Tolong Aku Tuan Mafia

Tolong Aku Tuan Mafia
Bab 55 | Tangis Haru


__ADS_3

Seorang pria berjas lengkap berjalan menyusuri makam, dengan di tanganya yang membawa sebuah bunga.


Tap!


Langkahnya terhenti saat melihat satu makam yang bertuliskan Syakil Marwin, lantas dirinya langsung berjongkok dan meletakan satu bunga di batu nisan.


Seorang pengacara kepercayaan Marwin yang bernama Ramdan tersebut menengadahkan kedua tanganya untuk mendoakan orang yang membuatnya malu, malu karena sudah mengecewakan Marwin karena tidak bisa membebaskan Aleski dari sel tahanan.


"Maafkan aku Tuan, sungguh aku merasa bersalah. Jika Tuan masih hidup saya akan merelakan kepala saya untuk Tuan penggal." ungkapnya dengan suara bergetar menahan tangis.


...✧༺♥༻✧...


Aleski duduk di depan seorang kakek tua yang menatapnya dengan sendu, entah apa maksud dari tatapan orang yang sama sekali Aleski tidak kenal.


"Maafkan kakek yang tidak bisa membebaskanmu,"


kemarin dirinya baru saja menjalankan persidangan namun tiga pengacara yang entah dari siapa saja tidak ada yang mampu untuk membebaskannya. Tapi walaupun begitu tiga pengacara tersebut mampu mengurangi hukuman Aleski menjadi lima tahun penjara.

__ADS_1


"Maaf, tapi sebelumnya saya ingin bertanya tentang kakek ini siapa ya? " tanya Aleski mengabaikan permintaan maaf dari kakek tadi.


Kakek yang masih terlihat bugar itu terkekeh pelan. "Namaku Hordon Adjama, ayah dari ibumu. Eline Maresya,"


Aleski tidak merespon, hanya tersenyum tipis saja karena masih belum mengerti. Sementara kakek tadi yang bernama Hordon tampak tersenyum.


"Hahaha, santai saja Aleski. Mungkin kamu belum terbiasa dengan status sesungguhmu," tawa renyah keluar dari mulut kakek tua tersebut yang mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa canggung.


Lagi, Aleski hanya diam saja yang membuat Hordon merasa keberadaannya tidak dapat terlihat.


"Dery kau jelaskan saja lah, aku grogi." ungkap Hordon yang di balas anggukan dari Dery, asisten pribadinya.


"Saya akan menjelaskan kepada Nona, Tuan Hordon Adjama adalah Kakek kandung Nona sendiri, dan Tuan Hordon mempunyai anak bernama Eline Maresya ibu kandung Nona sendir, " jelas Dery apa adanya.


"Jadi kakek ini adalah kakek kandung saya? dan itu berarti saya masih mempunyai keluarga? " tanya Aleski dengan berbinar, ia kira akan hidup sebatang kara namun ternyata itu semua tidaklah benar karena sekarang kakeknya telah memunculkan diri setelah sekian lama bersembunyi dari musuh.


Hordon mengangguk dengan tersenyum puas, akhirnya kini Aleski sudah paham. "Iya Aleski, dan setelah bebas dari sini kau pulanglah ke rumah kakek."

__ADS_1


Aleski mengangguk penuh haru dengan deraian air mata yang menetes, membuat Hordon yang melihatnya langsung tak tega. Hingga tanpa pikir panjang langsung memeluk cucunya itu.


"Sudah jangan menangis lagi, sudah cukup kamu membuang air mata."


***


Dari jauh nampak Oma Iris yang melihat kebersamaan itu, bibir keriput yang jarang terangkat kini tersenyum hangat.


Ia sudah tahu sebenarnya kalau Aleski itu bukan orang sembarangan, namun dirinya tidak mau ikut campur urusan orang lain. Karena jika waktu bisa menjawab kenapa dirinya harus menjelaskan, lagi pula itu bukan kewajibannya.


Alan yang merasa jengah akhirnya berjalan menuju parkiran dan menunggu disana, sementara Fera yang tidak tahu apa-apa hanya berdehem.


"Maaf Nyonya, apa tidak jadi masuk menemui Aleski?" tanya Fera dengan hati-hati.


"Kirimkan surat saja padanya, aku tidak mau mengganggu." saut Oma Iris sebelum akhirnya berlalu.


Fera mengerutkan keningnya merasa heran, tapi ia tidak mau membantah.

__ADS_1


__ADS_2