
Di Tempat Lain
Seorang pria sedang fokus pada dokumen yang ditulis pada gulungan bambu ditangannya dan di samping meja kerjanya juga ada beberapa gulungan bambu yang menumpuk. Pekerjaannya harus segera ia selesaikan.
Seorang Kasim kepala kekaisaran meminta izin untuk masuk. Setelah mendapat izin, Kasim itu masuk ke dalam ruangan pria tersebut yang masih setia dengan dokumen yang ia baca.
Kasim itu memberi hormat sebelum mengatakan tujuannya.
"Yang Mulia, ini sudah satu tahun setelah pernikahan sirih anda dengan mendiang selir anda yang terakhir" katanya dengan pelan sambil menundukkan kepalanya.
Pria yang di panggil Yang Mulia itu hanya diam dan tidak tertarik dengan hal yang akan di bahas oleh kasim itu.
Merasa tidak ada suara, Kasim tersebut mendongakkan kepalanya dan menghela napas pelan.
"Yang Mulia, jika anda tidak segera menemukan calon permaisuri para pejabat akan terus mendesak anda" ujarnya.
Pria itu menghela napas panjang kemudian ia menggulung dokumen yang sudah ia kerjakan lalu meletakkannya di atas mejanya.
"Apakah mereka berani menentang ku!" Sentaknya sambil mengangkat kepalanya menatap Kasim itu dengan tatapan membunuh.
Tubuh Kasim itu bergetar hebat ketika tatapan itu di layangkan oleh junjungan nya. Dengan segera ia bersujud memohon ampun kepada junjungan nya.
"Jika kali ini wanita yang disodorkan padaku tidak sesuai dengan apa yang ku inginkan, aku sendiri yang akan mencari wanitaku!" Ancamnya dengan kilatan kejam di mata tajam bak burung elang.
Kasim itu mendongak terkejut. "Ampun Yang Mulia! Tapi anda tidak boleh keluar istana seorang diri! Diluar sangat berbahaya, Yang Mulia!"
"Bukankah wajahku tidak pernah terlihat oleh siapapun bukan?" Ucap pria itu dengan senyum sinis nya.
"Maksud anda? Hamba tidak mengerti" beo Kasim itu.
__ADS_1
Pria itu terkekeh penuh misteri.
"Saat waktunya tiba, ku harap kau akan tetap tenang ketika aku tiba-tiba menghilang dari istana!" Katanya penuh dengan nada ketegasan.
Kasim itu membelalakkan matanya "Ampun Yang Mulia! Hamba mohon pada anda untuk tetap di dalam istana!" Ujarnya karena ia mengerti maksud dari junjungan nya.
"Apa kau menentang keputusan ku?!" Bentak pria itu.
Kasim hanya menunduk takut "Hamba tidak berani Yang Mulia. Hamba tidak berani".
"Jika kau tidak berani padaku, maka lakukan saja apa yang aku perintahkan!"
"Baik Yang Mulia"
Pria itu menatap kosong ke arah depan setelah kepergian Kasim kepala kekaisaran itu. Pikirannya mengelana seperti tak berujung.
Malamnya pria itu pergi menuju ke kediaman selir baru nya. Sesungguhnya dia tidak ingin menikmati malam dengan wanita manapun. Tapi, dia tidak bisa berbuat seenaknya kecuali jika wanita yang disodorkan kepadanya tidak sesuai dengan apa yang di inginkan oleh nya. Hal itu hanya segelintir orang saja yang mengetahui fakta tersembunyi itu. Orang lain hanya mengetahui jika para selirnya tiada karena tidak sanggup di kekang di dalam paviliun Mawar dan memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Itu lah desas desus kabar burung yang sudah menjadi rahasia umum bagi semua kalangan rakyat.
Suasana ketika ia memasuki paviliun, indera penciuman nya mencium aroma yang sangat menyengat. 'Semua wanita sama saja. Membuatku muak saja!' makinya dalam hati dengan dahi yang mengernyit tidak suka dengan bau yang ia cium.
Terlihat seorang wanita yang sedang menunggu di atas pembaringan dengan balutan pakaian pengantin seperti sedang menunggu kehadirannya.
"Angkat kepalamu!" Perintahnya sambil menatap wanita itu tajam.
Wanita itu yang mendengar suara perintah dari seorang pria lantas tersenyum kemudian mengangkat kepalanya dan memandang sang pemilik suara itu. Senyum yang tersungging di bibirnya seketika langsung memudar ketika dihadapannya adalah seorang pria yang mengenakan pakaian pengantin yang sama dengannya, pria itu terkenal dengan ketegasannya dan kekejamannya sekaligus terkenal memiliki wajah cacat karena pria itu mengenakan topeng untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Apa kau takut padaku heh?!" Sinisnya saat ia menangkap tatapan ketakutan pada mata wanita itu.
"Apa kau tidak melupakan fakta yang beredar, jika aku memiliki wajah cacat?!" Lanjutnya dengan sangat tajam.
__ADS_1
Tubuh wanita itu bergetar hebat dan dengan segera ia turun dari atas pembaringan dan mencoba untuk keluar dari paviliun. Tapi sepertinya langit tidak mengizinkan dia keluar dari tempat terkutuk itu.
"Berani sekali kau mencoba keluar dari tempat ini tanpa izin dariku!" Desis nya marah.
"Kumohon biarkan hamba pergi dari sini Yang Mulia, hamba tidak masalah jika hamba menjadi janda asalkan anda membebaskan hamba" mohon wanita itu sambil bersujud dengan membenturkan kepalanya dilantai dengan keras didepan pintu yang sengaja di kunci dari luar.
Pria itu tersenyum menyeringai sambil menatap selir barunya itu "Kenapa kau takut selir? Aku tidak akan menyakitimu, jika kau ingin kebebasan maka akan aku kabulkan" ucapnya pelan.
Ling Zhi menatap pria itu dengan mata berbinar "Benarkah? Apakah anda akan membebaskan hamba?"
Dia mengangguk lalu tersenyum penuh misteri. Ketika selir itu masih diliputi kesenangan karena ia akan terbebas dari tempat terkutuk ini, pria itu dengan secepat kilat melemparkan sebuah jarum yang sudah di oles dengan racun yang sangat mematikan dan tidak akan ada yang mengetahui jika racun itu masuk ke tubuh Ling Zhi.
Tubuh Ling Zhi langsung ambruk dengan sesak nafas yang sangat hebat seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya.
Pria itu terkekeh melihat keadaan Ling Zhi "Kau meminta kebebasan maka aku berikan. Kau sudah bebas selir ku sayang" bisiknya sebelum Ling Zhi menutup mata untuk selama-lamanya.
Setelah urusannya selesai dia keluar dari paviliun dan memerintahkan kepada Kasim yang setia mengikuti nya kemanapun ia pergi untuk membersihkan tempat itu.
Kasim hanya bisa menghela napas lelah dengan kelakuan sang kaisar agung itu.
Setiap kali mengangkat seorang selir pasti akan berakhir tragis seperti barusan.
Lagi-lagi kaisar membuat ulah yang selalu merepotkan dirinya. Jika pria itu bukan seorang kaisar, dia pasti akan menggantung pria kejam itu dan menjadikan bahan tontonan rakyat.
Namun dirinya hanya seorang kasim rendahan saja yang hanya bisa pasrah menerima perintah sang kaisar agung yang terkenal dingin, kejam, tak berperasaan dan yang paling penting adalah kaisar memiliki wajah cacat yang sangat mengerikan diluar sana. Namun nyatanya, kaisarnya itu memiliki wajah tampan seperti para dewa.
"Ckck.. Sangat disayangkan gadis sepertimu harus berakhir tragis ditangan kaisar. Anggap saja sebagai penghargaan langsung dari kaisar" ucap kasim berdecak turut prihatin melihat tubuh tak bernyawa itu.
Dengan segera, kasim melakukan tugasnya seperti sebelumnya, yakni mengembalikan tubuh tak bernyawa yang pernah diangkat menjadi selir ke esokan harinya setelah memberikan salep yang dapat menyembuhkan luka tanpa bekas dalam semalam pada jejak jarum yang dilemparkan kaisar. Agar orang-orang tak curiga jika kaisarlah yang membunuh para selir sebelum-sebelumnya dengan alasan, para selir itu bunuh diri karena ketakutan dengan wajah buruk rupa sang kaisar agung.
__ADS_1