Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 48 | Flashback 1


__ADS_3

Marie Atalie adalah sahabat sekaligus sekertaris Syakil Marwin, dirinya mencintai Marwin namun pria yang dirinya cintai justru mencintai wanita lain yang bernama Eline Maresya.


Tap,,, Tap,,, Tap,,


Kini, Marie tengah berjalan menuju ruangan bosnya dengan sebuah map di tanganya. Wanita itu berjalan dengan wajah penuh senyum.


Cklek!


Deg!


Semuanya tidak sesuai harapanya! dirinya mengira bahwa Marwin tengah sendirian namun rupanya tidak, pria itu tengah duduk di sofa bersama kekasihnya Eline Maresya.


"Menyingkirlah dari Marwin!!" dengan lancang Marie mendorong Eline dengan kasar.


"Marie!! "


"Kenapa? Apa kau tidak suka melihat kami berdua? ck,,, ayolah kapan kau sadar bahwa kami sudah bertunangan bahkan bulan depan kami akan menikah." ucap Eline dengan menatap sinis Marie.


Marie yang merasa tersinggung tak tinggal diam, dirinya maju lalu menjambak rambut Eline dengan begitu brutal namun Marwin yang ada disana dengan cepat memisahkan mereka berdua.


"Hentikan, kau mau aku pecat Marie!! " kecam Marwin setelah berhasil memisahkan dua perempuan yang tengah saling jambak.


"Aku ini sahabatmu Marwin! " ujar Marie menolak kecaman Marwin.


"Walau kau sahabatku tapi tidak seharusnya main kasar! " bentak Marwin yang sudah naik pitam dengan tingkah laku sahabatnya akhir-akhir ini.


"Aku pamit, "


Tanpa basa-basi Marie langsung melangkah keluar dari ruangan Marwin setelah melempar map yang tadi ia bawa ke sembarang arah.


"Sahabatmu itu sungguh aneh, " ucap Eline.


"Sudah lupakan saja," balas Marwin seraya mengambil map yang ada di lantai.


***


Malam harinya setelah kejadian itu Marie kini sudah berada di sebuah Bar dengan duduk santai di sebuah meja.


Jari-jarinya dengan lincah menekan sebuah nomor yang tertera di layar ponselnya.


"Selamat malam Eline Maresya, " setelah telepon di angkat Marie langsung menyapanya.


"Selamat malam, ada apa kau menelpon ku? " tanya Eline di seberang sana.


"Aku minta maaf soal tadi siang, " ucap Marie dengan menyesal.


"Aku sudah memaafkan-mu, " balas Eline.


"Hm rasanya kurang pas jika aku hanya meminta maaf, oleh sebab itu aku mengajakmu datang ke bar kita happy-happy disini. bagaimana? " tanya Marie namun hening sesaat.


"Baiklah, kau dimana sekarang? " tanya Eline tanpa merasa curiga.


"Di Bar Clopby, "


"Setengah jam lagi aku sampai, " ucap Eline dan setelah itu sambungan telepon terputus.


"Nyonya Marie, " seorang pria datang lalu duduk di samping Marie dimana disana ada sebuah kursi kosong.

__ADS_1


"Tuan Nicholas, " balas Marie dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Ada apa Anda mengundang saya ke tempat seperti ini? " tanya Nicho merasa heran.


"Oh tidak ada Tuan, saya hanya ingin membicarakan bisnis dengan Anda. " jawab Marie dengan senyuman yang masih betah terukir indah.


"Oh baiklah, bisnis apa yang ingin Anda bicarakan? " tanya Nicho merasa senang.


Ting!


Ketika Marie ingin menjawab namun ponsel miliknya mendapatkan notifikasi sebuah pesan dari Eline Maresya, dan tanpa pikir panjang lagi Marie langsung membuka pesan tersebut.


'Aku sudah dekat dengan Bar yang kamu maksud, '


Begitulah isi pesan dari Eline Maresya tunangan dari Syakil Marwin, Marie yang mendapat pesan tersebut seketika tersenyum miring karena niat dirinya akan segera tercapai.


"Ngg,,, maaf Tuan, Saya izin ke toilet sebentar boleh? " tanya Marie dengan menatap Nicho.


"Oh boleh, silakan saja. " jawab Nicho dengan lapang dada.


"Terimakasih, " dirinya langsung bangkit lalu mencari kursi kosong yang agak jauh dari Nicho agar sahabat Eline Maresya itu tidak mengetahui bahwa dirinya tidak menuju toilet.


"Disini cocok, " gumam Marie yang langsung duduk di kursi seraya memesan segelas Wine namun setelah pesanan datang dirinya langsung memasukan obat perangsang.


Menit per menit Marie menunggu dengan santai walau hatinya merasa gundah, takut jika Eline tidaklah datang sekaligus takut Nicho akan mencarinya karena sudah agak lama dirinya pergi. Namun suara yang dirinya tunggu akhirnya terdengar dengan samar-samar terlihat seorang wanita menggunakan dres di atas lutut berlengan panjang dengan warna hijau.


"Marie, "


Sontak Marie langsung melambaikan tanganya untuk memberi tahu dimana posisi dirinya berada.


"Sorry lama, " ucap Eline yang merasa bersalah.


"Minumlah dulu, kau pasti haus. " Marie kembali mempersilahkan dengan tanganya yang menyodorkan segelas Wine yang tadinya sudah ia masukan obat perangsang.


"Kenapa hanya satu? apakah kau tidak minum? " tanya Eline dengan alisnya yang sudah saling bertautan memberi tanda bahwa dirinya merasa heran.


"Aku sudah minum agak banyak tadi ketika menunggumu, jadi aku tidak minum lagi. " bohong Marie padahal dirinya baru meminum satu gelas saja.


"Oh baiklah kalau begitu, aku minum dulu ya. " tanpa pikir panjang sekaligus curiga Eline langsung menenggak segelas Wine sekaligus sampai tandas.


Marie tersenyum merasa puas akhirnya wanita di depanya itu meminum segelas Wine yang telah dirinya masukan obat perangsang, dirinya hanya tinggal menunggu saja obat itu bekerja setelah itu Marie akan mengantarkanya ke sebuah kamar.


Ting!


'Nyonya Marie, apakah Anda baik-baik saja?'


Satu pesan masuk dari Nicho yang sudah merasa gusar karena tidak kunjung kembali, sementara Marie yang di tanya hanya menjawab 'Aku baik-baik saja, sebentar lagi aku akan kembali.'


"Marie, "


Marie yang di panggil seketika bertingkat karena tiba-tiba saja Eline memegangi tanganya dengan satu tangan yang memegangi kepalanya. Namun walau merasa kaget tetapi dirinya tetap merasa senang karena obat perangsang itu tengah bekerja.


"Marie, kenapa kau menjadi dua? dan kenapa tubuhku rasanya panas? apa aku mabuk? " Eline memberikan serentetan pertanyaan kepada Marie namun yang di tanya hanya tersenyum smrik.


"Kurasa begitu, lebih baik aku mengantarkanmu ke kamar. " kata Marie dan tanpa pikir panjang dirinya langsung merangkul pundak Eline untuk mengantarnya menuju kamar yang ada di Bar tersebut.


Cklek!

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dan dirinya langsung meletakan Eline di atas ranjang yang ada di dalam kamar.


"Sebentar lagi aku akan memberikan sebuah kejutan untukmu, " ucap Marie membiarkan Eline yang sudah meracau tidak jelas namun dirinya tidak memperdulikan hal sepele itu, ia langsung berjalan menuju pintu lalu menguncinya dari luar.


"Tinggal satu lagi, " gumam Marie seraya berjalan menuju arah dimana Nicho duduk untuk memberikan kejutan spesial.


"Maaf menunggu, " ujar Marie dengan tampang merasa bersalah padahal sama sekali dirinya tidak merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, " jawab Nicho.


Marie duduk di kursi yang kosong, seraya berfikir dengan apa dirinya mengalihkan perhatian Nicho agar dirinya dapat memasukan obat perangsang itu ke dalam gelas Nicho.


"Tuan di pipimu ada serangga!! "


Plak!


Pikiranya sudah buntu, hingga tanpa pikir panjang langsung menampar Nicho sementara tangan yang satunya memasukan obat perangsang.


"Awh, " ringis Nicho yang merasa panas di pipinya.


"Maafkan aku Tuan, tadi ada serangga di pipimu. " bohong Marie dengan tampang merasa bersalah.


"Iya tidak apa-apa, tapi ini rasanya agak perih. " erang Nicho dengan memegangi pipinya.


"Sekali lagi aku minta maaf Tuan, ah sepertinya jika Anda meminum segelas Wine rasa sakitnya akan berkurang. " ucap Marie yang memberikan saran walau saran tersebut tidak terlalu masuk akal.


"Baiklah, " tanpa pikir panjang lagi Nicho langsung menenggak habis segelas Wine yang sudah sempat Marie masukan obat perangsang.


'Sebentar lagi, '


Batin Marie merasa senang, sebentar lagi ya sebentar lagi apa yang dirinya rencanakan akan berhasil dan mereka berdua akan hancur.


"Nyonya Marie, kenapa tubuhku terasa panas? " tanya Nicho yang ingin melepaskan pakaian-nya namun dirinya masih sedikit bisa menahanya sebab tak mungkin dirinya begitu.


"Aku akan mengantarkanmu ke kamar Tuan," ujar Marie dan lagi dirinya tanpa pikir panjang langsung merangkul pundak Nicho dan mengantarkanya menuju kamar dimana Eline berada, walau agak sulit tapi ambisinya untuk mendapatkan Marwin tetaplah ada.


Cklek!


"Awh, "


Erang Nicho yang terjatuh karena di dorong oleh Marie.


"Nikmatilah malam pertama kalian! " teriak Marie lalu mengunci pintu dari luar.


***


"Brengsek, " gumam Nicho namun dirinya semakin merasa kepanasan.


"Panas, "


"Eline, kenapa dia ada di sini? " gumam Nicho merasa terkejut karena sahabatnya itu berada di atas ranjang tanpa sehelai benangpun.


Namun akal sehatnya sudah hilang karena obat perangsang itu telah bekerja seutuhnya dan di saat itulah mereka melakukan hal terlarang.


...✧༺♥༻✧...


Marie tersenyum menatap ke layar ponselnya yang tengah merekam semua yang terjadi, dirinya akan mengirim video terlarang itu ke Marwin setelah itu akan di pastikan perang dunia akan terjadi.

__ADS_1


"Kau memang pintar Marie Atalie, " gumam Marie memuji dirinya sendiri dengan merasa bangga karena dirinya telah melakukan segalanya.


__ADS_2