
Di ruangan yang gelap dengan banyak debu di sana sini dan ruangan itu adalah gudang, dimana terdapat seorang wanita yang tengah di ikat di kursi dengan mulutnya yang di tutup oleh sebuah kain.
Sreet!
Pintu yang terbuat dari kayu yang sudah teropos itu terbuka dan sinar matahari langsung masuk membuat gudang yang semula gelap menjadi terang dan berhasil membuat wanita tersebut mendongak dimana langsung mendapati seorang perempuan paruh baya dengan mengenakan kebaya dan kain jarik dan wanita tua itu adalah Mak Njah.
"Wilujeng sonten Nyonya Marie, " ujar wanita tua tersebut dengan menggunakan bahasa Sunda dan seraya mendekat ke arah Marie yang menatap tajam perempuan tua di depanya.
[Selamat siang nyonya Marie]
Kaki keriputnya berhenti tepat di depan Marie dan tanganya melepas kain yang menutup rapat mulut Marie.
"Dasar bengsek!" teriak Marie sementara Mak Njah malah tertawa cekikikan dimana membuat Marie semakin kesal.
"Abdi brengsek? " tanya Mak Njah dengan menunjuk dirinya sendiri.
[Saya brengsek? ]
"Ya! kau brengsek sama seperti Felix, kalian berdua BRENGSEK! " teriak Marie namun Mak Njah hanya tersenyum smrik dengan tanganya yang mengambil sebuah cermin yang sudah retak, setelahnya Mak Njah mengarahkan cermin tersebut ke arah Marie.
"Tingali dina eunteung ieu, " ujar Mak Njah sembari menunjuk cermin yang di pegangnya.
[Lihat di cermin ini]
__ADS_1
"Beungeut dina eunteung teh jerk, " ucap Mak Njah dengan di iringi tawa yang sangat nyaring.
[Wajah yang ada di cermin ini adalah orang yang brengsek]
"Kau, kurang ajar! " geram Marie namun Mak Njah lagi-lagi malah tertawa.
"Hahaha, eta leres. ieu beungeut dina eunteung teh *******. " ucap Mak Njah dengan nada mengejek.
[Hahaha, memang benar. wajah di cermin ini adalah orang brengsek]
"Maksudmu apa Hah!? " tanya Marie dengan nada keras sementara Mak Njah melempar cermin yang tadi ia pegang dan setelah melemparnya Mak Njah mencondongkan badanya lalu mencengkram kuat dagu Marie sampai si empunya meringis kesakitan.
"Kusabab anjeun putra Harison sareng Atalie! " sekarang Mak Njah menjawab pertanyaan Marie dengan nada yang kencang.
"Memangnya kenapa Hah?! kalau aku anak dari Harison dan Atalie?" tanya Marie dengan menggebu-gebu.
"Naha? sabab geus maehan anak jeung incu kuring!" sungguh sekarang wanita tua tersebut sudah emosi seperti sedang kesetanan.
[Kenapa? karena mereka sudah membunuh anak dan cucuku!]
"Sareng ayeuna abdi hoyong maehan anjeun! " teriak Mak Njah.
[Dan sekarang aku ingin membunuhmu!]
__ADS_1
"Tapi hanjakal aing teu beunang, ari kitu mah rek di siksa heula. " lanjut Mak Njah yang sekarang sudah sedikit mengecilkan suaranya.
[Tapi sayangnya aku belum diizinkan, maka dari itu aku ingin menyiksamu terlebih dahulu,]
Setelah mengatakanya Mak Njah berjalan menuju pintu reot itu namun sebelum keluar Mak Njah menoleh ke arah Marie dengan tersenyum smrik.
"Nempo deui, "
[Sampai jumpa lagi]
Treet!
Pintu tertutup dengan suara decitan sementara Marie hanya diam memandangi pintu yang sudah tertutup rapat dan begitu juga dengan ruangan yang sedang dirinya tempati, kembali gelap gulita.
'Kenapa jadi begini?'
"Aahhkk!! "
Marie berteriak dengan memberontak yang membuat kursi kayu yang dirinya duduki terguncang dan akhirnya terjatuh.
Dugh!
Marie diam dengan menahan rasa sakit karena terbentur lantai dengan cukup kuat namun dirinya bisa apa? jika bangkit itu sangatlah mustahil dan dirinya sekarang hanya bisa berdiam seperti mayat.
__ADS_1