
Ditengah gelapnya malam, bahkan rembulan dan bintang-bintang tidak menampakkan wujudnya. Seakan ada sebuah pertanda, jika malam ini akan terjadi sebuah malam berdarah.
Disebuah kediaman, tepatnya di Paviliun Anggrek. Paviliun yang hanya memiliki beberapa pengawal dan pelayan, paviliun yang hanya memiliki sedikit orang untuk menjaga sang putri, terjadi serangan senyap yang dilakukan oleh pembunuh bayaran.
Tap…
Tap…
Tap…
Tring…
Slasshh…
Slaassh...
Wush…
Aaaggrhhh…
Bruk…
Suara langkah kaki disusul dengan suara ayunan pedang, pisau, anak panah dan tombak yang tersembunyi saling bersahutan di ikuti tubuh yang ambruk ke tanah dengan luka parah dan bahkan ada yang sudah tak bernyawa. Dengan tubuh dipenuhi dataran dan juga terdapat anak panah serta tombak dituduh mereka.
"Ada penyusup! Lindungi tuan putri!" teriak salah satu prajurit.
Suara dentingan pedang dan teriakan kesakitan saling bersahutan di malam yang sunyi.
Seorang pria berjubah hitam datang dari atas, terbang dan mendarat ke tanah dengan sempurna. Tubuhnya meliuk-liuk sambil menebaskan pedang pada para pembunuh bayaran, pria itu jika dilihat sekilah bukan seperti sedang bertarung, melainkan seperti sedang menarikan tarian pedang yang begitu anggun dan indah namun terkesan gagah berani dan begitu mematikan.
Semua sisa para pembunuh bayaran itu mati dengan leher terputus, sangat mengerikan.
Zee Lin keluar dari kamarnya dan melihat situasi di luar. Terlihat sangat kacau, bak kapal karam dengan semua benda ringan mengambang di atas air.
Namun bedanya, yang berada di paviliun Anggrek adalah sisa jebakan yang sudah menghancurkan sebagian musuh dan tubuh para membunuh di genangan darah yang pekat.
"Apa kalian baik-baik saja?!" tanya Zee Lin khawatir ada korban dari orang-orang nya.
Mendengar suara lembut dari junjungan mereka, para prajurut memberi hormat dengan berlutut dan pelayan membungkuk hormat.
__ADS_1
"Kami baik baik saja Yang Mulia Putri! Ada dua prajurit yang terluka dengan luka ringan" jawab pemimpin prajurit penuh hormat.
"Syukurlah jika tidak ada yang kehilangan nyawa. Untuk yang terluka segera panggil tabib." kata Zee Lin merasa lega karena tidak ada korban jiwa.
Wusss...
Dua orang pria terbang dan mendarat di tanah. Salah satu dari kedua pria itu adalah pria yang sudah membantu menghabisi sisa pembunuh bayaran.
"Tidak perlu memanggil tabib. Aku sudah membawa orang yang bisa mengobati kedua prajurit itu" ucap pria yang memakai jubah hitam.
"Siapa kamu?!" tanya ZeeLin waspada.
"Aku tidak bisa menunjukkan wajahku disini. Sebelumnya, biarkan dia yang mengobati kedua prajurit itu" ucap pria berjubah hitam.
"Baiklah, tapi kalian harus tetap ku awasi!" Bagaimanapun, sebagian para pembunuh bayaran dihabisi oleh pria berjubah hitam itu dengan mudah.
"Terserah" kata pria berjubah hitam tidak mempermasalahkan.
Pria yang memakai jubah putih segera mengobati kedua prajurit yang terluka setelah pindah ke ruangan pengobatan di paviliun Anggrek.
Dengan teliti ia mengobati kedua prajurit itu dengan telaten.
"Aku tidak menyangka, jika putri pertama mempekerjakan prajurit dibawah umur" ujar pria berjubah putih dengan suara serak.
Kedua prajurit yang sudah selesai di obati itu saling menoleh satu sama lain. Kemudian mereka bersujud bersama dengan menghadap ke arah tuan putri mereka.
"Kami bekerja sebagai prajurit tuan putri dengan keinginan kami sendiri, kami ingin melindungi tuan putri yang sudah menolong kami berdua. Kami tidak ingin tuan putri disalahkan karena kami" ujar salah satu prajurit muda dengan suara bergetar.
"Apa yang kalian lakukan! Bangunlah! Kalian masih terluka" kata ZeeLin tidak suka jika ada yang bersujud didepannya kecuali musuhnya.
"Jadi begitu" kata pria berjubah putih.
"Aku pergi dulu" lanjutnya menoleh kearah pria berjubah hitam dan di angguki oleh pria itu.
Sepeninggal pria berjubah putih terjadi keheningan sesaat.
"Aku masih belum tahu siapa nama kalian" ucap ZeeLin pelan.
"Nama hamba Yan Luo, dan adik hamba bernama Yan Lu" ujar Yan Luo.
__ADS_1
Tubuh ZeeLin sedikit menegang mendengar nama keduanya. Ia teringat dengan kakek dan ayahnya. Setetes air mata jatuh tanpa ia sadari.
Sebelum orang lain melihatnya, pria berjubah hitam dengan cepat membawa ZeeLin kedalam pelukannya.
"Apa yang kau....!" ucap ZeeLin dengan kata-kata yang tersangkut ditenggorokannya.
"Kalian pergilah!" perintah pria itu dengan dingin.
Kedua prajurit keluar dari ruang pengobatan, menyisakan dua orang berbeda jenis.
"Apa kamu merindukan kakek Luo?" tanya pria itu pelan.
"Kamu?.... Kakak Xuan?!"
"Ya ini aku! Xuan-mu, Ze'er" Haocun semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku merindukan mereka berdua" kata ZeeLin lirih namun masih dapat terdengar.
Haocun hanya mengernyitkan dahinya tidak berkata apapun, membiarkan kekasihnya melanjutkan ucapannya.
"Aku merindukan kakek dan ayahku"
ZeeLin terisak pelan saat mengingat kembali bisikan ayahnya sebelum menikamnya waktu itu.
"Ada apa Ze'er? Mengapa kamu semakin menangis?!"
Dilepasnya pelukan pada gadis itu, ia menangkup kedua pipi sang gadis yang sudah basah karena air mata.
"Aku teringat saat ayahku diusir sama kakek, saat itu aku ada disana bersama dengan ayah dan ibu. Ayah sedang mengobati penyakit jantung yang diderita ibu. Setiap kali, jantung ibu sakit, ayah selalu memperlihatkan wajah cemas dan takut." ZeeLin mulai menjelaskan masa lalunya dengan lirih dan dengan air mata yang keluar tanpa henti.
"Saat itu, ibu memintaku untuk keluar kamarnya. Setelah aku keluar, aku mendengar keributan didalam kamar, ayah dan ibu bertengkar. Dan baru sekali aku mendengar ayah membentak ibu. Aku memutuskan untuk menetap diluar pintu. Apa kakak tahu, apa yang membuat mereka bertengkar hebat untuk pertama kalinya?"
ZeeLin mengambil napas dalam, dadanya terasa sesak, meskipun tidak sesakit saat ia merasakan ada yang meremat jantungnya.
"Ayah marah besar saat ibu mengatakan untuk mengakhiri hidupnya. Ibu menganggap bahwa, ia akan mati cepat atau lambat, dan rasa sakit yang mendera jantung ibu, semakin parah. Ibu... Di-a... Mengatakan pa-da a-yah agar ayah... Memberinya ra-cun.. Hiks"
Haocun membawa ZeeLin kedalam pelukannya. Ia sangat tahu, jika gadisnya sangat bersedih. Ia juga baru tahu, jika kematian ibu kekasihnya itu karena permintaan ibunya sendiri! bukan ayahnya yang sengaja membunuh ibunya!
"Ayah tentu saja menolak dan tidak ingin memberikan apa yang ibu inginkan. Ayah tidak hanya pandai dalam pengobatan, tapi ayah juga hebat dalam membuat racun mematikan. Saat ayah hendak keluar kamar, aku segera bersembunyi, namun aku tidak bersembunyi jauh dari kamar ayah dan ibu"
__ADS_1