepat menarik tanganya.
"Udah, gak usah di urusin. " ucapnya dan akhirnya mereka pergi meninggalkan Mira seorang diri membiarkan dia emosi.
__ADS_1