Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 39 | Mau Bakar Anak Dan Menantumu


__ADS_3

Setelah keluar dari gudang, Mak Njah berdiri mematung dengan mata yang sudah berembun.


"Kuring bakal ngajantenkeun anjeunna ngarasa naon anu anjeun karasa, " gumam Mak Njah dengan menghapus air mata yang menetes tanpa pamit.


Namun episode puluhan tahun yang sudah terlewat malah terputar di ingatan wanita tua tersebut.


"Hampura pak, " seorang perempuan paruh baya berlutut di depan seorang pria yang hanya memasang wajah datar tanpa ekpresi sedikit pun.


[Ampun pak]


Wanita paruh baya tersebut terus meminta ampun agar pria di depanya menghentikan apa yang di lakukan oleh anak buahnya di rumah kecil miliknya.


Namun bukanya merasa kasihan atau apapun itu, pria itu malah menendang kuat wanita di depanya.


"Minggir!! dasar wanita tua," bentak pria itu.


"Tuan Harison, "


wanita paruh baya itu tidak putus asa, dirinya malah merangkak hendak mendekat ke arah pria di depanya yaitu Harison. Namun niatanya gagal ketika perempuan di samping Harison menginjak tangan wanita tersebut yaitu Mak Njah.


"Sakit? makanya kalo punya hutang cepetan di bayar! " ujar wanita yang bernama Atalie.


"Tapi, abdi teu gaduh artos. "


Mak Njah berucap dengan meneteskan air mata apalagi ketika merasakan sakit karena tanganya sedang di injak oleh Atalie.


[Tapi, saya belum ada uangnya]


"Itu bukan urusan saya! " ucap Atalie dengan penuh penekanan.


Dari kejauhan muncul sekumpulan orang berpakaian serba hitam dengan menyeret seorang perempuan muda dan pria muda dan ada juga seorang anak perempuan yang sangat pucat bagaikan mayat.


"Hendrik! Ratih! " Mak Njah berteriak ketika melihat anak dan menantunya sudah tak berdaya namun dua orang itu tetap tersenyum ke arah Mak Njah sementara anak perempuan tadi sudah di letakan begitu saja di lantai.


"Raisa! " Mak Njah merangkak mendekat ke arah cucu perempuanya yang sangat pucat.


Tangan Mak Njah meletakan jarinya di hidung Raisa namun tidak ada hembusan sama sekali dan di saat itulah tangis Mak Njah semakin menjadi-jadi.


"Siapkan semuanya! " Harison berucap dengan tegas dan setelah itu anak buahnya langsung berlari mengambil bensin dan perlengkapan lainya.


"Naon anu anjeun pikahoyong?! " tanya Mak Njah dengan suara lantang.

__ADS_1


[Kalian mau apa?]


"Mau bakar anak dan menantumu, " jawab Atalie dengan entengnya dan beberapa saat kemudian mereka tertawa.


Hahaha!


"Ulah! " teriak Mak Njah.


[Jangan]


"Oke kita gak bakal membakar mereka berdua tapi kau bayar hutangmu sekarang juga! " tekan Atalie sementara Mak Njah diam membisu dirinya bingung akan membayar menggunakan apa.


"Tidak bisa kan? maka dari itu sebagai gantinya anak dan menantumu kami bakar." ucap Atalie.


Mak Njah yang mendengarnya tidak tinggal diam, dengan tenaga yang tersisa Mak Njah merangkak hendak mendekat ke arah anak dan menantunya namun tangan Atalie dengan cepat menarik rambut Mak Njah sehingga si empunya mendongak dengan mata melotot.


"Kau diam saja!! " bentak Atalie dan setelah itu melepaskan tanganya dari rambut putih Mak Njah dengan kuat sehingga Mak Njah terpental.


"Bakar! "


Tanpa menunggu lama lagi anak buah Harison menyiram bensin ke arah tubuh dua orang yang terduduk lemas di lantai tanpa bisa berbuat sesuatu.


Mereka membakar dua orang yang sudah di penuhi oleh bensin, membiarkan Mak Njah berteriak melihat anak dan menantunya di lahap oleh si jago merah.


Hahaha!


Mereka tertawa terbahak-bahak melihat api yang bekobar di depan mata kepala sendiri.


Lama mereka tertawa di depan api yang besar itu sampai akhirnya api sudah padam dan hanya menyisakan abu dan tulang saja.


Mak Njah mendekati dua mayat yang sekarang sudah hancur lebur sementara mereka yang sudah tertawa merasa puas sudah pergi begitu saja.


Mak Njah menangis sejadi-jadinya dengan memeluk tulang anak dan menantunya sampai akhirnya dirinya merasakan ada yang menepuk pundaknya.


Mak Njah menoleh dan langsung melihat seorang pria muda dengan menggunakan jaket, pria itu tersenyum.


"Saha anjeun? " tanya Mak Njah dengan datar menatap pria itu.


[Siapa kamu?]


"Saya Felix Endrosen, " jawab pria itu dengan senyuman yang masih merekah di wajahnya sementara Mak Njah masih diam tak merespon.

__ADS_1


"Kalau anda bersedia, saya akan membantu. " ucap Felix.


"Abdi henteu peryogi bantosan anjeun, "


ujar Mak Njah dengan ketus lalu kembali diam.


[Aku tidak butuh bantuanmu]


"Baiklah, tapi kalau anda berubah pikiran silakan datang saja. ini kartu nama saya, " Felix memberikan sebuah kartu nama ke arah Mak Njah yang tidak ada respon sedikitpun hanya diam sedangkan Felix yang merasa di abaikan hanya meletakan kartu nama tersebut di lantai dan setelah itu melangkah pergi.


Dalam diam Mak Njah memikirkannya sampai akhirnya keputusan untuk meminta bantuan kepada Felix dirinya pilih.


...✧༺♥༻✧...


Alan berdiam diri memandangi pemandangan lewat balkon sembari menikmati rokok.


Asap tipis keluar dari hidung mancungnya dan bibir tipisnya, sampai akhirnya sebuah suara menghentikan apa yang sedang Alan lakukan.


Tanganya mengambil benda pipih yang ada di atas meja lalu mengangkat telepon dari Fera.


"" Halo,""Fera di seberang sana menyapa dengan nada datar.


"" Ada apa?""tanya Alan dingin namun tidak ada balasan yang ada hanya suara kunyahan.


"" Ehem,"" Alan berdehem dimana berhasil membuat Fera yang sedang mengunyah permen karet tersadar dari lamunanya.


"" Eh maaf, aku menelpon karena aku mendapatkan info."" jelas Fera.


"" Apa? "" tanya Alan dengan nada datar.


"" Felix, membuat labirin. "" jawab Fera.


"" Untuk? "" tanya Alan kembali.


"" Tentu saja untukmu, "" jawab Fera dengan ketus.


"" Oh, ""


"" Ya, ""


Setelah itu Alan menutup sambungan telepon secara sepihak dan menyimpan kembali benda pipih miliknya lalu kembali menikmati rokoknya.

__ADS_1


__ADS_2