
Kaisar melihat isi surat itu. Di atasnya terdapat tanggal kapan ditulis. Sudah sangat lama! Sepertinya delapan bulan yang lalu!.
Kaisar baca tulisan itu. "Salam pada Yang Mulia, semoga anda selalu dilimpahkan kebaikan.
Hamba langsung saja.
Permaisuri tengah mengandung! Tapi keadaan permaisuri sangat lemah! Permaisuri sedang membutuhkan anda Yang Mulia!"
Jantung kaisar berdetak sangat cepat saat membaca tulisan salah satu pelayan permaisuri.
"Permaisuri mengandung... Dan surat ini bahkan ditulis delapan bulan yang lalu!" kata-kata nya tercekat di tenggorokannya.
Pangeran Yuan yang mendengar hanya bisa membola. Permaisuri mengandung?!. Apa ini kabar baik atau kabar buruk?! Tidak mungkin setelah selir Hia Lu mengandung dan kandungannya sudah tujuh bulan kaisar malah mendapat kabar yang ternyata permaisuri sudah mengandung duluan di istana sana.
Tak ayal, kaisar merasa sangat bahagia mendapat kabar keadaan permaisuri. Kaisar tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia itu lagi!.
Surat kedua ia buka dengan buru-buru dengan jantung berdetak kencan. Ia berdebar saat membukanya.
"Salam pada Yang Mulia Kaisar! Semoga kebahagiaan selalu terlimpahkan pada Yang Mulia.
Maafkan hamba yang terlambat memberikan surat pertama. Hamba terpaksa tidak segera menyerahkan surat tersebut pada anda secepatnya karena ketahuan oleh permaisuri. Permaisuri melarang hamba untuk memberikan surat tersebut meskipun permaisuri tidak mengambil surat hamba.
Semakin lama keadaan permaisuri semakin memburuk. Kami selalu berusaha agar permaisuri tetap bertahan dan selamat.
Jika surat ini sudah sampai ke tangan anda, itu berarti permaisuri akan segera melahirkan! Permaisuri sangat membutuhkan kehadiran anda yang mulia! Hamba mohon untuk segera kembali demi permaisuri!"
Belum selesai kaisar membaca seluruh surat itu, tangan kaisar sudah tidak mampu membacanya lagi. Surat itu terjatuh dari tangannya. Seketikat itu jantungnya seakan berhenti berdetak.
Permaisuri akan segera melahirkan! Dan dirinya masih tetap berada di perbatasan dalam waktu yang sangat lama. Suami macam apa dia ini! Sudah berkali-kali ia menyakiti permaisurinya dan sekarang permaisurinya akan segera melahirkan! Disaat permaisurinya sedang mengandung dalam kondisi lemah! Dirinya malah memanjakan selirnya itu!.
"Dimana prajurit yang mengirim pesan?!" Tanya kaisar cepat.
"Prajurit itu masih berdiri di luar Yang Mulia" jawab pangeran Yuan.
Kaisar segera beranjak dari duduknya. Menghampiri prajurit yang mengantar pesan.
"Apa yang terjadi dengan permaisuri!" kaisar mencengkram pakaian prajurit pembawa pesan.
"Ya-yang Mulia!"
"Yang Mulia tenangkan diri anda" ujar pangeran Yuan menenangkan kaisar.
Kaisar melepaskan cengkramannya. Lalu menoleh pada pangeran Yuan. "Tenang katamu! Istriku akan segera melahirkan! Dan kau menyuruhku tenang hah!" teriak kaisar.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke istana! Kau kembali denganku! Dan pangeran Yuan tetap berjaga diperbatasan!" setelahnya kaisar pergi dan menaiki kudanya dan memacu kudanya dengan cepat di ikuti prajurit yang membawa pesan dari pelayan permaisuri.
"Heh! Baru ingat dia kalau istri yang sebenarnya adalah permaisuri!" gumam pangeran Yuan geram dengan tingkah kakaknya itu.
Sepeninggal pangeran Yuan. Para prajurit disekitar saling berbisik.
"Apa selir Hia Lu akan melahirkan? Bukankah usia kandungannya masih tujuh bulan?"
"Kau ini bod*h ya! Yang kaisar maksud itu permaisuri!"
"Apa! Jadi permaisuri mengandung dan akan segera melahirkan?!"
"Sudah jangan banyak bicara! Atau kita akan terkena masalah!"
»---♡---«
Di istana tepatnya di paviliun permaisuri.
Didalam kamar permaisuri terjadi kegaduhan. Mereka dengan cepat melakukan apa yang tabib katakan.
"Cepat ambil air hangatnya lagi! Kondisi permaisuri semakin menurun!" teriak tabib berusaha tetap tidak panik.
"Yang Mulia, anda harus bertahan! Anak ini membutuhkan anda!" Lirih Fu Len disamping permaisuri sambil terus mengelap karingat yang terus mengucur tanpa henti.
Fu Len menggeleng cepat "Tidak Yang Mulia! Apa yang anda katakan! Yang Mulia harus bertahan!"
"Katakan pada kaisar, aku akan selalu mencintainya! Aku akan... memberinya kesempatan... dikehidupan selanjutnya... agar kaisar... dapat menebus dosanya" napas permaisuri Quan Zee Lin semakin tersenggal.
"Yang Mulia anda harus bertahan!" panik Fu Len.
"Yang Mulia atur napasnya! Tarik napas dalam-dalam dari hidung lalu hembuskan perlahan dari mulut!" ujar tabib yang mulai panik juga.
Permaisuri mencoba melakukan apa yang dikatakan tabib meski sangat sulit. Napasnya sudah terputus-putus.
"Jika anda mengalami kontraksi hebat, segeralah mengejan!"
Tak berapa lama, terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang.
"Kaisar" lirih permaisuri lalu terpejam dan menghembuskan napasnya untuk yang terakhir kalinya.
"Yang Mulia!" teriak Fu Len sambil terisak.
Didalam kamar permaisuri yang seharusnya ada kebahagiaan malah harus ada kesedihan yang sangat mendalam.
__ADS_1
Para pelayan menangis keras atas kepergian permaisuri mereka untuk selama-lamanya.
Bayi itu seakan tahu keadaan sang ibu. Ia menangis bertambah keras seakan mengiringi kepergian sang ibu yang bahkan belum merasakan pelukan hangat seorang ibu.
Brak!
Pintu kamar permaisuri didobrak sangat keras mengagetkan para penghuni yang berada didalam kamar. Mereka terkejut dengan siapa yang berani menerobos kamar permaisuri!.
Kaisar sudah kembali pada permaisurinya! Tapi sayangnya kaisar sudah terlambat!.
"Permaisuri!" teriaknya menggema dikamar permaisuri yang seketika senyap karena kedatangannya. Bahkan para pelayan yang biasa menyambutnya masih berada ditempat.
Fu Len masih tetap berada ditempatnya. Sedangkan tabib menyingkir memberi jalan pada kaisar. Ia memutuskan untuk membersihkan bayi yang baru lahir itu.
"Permaisuri buka matamu!" teriak kaisar sambil menggoyang tubuh permaisuri.
"Tidak! Kau tidak ku izinkan pergi! Buka matamu permaisuri!" teriak kaisar dengan pilu saat tidak mendapat respon apa pun.
Kaisar menatap Fu Len yang masih diam ditempatnya.
"Kau! apa yang terjadi padanya! Kenapa permaisuri tidak juga membuka mata!"
Seakan mulut Fu Len terkunci, gadis itu hanya menggeleng pelan dan masih terisak.
"Tidak! Tidaaaakkk! Kau harus bangun permaisuri. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak bangun juga! Ku bilang buka matamu! Aaaaarrgghh...!"
Kaisar memeluk tubuh permaisuri yang sudah mendingin dengan erat.
"Buka matamu sayang! Kumohon kembalilah! Maafkan aku sayangku! Apa kau marah padaku sehingga kau memutuskan untuk pergi meninggalkanku selamanya?! Ampuni aku permaisuriku. Kumohon kembali" gumam kaisar yang masih terdengar.
Para pelayan hanya menangis lirih.
"Permaisuri sempat mengatakan pada hamba. Permaisuri mengatakan untuk anda Yang Mulia. 'Aku akan selalu mencintainya! Aku akan... memberinya kesempatan... dikehidupan selanjutnya... agar kaisar... dapat menebus dosanya.' Itu yang permaisuri katakan sebelum pangeran terlahir.
Bagai tertimpa sebuah gunung yang sangat besar. Dada kaisar terasa sesak mendengar nya. Meskipun kaisar selalu bersikap kasar pada permaisuri, tapi permaisurinya selalu mencintainya dan selalu memaafkannya. Kesempatan?! Apakah dia memiliki kesempatan itu?!
»---♡---«
Kaisar menatap lekat wajah permaisuri yang sudah didandani secantik mungkin serta mengenakan pakaian kebesaran permaisuri kekaisaran Han dengan lengkap. Bahkan permaisuri Quan Zee Lin memakai mahkota permaisuri kekaisaran Han.
Tidak ada dalam sejarah, permaisuri maupun kaisar yang tetap dipakaikan mahkota kebesaran mereka sebelum dikebumikan.
Hanya kaisar Han Haocun saja yang pertama kali melakukannya!.
__ADS_1
Digenggamnya tangan yang sudah terbungkus sarung tangan merah yang berukir sulaman naga yang terbuat dari benang emas.