
Zee Lin mengambil tangan putra mahkota "Dengarkan aku dulu, kak" pinta nya. Putra mahkota duduk kembali dan berusaha mendengarkan Zee Lin dengan baik.
Zee Lin yang melihat putra mahkota duduk kembali lantas menceritakan semuanya termasuk rencananya dengan syarat putra mahkota harus merahasiakan hal ini dari siapapun. Termasuk dari pangeran kedua sekalipun. Meskipun pangeran kedua dan dia begitu dekat, semakin sedikit yang tahu maka semakin kecil pula rahasia itu tidak bocor.
"Jadi, setelah kamu pulih total, kamu akan memberitahu semuanya jika kamu sudah sadar?"
Zee Lin mengangguk pelan.
"Hahhh... Jadi sekarang kamu masih berlatih berjalan kembali?" Tanya putra mahkota.
"Benar kak"
Putra mahkota tersenyum hangat "Besok kakak akan mengunjungi mu lagi dan menemanimu berlatih berjalan bersama kakak. Kamu mau kan ze'er?" Tawarnya.
Zee Lin tersenyum manis lalu mengangguk "Ze'er mau kak" jawabnya dengan semangat.
"Baik lah kalau begitu kakak pergi sekarang" pamit putra mahkota sambil mengacak rambut Zee Lin.
Setelah kepergian putra mahkota. Di otak cantiknya Zee Lin terus mencari cara bagaimana membalas orang yang sudah menyakiti pemilik tubuh yang ia tempati itu.
»---♡---«
Sudah beberapa bulan putra mahkota membantu Zee Lin berjalan bahkan putra mahkota mengajari Zee Lin berlatih beladiri dan memakai beberapa senjata. Karena di kehidupan sebelumnya Zee Lin merupakan jenderal besar hal itu tak menyulitkan Zee Lin sama sekali. Bahkan gerakan yang diajarkan oleh putra mahkota terlihat sangat mudah untuk di tebak.
Zee Lin menunjukkan sedikit kemampuannya yang sebenarnya dikehidupan yang lalu dan itu membuat putra mahkota tercengang.
Bagaimana tidak, garakan yang di tunjukkan oleh Zee Lin begitu cepat dan sangat sulit untuk terbaca.
Putra mahkota bertepuk tangan terpesona setelah melihat gerakan sederhana yang ditunjukkan oleh Zee Lin.
"Ze'er! Kamu sangat hebat! Bahkan kemampuan kamu lebih dari kemampuan kakakmu ini" puji putra mahkota sekaligus merendah.
Zee Lin tersenyum tipis "Itu baru awal kakak. Semua gerakan yang kakak ajarkan padaku bisa aku baca"
"Dari mana kamu tahu gerakan itu?" Tanya putra mahkota penasaran. Pasalnya ia baru mengetahui ada gerakan yang seperti itu.
Zee Lin gelagapan kemudian ia tersenyum misterius "Kalau kakak senggang, nanti aku ajarkan beberapa gerakan yang sangat sulit terbaca oleh musuh. Dan untuk gerakan itu, aku sendiri yang menciptakannya" ujar nya.
ZaYun menatap adiknya tidak percaya sekaligus takjub. 'Apakah dia adalah dia?!' batinnya.
__ADS_1
"Wah ternyata adikku sangat jenius!" Puji nya.
"Kakakmu ini akan menantikanmu untuk mengajari kakak" lanjutnya yang hanya dibalas senyum tipis Zee Lin.
...----------------...
Zee Lin menatap pintu gerbang kediamannya. Putra mahkota berada disampingnya. Saat ini Zee Lin sudah memutuskan untuk keluar dari kediamannya setelah setengah tahun pemulihan diri.
Sebelum Zee Lin membuka pintu gerbang. Pintu itu terbuka lebih dulu. Di seberang sana berdiri seorang pria dengan raut wajah cemas terpatri di wajah tampannya.
Saat pria itu melihat Zee Lin berdiri di seberang pintu, ia langsung menghampiri Zee Lin dan membawa Zee Lin ke pelukannya. "Ze'er!" Gumamnya
"Kakak sangat menghawatirkan kamu! Apa kamu baik-baik saja? Apa masih ada yang sakit? Beritahu kakakmu ini Ze'er" ucapnya beruntun.
Zee Lin diam menatap pria didepannya itu setelah pelukannya terlepas. 'Apa dia Pangeran kedua? Dari sikapnya pada Zee Lin (pemilik tubuh yang asli) sepertinya iya' batinnya menebak.
'Kakak JinJin' sekelebat bayangan muncul di ingatannya membuat Zee Lin memejamkan mata untuk meredam sakit kepala yang tiba-tiba menyerang. Dalam bayangan itu, seorang gadis kecil memanggil seorang anak laki-laki remaja lalu memeluknya dengan tawa cerianya.
"Ze'er!" Ujar Putra mahkota dan pangeran kedua bersamaan.
"Ze'er baik-baik saja" ujar Zee Lin karena tidak ingin membuat kedua kakaknya khawatir.
"Ya Ze'er" balas Pangeran JinHu khawatir.
"Kenapa kakak lama sekali pulangnya?" ujar Zee Lin merajuk.
Jin Hu tersenyum tipis "Kita bahas didalam saja ya? Lagi pula kamu masih harus beristirahat" ajaknya sambil menatap Zee Lin.
Zee Lin mengangguk lalu membalikkan badannya kembali ke kediaman nya.
JinHu menatap putra mahkota yang juga tengah menatapnya. Mereka bertatapan cukup lama sampai JinHu memutuskan pergi meninggalkan putra mahkota yang masih berdiri di ambang gerbang pintu keluar kediaman.
JinHu tidak mengetahui jika Ayah beserta ke tiga saudara sekandung nya hanya berpura-pura membenci Zee Lin. Itu sebabnya JinHu hanya bisa bersikap hangat pada adik perempuannya saja.
Putra mahkota yang ditinggal sendirian lantas memutuskan untuk kembali ke kediaman nya dengan perasaan lega karena adiknya Zee Lin sudah ada yang menjaga nya.
"Eh kakak pertama kemana?" tanya Zee Lin saat ia melihat hanya ada JinHu saja.
Dahi JinHu mengerut "Kenapa jika dia tidak kesini?" Tanya nya heran.
__ADS_1
Zee Lin menggelengkan kepalanya "Tidak"
"Sekarang jelaskan padaku kenapa kamu bisa sampai terluka dan tertidur sampai berbulan-bulan lamanya?!" Tanya JinHu setelah mereka duduk.
"Aku tahu siapa kamu Ze'er! Kamu hanya akan mengatakan segala hal pada ku saja. Kamu tidak perlu takut untuk mengatakannya" lanjut JinHu yang melihat Zee Lin hanya diam saja.
"Aku hanya terpeleset saat ingin berdiri ditepi kolam" jawab Zee Lin setelah berpikir sebentar.
"Bohong! Aku sudah menyelidiki nya sebelum kembali kesini! Saat aku pergi gadis itu semakin berani untuk menyakitimu!" Sarkas JinHu yang mengetahui adikkya memilih berbohong padanya ketimbang berkata jujur.
JinHu memegang kedua tangan Zee Lin "Dia mendorongmu sangat keras sampai kamu terjatuh ke dalam kolam dan membuat kepalamu terbentur!"
"Apa yang kakak katakan benar bukan?" tanya pangeran JinHu menatap tajam sang adik.
"Ya" jawab Zee Lin pasrah. Ia tahu jika kakak ke-duanya ini sangat menyayanginya.
"Dia!" Geram JinHu. Terlihat dari kedua mata tajamnya berubah memerah karena menahan amarah.
"Akan ada saatnya seseorang akan menyesali perbuatannya"
JinHu menatap Zee Lin "Apa yang akan kamu lakukan?!" Tanyanya yang mengerti maksud dari perkataan Zee Lin.
"Apa pun yang akan aku lakukan kakak tidak perlu tahu" ucap Zee Lin sangat misterius.
»---♡---«
"Apa dia sudah kembali?" Tanya seorang wanita setengah baya sambil menyesap anggur ditangannya.
"Pangeran kedua sudah kembali Yang Mulia" jawab pelayannya.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya wanita itu lagi sambil menggoyangkan gelas yang berisi minuman berwarna merah.
"Putri Zee Lin masih belum bangun Yang Mulia"
"Pergilah" usirnya. Pelayan itu pun keluar dari sana.
"Ibu, bagaimana jika gadis itu terbangun dan mengatakan segalanya?!" Tanya putrinya.
"Meskipun dia sudah terbangun, dia tidak akan memiliki keberanian untuk mengadu" jawab ibunya dengan percaya diri tapi tidak dengan putrinya yang merasakan firasat buruk.
__ADS_1