
Aleski sekarang tengah menatap rumah yang sudah berminggu-minggu ia tinggalkan karena ingin terbebas dari kekangan mereka namun sekarang dirinya sudah berdiri di depan rumah yang selalu ia hindari.
Gerbang tinggi bercat hitam berkilau dimana dirinya sangat bahagia saat melewatinya namun sekarang dirinya akan melewatinya kembali untuk masuk ke dalam.
Tak.. Tak.. Tak..
Aleski memberanikan dirinya untuk melangkah mendekat ke arah gerbang yang tertutup rapat.
"Permisi! "
Aleski berteriak dengan tangan yang meraba gerbang tersebut lalu matanya mulai mengintip apakah ada seseorang di sana.
Trengteng!
Gerbang terbuka karena dua orang berbadan besar telah membukanya dan di saat itulah Aleski dapat melihat jelas bangunan rumah mewah bercat putih berdiri kokoh di atas tanah berhektar-hektar.
"Non Al, "
Mereka terkejut ketika melihat majikanya yang sudah pergi entah kemana sekarang justru sudah kembali.
Aleski hanya tersenyum tanpa berucap, setidaknya ia tersenyum untuk menghormati mereka.
Setelah memberanikan dirinya akhirnya melangkahkan kaki jnjangnya untuk masuk lebih dalam dan untungnya dua anak buah Marwin yang berbadan besar itu tidak mencegahnya jadi dirinya bisa lebih mudah.
Cklek!
Sepi, itulah yang di rasakan pertama kali oleh Aleski ketika membuka pintu rumah bercat putih yang menjulang tinggi itu.
Ia memberanikan diri untuk melangkah masuk lebih dalam, dan tempat yang ia pikirkan adalah dapur yang ia pastikan ada bibi pelayan.
Suara gaduh di dapur seketika senyap ketika mereka melihat kedatangan Aleski yang tidak mereka duga.
"Non Al, "
Ucap mereka bersamaan dengan mulut terbuka serta mata yang membulat memandang Aleski yang tersenyum.
"Nona, apakah ini benar Nona? "
"Iya, ini aku. "
"Selamat datang Nona Aleski, "
Mereka membungkuk sebagai tanda hormat kepada majikanya sementara Aleski segera menyuruh mereka agar berhenti membungkuk.
"Bagaimana kabar Nona? "
"Aku baik sangat baik, dan kalian bagaimana kabarnya? "
"Kabar kami baik Nona, "
"Syukurlah, "
"Emm,, apa aku boleh bertanya? " Aleski tak ingin memperlama waktu sebab rasa penasaranya sudah membuncah.
"Silakan,"
"Apa benar aku bukan anak kandung? "
__ADS_1
Hening, mereka tercengang ketika mendengar penuturan Aleski barusan. Hingga akhirnya Bi Desi angkat tangan.
"Mari Non, "
Bi Desi menarik lengan Aleski hendak membawa majikanya itu entah kemana sementara Aleski hanya bisa diam.
"Kenapa Non Aleski tanya kayak gitu? " Bi Desi berhenti lalu bertanya kepada Aleski dengan penuh selidik.
"A-aku tidak bisa menjelaskanya, " tak mungkin jika dirinya berkata jujur kalau Oma Iris-lah yang memberi tahunya yang entah benar atau tidaknya tapi cukup masuk akal.
"Bi Desi sebenernya maju mundur buat kasih tau Non, " Bi Desi menunduk menatap lantai marmer dengan wajah yang masam.
Aleski yang merasa bahwa wanita di depanya itu tengah ragu memutuskan untuk memegang bahu Bi Desi.
"Bi Desi tidak perlu ragu untuk mengatakan kebenaranya karena aku tidak akan marah atau benci, lagi pula untuk apa aku melakukan hal itu?"
Bi Desi yang mendengar ucapan Aleski seketika mendongak dengan menatap kedua matanya namun dirinya masih bungkam hatinya merasa dilema antara menjawab atau tidak.
Aleski yang melihat Bi Desi hanya diam seketika kembali berucap "Baiklah kalau Bibi tidak mau mengatakanya, tapi tolong beri tahu aku dimana Mama sama Papa?"
Hening, menit per menit sudah terlewat tapi Bi Desi masih diam menatap Aleski.
"Yasudah kalau begitu, Aleski mau pergi saja biar aku cari sendiri. " dengan perlahan dirinya menjauhkan tanganya dari bahu Bi Desi lalu mulai mengayunkan kakinya namun dengan cepat tanganya di cekal.
Bi Desi menatap Aleski "Ya, mungkin sudah saatnya Non tau. "
Bi Desi mengajak Aleski untuk masuk lebih dalam mengajaknya ke gudang untuk mengambil sesuatu yang entah apa.
Prak,, prak,, prak,,
Bi Desi menyingkirkan barang-barang yang ada di kardus untuk mencari benda yang dirinya cari.
"Apa itu Bi? " tanya Aleski yang melihat sebuah foto di tangan Bi Desi namun dirinya tidak mengenal siapa yang ada di dalam foto itu.
Bi Desi menghela napas lalu bangkit menghadap Aleski yang menautkan kedua alisnya.
"Ya, apa yang Non katakan itu benar bahwa Non bukan lah anak kandung Tuan Marwin dan Nyonya Marie, tapi Non adalah anak kandung Nyonya Eline Maresya."
Bi Desi menyodorkan foto tersebut dan langsung di terima Aleski, memandang foto di tanganya dengan mimik wajah tidak percaya.
"Nyonya Eline dulunya adalah kekasih Tuan Marwin namun malah melakukan hal terlarang sehingga membuat Tuan Marwin murka hingga menghabisi nyawa Nyonya Eline, beruntung anda Non Aleski tidak ikut terbunuh."
"Kenapa? "
Bi Desi menggeleng tanda tidak tahu "Bibi tidak tau tapi jika memang Non ingin mengetahui semuanya silahkan bertanya dengan yang bersangkutan. "
Aleski berfikir hingga akhirnya kepalanya mendongak menatap Bi Desi "Apa Bibi tau dimana Mama sama Papa? "
Sekali lagi Bi Desi menggelengkan kepalanya "Nyonya Marie pergi entah kemana sementara Tuan Marwin sepertinya masih di rumah sakit. "
"Aneh, " gumam Aleski yang merasa aneh karena Marie pergi entah kemana bahkan tanpa kabar.
'Aku rasa semuanya ada hubungannya dengan Mama, Ya. aku harus mencarinya mungkin aku akan meminta bantuan Tuan Alan karena mustahil jika aku mencarinya sendiri. '
***
Aleski duduk di kursi penumpang setelah selesai dengan urusanya, matanya melamun memikirkan apa yang harus dirinya lakukan selanjutnya.
__ADS_1
Rasa ragu sekaligus takut menyerang dirinya sebab ia merasa tidak enak hati jika meminta bantuan kepada Alan apalagi pria itu sangatlah cuek seperti tidak perduli dengan apapun itu.
Namun jika tidak akan sulit untuk mencari Marie apalagi dirinya tidak tahu harus bagaimana mencari satu orang di dunia sebesar ini sementara dirinya merasa hanya Marie yang tahu dengan apa yang sebenarnya.
...✧༺♥༻✧...
Di sebuah gudang dimana Marie di sekap tampak masih seperti semula bahkan Marie masih di kursi dengan posisi terjatuh ke arah kiri karena kemarin dirinya sempat memberontak sehingga kursi yang ia duduki terjatuh.
Keadaanya sangatlah miris, pakaian brended yang semula terlihat mewah sekarang sudah sangat tidak karuan apalagi dirinya sekarang sangatlah kurus karena selama di sekap ia hanya di berikan segelas air putih untuk mengganjal rasa lapar.
Sreeet!
Pintu teropos itu terbuka menampakan Mak Njah dengan tersenyum smrik dengan membawa sebuah ember berisikan air panas.
Tak,, Tak,, Tak,,
Mak Njah melangkah mendekat ke arah Marie yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Dasar puguh!! " tanpa aba-aba wanita setengah abad itu menyiram Marie dengan air panas yang ada di dalam ember, sehingga Marie yang kena siram merintih kesakitan apalagi kulitnya nampak memar karena ulah Mak Njah.
[Dasar pemalas]
"Hudang gancang!! "
[Cepat bangun]
"Dasar bodoh!! bagaimana aku bisa bangun? kalau posisi ku seperti ini?! " walau dirinya di perlakukan kasar oleh Mak Njah namun dirinya tetap berani berbicara lantang.
Mak Njah tersenyum smrik lalu menundukan badanya, mencengkram wajah Marie yang sekarang tidak semulus dulu.
"Saha nu nitah barontak? henteu leres?
lamun ngan anjeun sepi, anjeun bakal tetep diuk. " Mak Njah berucap dengan nada sinis lalu melepas wajah Marie dengan kasar.
[Siapa yang menyuruhmu untuk memberontak? tidak ada kan? kalau saja kamu diam pasti sekarang masih duduk manis]
Mak Njah bangkit menatap Marie dengan tatapan jijik namun dengan segera senyuman mengejek berubah menjadi sebuah seringaian.
Kreak!
"Aakkh!"
Mak Njah menginjak betis Marie dengan kencang sehingga si empunya merasa sakit serasa tulangnya akan patah.
"Gering? " Mak Njah bertanya namun Marie hanya diam dengan mimik wajah menahan rasa sakit.
[Sakit? ]
"Basa lemah! " ejek Mak Njah seraya mengambil ember namun ketika melihat air panas masih tersisa akhirnya di siramnya lagi ke wajah Marie.
[Dasar lemah]
Merasa puas dengan yang ia lakukan akhirnya kaki keriputnya melangkah mendekat ke arah pintu.
Sreet!
Gelap gulita dan hening itulah yang di rasakan Marie, air bening mulai menetes di ikuti suara rintik hujan di luar gudang.
__ADS_1
'Dasar wanita kejam'