
Haocun membawa ZeeLin kedalam pelukannya lalu ia berbisik "Kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan selalu menjagamu dikehidupan sekarang maupun dikehidupan yang akan datang. Hatiku akan tetap menjadi milikmu permaisuriku"
"Emm... Manisnya suamiku ini" seru ZeeLin.
Haocun menatap wajah istrinya lekat. Semakin lama wajahnya semakin maju ke depan hingga bibir mereka saling bertemu. Namun....
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terpaksa menghentikan keduanya. Haocun menggeram marah, sedangkan ZeeLin hanya terkekeh geli.
"Ze'er! Adik ipar! Apa kalian sudah bangun? Jika iya tolong buka pintunya! Selamatkan aku dari putra mahkota!" seru pangeran JinHu sambil terus mengetuk pintu.
"Mandilah dulu. Aku akan menemuinya" kata Haocun dengan muka masam.
Setelah ZeeLin masuk ke kamar mandi, Haocun segera membuka pintu.
"Apa kau sudah tidak menyayangi nyawamu lagi!" geram Haocun.
"Ha... Yang Mulia. Biarkan aku masuk dul... "
"Adik dimana kau?! Jangan bersembunyi dariku!" teriak putra mahkota marah karena pangeran JinHu terus menghindarinya.
Tanpa banyak kata lagi, pangeran JinHu masuk kedalam kamar tanpa izin lalu menarik Haocun masuk dan mengunci pintu dari dalam.
"Hei apa yang kau...!"
"Ssstt! Jangan berisik Yang Mulia! Jika tidak, putra mahkota akan menangkapku dan akan mengintrogasi ku. Bisa gawat kalau dia berhasil menangkapku!" pangeran JinHu tanpa sadar mendekap mulut Haocun menggunakan tangannya.
Haocun hanya menatap kakak iparnya dengan pandangan dingin.
Glek
Tanpa sadar pangeran JinHu menelan ludah. Tubuhnya merasa merinding.
"Apa yang gege lakukan?!" tanya ZeeLin yang baru selesai mandi pada pangeran JinHu.
Pangeran JinHu dengan perlahan menoleh kebelakang. Tepatnya pada Haocun berdiri sambil menatapnya dingin.
"Astaga! Ya Tuhan! Lindungilah aku!" kaget pangeran JinHu.
"Kau kira aku setan!" sinis Haocun memandang tajam pangeran JinHu.
"Pangeran JinHu dimana kau?!" suara putra mahkota terdengar lagi.
Pangeran JinHu langsung kelabakan. Dirinya harus sembunyi!.
__ADS_1
"Keluar kau dari sini!" usir Haocun geram dengan tingkah kakak iparnya.
"Tidak tidak! Jika aku keluar, dia akan memaksaku bicara yang berhubungan dengan kaisar! Apa kau mau kaisar menangkapku hah!" kata pangeran JinHu dengan panik.
"Apa?! Memangnya apa yang kau lakukan sampai dia curiga dengan padaku!"
"Itu..." mata pangeran JinHu melirik ZeeLin.
"Dia sudah tahu siapa aku. Katakan saja!"
"Sekarang tidak ada waktu! Aku harus bersembunyi dulu! Setelah dia pergi, aku akan katakan" pangeran JinHu semakin panik saat mendengar langkah kaki mendekat ke kamar ZeeLin.
"Pergilah ke kamar mandi. Biarkan kami yang mengurus kakak pertama" seru ZeeLin merasa kasihan melihat kakaknya itu. Sepertinya dia harus meminta penjelasan pada kakaknya itu!
Setelah pangeran JinHu masuk kedalam kamar mandi. ZeeLin melepas pakaian atasnya lalu naik ke atas ranjang dan menutupinya dengan selimut.
"Apa yang gege lihat! Cepat lepaskan pakaian gege!" suruh ZeeLin cepat saat suaminya hanya diam memandanginya.
"Apa?" tanya Haocun masih belum mengerti.
Hampir saja ZeeLin berdecak. "Jika ZaaYun gege tahu kita sedang melakukan itu, dia tidak akan berani masuk kedalam untuk memeriksa apakan JinHu gege berada disini! Hanya orang bodoh yang akan tetap menerobos masuk!" jelasnya dengan wajah bersemu merah.
"Ah! Baiklah. Tapi setelah itu, kita lakukan sungguhan ya"
Haocun langsung melepas pakaiannya. Hanya tertinggal satu lapisan dalam saja. Dia melemparnya sembarang seperti pakaian istrinya yang tergeletak di lantai.
Tok tok tok
"Ze'er! Adik ipar! Apa kalian sudah bangun?!" tanya putra mahkota.
Benar saja putra mahkota akan mencari pangeran JinHu ke kamar ZeeLin dan dirinya.
Dengan malas Haocun menghampiri pintu. Membuka kunci pintu lalu membuka pintu sedikit dan menyembulkan kepalanya keluar. "Ada apa putra mahkota?" tanya Haocun langsung.
"Astaga! Kau mengejutkanku adik ipar. Panggil saja seperti Ze'er memanggilku" kata putra mahkota sedikit terkejut melihat Haocun yang hanya menyembulkan kepalanya saja.
"Baiklah"
"Ada apa denganmu? Kenapa hanya kepalamu saja yang keluar?" tanya putra mahkota basa-basi.
"Aku tidak bisa mengatakannya. Intinya kau akan tahu setelah menikah!" ucap Haocun misterius.
Dahi putra mahkota mengerut. "Memangnya apa?" tanya nya.
"Hah... Ternyata putra mahkota kerajaan Quan pikirannya masih sangat polos" ucap Haocun setelah menghela napas sejenak.
__ADS_1
"Hei. Aku tidak ada waktu untuk mencari seorang gadis! Katakan saja langsung!" paksa putra mahkota.
"Ck! Apa kakak ipar akan melihat tubuh istriku tanpa busana! Ya meski aku tahu dia adalah adikmu. Tetap saja kau seorang pria!" kata Haocun berdecak geram. Menghadapi orang dengan pikiran polos memang sangat sulit.
Mata putra mahkota membulat sempurna. "Apa?! Jadi kalian sedang?..."
"Kau kira apa? Jika tidak ada kepentingan, kami akan lanjut dulu!" kata Haocun lalu tanpa belas kasihan langsung menutup pintu dengan keras dan langsung mengunci pintunya.
"Ya! Adik ipar! Kurang ajar sekali kau!" teriak putra mahkota kesal.
"Aku tidak peduli! Suruh siapa mengganggu!" jawab Haocun ikut berteriak kesal juga sambil berjalan untuk mengambil pakaiannya.
Suara gedoran pintu kembali terdengar di ikuti teriakan putra mahkota.
Haocun menggeram kesal. "Apa dia sudah tidak menyayangi nyawanya! Beraninya menggangguku berkali-kali. Hah... Untung kakak ipar. Kalau orang lain udah mati dia" gerutunya lalu membuka pintu. ZeeLin hanya terkekeh geli mendengar gerutuan suaminya itu.
Namun tanpa pria itu duga, putra mahkota justru mendorong pintu dengan keras sehingga pintu terbuka lebar.
ZeeLin berteriak terkejut. "Apa yang gege lakukan! Keluar!" teriaknya.
Tubuh putra mahkota menegang saat ia melihat adiknya berada dibalik selimut dan pakaian adik serta adik iparnya berserakan. Ia melirik adik iparnya yang menatapnya tajam seakan ingin membunuhnya detik itu juga.
Glek
Ternyata yang dikatakan adik iparnya benar. Mereka sedang melakukan...
Pikiran putra mahkota semakin kacau saat Haocun menghampiri nya yang hanya menggunakan pakaian putih lapisan terdalam nya.
"Apa kau tidak paham dengan kata-kata ku?! Atau kau tidak percaya dengan yang ku ucapkan?! Apa yang sebenarnya kau cari sampai mendobrak pintu dengan tidak sopan seperti itu?! Dimana sopan santun seorang putra mahkota?! Jika raja tahu, raja pasti sangat malu memiliki putra mahkota yang tidak memiliki sopan santun" seru Haocun panjang lebar, tak lupa tatapan tajam selalu mengarah ke arah putra mahkota.
"Eeh... Ehem. Aku minta maaf sudah sembarangan masuk. Aku hanya mencari pangeran kedua. Apa kalian melihatnya?"
"Kami tidak tahu. Kau kira kami akan peduli saat melakukan itu. Jangan mengganggu kami! Cepat pergi dari sini!" usir Haocun menggunakan nada kaisarnya.
Glek
Putra mahkota lagi-lagi menelan ludah kasar. Entah mengapa, adik iparnya terlihat sangat menakutkan.
"Baiklah aku akan pergi. Jika kalian melihat pangeran kedua, beritahu aku secepatnya"
"hmm" balas Haocun dingin.
"Semoga keponakanku cepat jadi. Sampai jumpa" putra mahkota langsung lari terbirit-birit, takut dengan aura yang adik iparnya keluarkan. Sangat menusuk tulang dan menyeramkan.
Haocun menutup pintu dan menguncinya rapat.
__ADS_1