Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 37 | Kegagalan Felix


__ADS_3

Di rumah kayu dengan halaman rumah yang sangat luas terdapat seorang pria tengah menelfon.


"Tuan, sebelumnya saya ingin meminta maaf karena perintah Tuan gagal. " di seberang sana terdengar suara seorang perempuan yang gemetar karena sudah pasti tuanya akan marah karena gagal meracuni seseorang.


"Hah!! kenapa bisa gagal?" bentak pria itu dengan gigi yang bergemelutuk karena emosi bahkan tanganya terkepal kuat.


"Tuan Alan sadar kalau minumanya terdapat racun, " jawab perempuan di seberang sana.


"Sialan, " umpat pria bernama Felix dengan neremas Smarfon di tanganya.


"Baiklah, mungkin lain waktu saja. tapi bagaimana dengan labirin-nya? " tanya Felix setelah mengingat Labirin yang di sedang di buat.


"Hampir selesai Tuan, "


Felix yang mendengarnya langsung tersenyum dengan membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Bagus, "


Setelah itu Felix, pria berkulit sawo matang tersebut mematikan sambungan telepon seraya masuk ke dalam rumah.


"Mak Njah! "


Mendengar namanya di panggil Mak Njah wanita paruh baya tersebut keluar dari dapur berlari tergoboh-goboh menghampiri Felix.


"Anu mana? "


"Ini, " Felix memberikan sebuah bungkusan kepada Mak Njah dengan kertas yang terdapat tulisan entah apa isinya.


"Abdi bakal ngalakukeun `eta . "


"Bagus, "


Setelah itu Felix keluar dari rumah yang entah akan kemana dirinya.

__ADS_1


...✧༺♥༻✧...


Di tempat lain tepatnya di sebuah restoran mewah terlihat Aleski dan Alan sedang menikmati hidangan yang tersaji.


"Dari mana? " tanya Alan memecah keheningan.


"Sa-saya Tuan? " tanya Aleski dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu, memang siapa lagi? " ujar Alan dengan nada ketus seraya memasukan daging ke mulutnya.


"Saya dari rumah sakit Tuan, " jawab Aleski cepat.


"Ngapain? " tanya Alan yang sudah seperti wartawan.


"Papa saya masuk rumah sakit dan sekarang sedang koma, " jelas Aleski sementara Alan hanya menganggukan kepalanya saja namun matanya fokus ke arah bibir Aleski yang belepotan.


'Dasar'


Tanganya mengambil sebuah tisue yang ada di atas meja lalu melemparnya ke arah Aleski dimana membuat gadis berusia dua puluh tahun itu terkejut.


Aleski mengangguk lalu dengan cepat jari lentiknya mulai membersihkan bibirnya yang kotor dengan tisue yang barusan di lempar oleh Alan.


Sedangkan Alan, dirinya sudah bangkit berjalan keluar restoran dan Aleski yang merasa di tinggalkan dengan segera bangkit lalu menyusul Alan yang berjalan sudah jauh.


...✧༺♥༻✧...


Oma Iris menatap tablet yang ada di tanganya dengan sebuah senyum kecil terpasang di wajah tuanya.


"Berhasil, "


Sementara jauh dari sana yaitu di dapur Bi Minah dan Bi Ina sudah merasakan panik yang sangat mendalam karena mereka pulang tidak bersama Aleski.


"Piye iki? " ucap Bi Minah yang terus mondar-mandir di dapur dengan memegangi keningnya.

__ADS_1


"Aku juga gak tau, tapi do'akan saja semoga Non Al baik-baik aja. biar kita gak ngek. " ujar Bi Ina dengan mengibaskan jarinya di leher.


Tak..Tak.. Tak..


Suara langkah kaki terdengar dimana berhasil mengalihkan perhatian Bi Minah dan Bi Ina.


"Non Al, "


***


Dua orang itu melangkah dan Oma Iris yang melihat mereka hanya diam memandang sementara Alan langsung menuju ke kamar.


Aleski yang melihat Oma Iris seketika tersenyum dengan menganggukan kepalanya sedangkan Oma Iris tidak membalas sama sekali.


"Nyonya, " ucap Aleski dengan tersenyum sementara Oma Iris hanya menjawab dengan deheman saja dan tanganya memberi kode agar Aleski kembali ke kamar.


...✧༺♥༻✧...


Sementara Marwin yang sudah sadar dari komanya sekarang telah di pindahkan ke ruang rawat.


Namun semenjak mimpi itu dirinya menjadi banyak diam memikirkan banyak hal.


"Apa Aleski menjenguku? " tanya Marwin kepada anak buahnya.


"Iya Tuan, Non Al datang kesini menemani Anda. " jawab anak buahnya.


"Lalu dia dimana sekarang? " tanya Marwin kembali karena entah kenapa dirinya merasa rindu dengan Aleski.


"Sudah pergi dan maaf Tuan, kami tidak bisa membawanya pulang. karena Non Al menolak,"


"Dimana dia tinggal? " Marwin kembali bertanya.


"Saya tidak tau, " anak buah Marwin yang berbadan besar tersebut menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Huh... " nampak Marwin menghela napas.


__ADS_2