
"Apa kau melupakan ayahmu ini Ze'er?" Ujar pria itu setelah membuka penutup wajahnya.
"Ayah?!" Kata Zee Lin hampir menyerupai bisikan.
"Lin'er cepat pergi dari sini!" Seru kakek Luo teriak.
Pria yang mengaku ayahnya Zee Lin merentangkan tangannya menunggu untuk dipeluk tak lupa seringaian di bibirnya.
Tanpa menunggu lama Zee Lin berlari kearah pria itu lalu memeluknya dengan penuh kerinduan.
"Apa yang kau lakukan Lin'er!" Teriak kakek Luo.
"Ze'er dengarkan ayah." bisiknya ditelinga sang putri.
"Ayah tahu jika saat itu kamu masih berada diluar kamar bukan, kamu tahu segalanya sayang. Ayah sudah sangat menderita karena kehilangan ibumu, dan ayah juga harus pergi meninggalkanmu. Ayah selalu berjuang keras agar bisa kembali membawamu. Ze'er... maukah kamu ikut dengan ayah menemui ibumu? Kita berkumpul bersama-sama lagi. Dikehidupan selanjutnya, ayah ingin kalian berdua menjadi keluarga kecil ayah lagi. Kita hidup bersama dan bahagia. Ayah akan melindungi kalian berdua dengan nyawa ayah, ayah akan berusaha agar ayah bisa melindungi kalian dengan mudah kelak. Ze'er... Apa kamu mau putri kecil ayah" bisik Yan Lu.
ZeeLin terdiam sejenak. Setelah memutuskan, ia mengangguk pelan. Lalu berbisik "Ze'er mau ayah. Mari kita menemui ibu" dan aku juga bisa bertemu dengan kakak Xuan!. Lanjut ZeeLin dalam hati.
"Ayah sangat menyayangimu putri kecil ayah"
"Ze'er juga menyayangi ayah" balas ZeeLin.
"Maafkan ayah sayang"
Pria itu menyeringai lebar dan sebuah pedang pun menembus jantung sang jendral besar muda.
Darah keluar dari luka tusukan itu dan juga dari bibir pink milik Zee Lin.
"Yan Lu...!" Teriak kakek Luo murka melihat cucu kesayangannya mengalami hal yang serupa dengan putrinya lima belas tahun yang lalu.
"Kakek" lirih Zee Lin kemudian mata indah itu tertutup rapat.
Flashback off
...»---♡---«...
Pagi dini hari di paviliun Anggrek.
Haocun menatap kekasihnya yang masih terlelap di pelukannya.
__ADS_1
Setelah menceritakan apa yang terjadi, Haocun memutuskan untuk menginap. Ia akan pergi saat masih petang.
"Ternyata, kehidupanmu lebih berat dariku di kehidupan sebelumnya. Aku tidak menyangka bisa memiliki gadis setegar dan sekuat dirimu, sayang" bisik Haocun lalu mengecup lembut kening sang kekasih dengan pelan, takut membangunkan gadis tercintanya.
Perlahan, Haocun turun dari peraduan. Sekali lagi ia mengecup kening pujaan hatinya kemudian pergi.
»---♡---«
Di istana kekaisaran.
Kaisar melangkah menuju kamarnya. Saat ingin memasuki kamar, sebuah suara menghentikannya.
"Kau baru kembali kak?" katanya yang hanya mendapat deheman sebagai balasan.
"Untung saja aku langsung kembali, tidak menunggumu. Ternyata tebakanku benar." pria muda itu mengekor dibelakang kaisar yang memasuki kamar dan menutup kamar kaisar dengan santai.
"Kapan kakak akan membawa kakak ipar kesini?" tanyanya yang melihat kaisar merebahkan diri diatas peraduannya.
"Keluarlah Yuan'er! Aku ingin beristirahat!" usir kaisar tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
"Ck! Apa kakak lupa hari ini calon kakak iparmu akan datang?! Dia sudah sampai tadi pagi. Apa katanya nanti jika calon adik iparnya yang merupakan seorang kaisar bermalas-malasan!" Han Yuan, pangeran kekaisaran pada dinasti Han, adik satu-satunya kaisar memilih pergi setelah berkata demikian.
"Mengapa aku bisa melupakan itu!" gumamnya.
"Sudahlah. Bersihkan diri dulu"
»---♡---«
"Yang Mulia Kaisar Agung memasuki aula" ucap kasim dengan lantang yang selalu mengikuti kaisar berdiri didepan pintu aula utama.
Pangeran JinHu yang menunggu kaisar di dalam aula segera membalik badan dan bersujud.
"Apa yang kau lakukan? Berdirilah!" titah kaisar tidak suka jika pangeran JinHu bersujud padanya. Kaisar berdiri tak jauh dari pangeran JinHu bersujud karena kedatangannya. Kaisar tidak berdiri atau bahkan melewati pangeran JinHu yang sedang bersujud.
"Maaf Yang Mulia?!" ucap pangeran JinHu bingung.
"Aku bilang berdiri" ujar kaisar dengan dingin.
Dengan ragu, pangeran JinHu berdiri. Namun, ia masih menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Kaisar kembali berjalan menuju singgasananya.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya kaisar setelah duduk.
Mendengar hal itu, pangeran JinHu mendongak tanpa sadar. "Maaf Yang Mulia?"
Kaisar menghela napas pelan lalu mengulang perkataannya. "Apa kau sudah sarapan pangeran?" katanya sambil menatap tajam pangeran JinHu.
Glek...
Pangeran JinHu langsung menundukkan kepalanya sambil menelan ludah takut.
Pikirannya sekarang sedang berkelana. Apa yang harus ia jawab? Sebelum datang keistana, dia sudah sarapan dipenginapan. Jika dia menjawab sudah, ia takut kaisar akan marah padanya. Jarang-jarang kaisar bertanya seperti itu terhadap tamu. Yang ia ketahui, kaisar hanya akan bertanya soal itu hanya pada orang-orang tertentu saja. Tapi jika ia menjawab belum sarapan, takutnya kaisar akan berpikir jika dirinya mengharapkan hal lebih dengan cara menjilat.
"Apa yang kau pikirkn pangeran? Kau hanya perlu menjawab ya atau belum. Aku tidak akan marah jika kau menjawab belum!"
'Sudah kuduga! Kaisar menginginkan jawaban belum dariku!' batin pangeran JinHu bimbang.
"Hamba tidak berani Yang Mulia. Terimakasih sudah bertanya demikian pada hamba yang hina ini" jawab pangeran JinHu merendah.
"Hmm... Apa kau berani membiarkan kaisar ini kelaparan, pangeran?" tanya kaisar membuat pangeran JinHu kelabakan.
"Ti-tidak Yang Mulia. Ampuni hamba" ujar pangeran JinHu hendak bersujud kembali, namun urung saat mendengar ucapan kaisar.
"Apa yang akan kau lakukan?! Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan hal rendah itu! Aku hanya menyuruhmu untuk menemaniku makan"
"Sekarang jawab pertanyaan ku! Apa kau sudah sarapan!" lanjut kaisar dengan nada santai kali ini, hingga membuat pangeran JinHu terkejut.
"Yang Mulia, hamba tidak pantas menerima kehormatan dari anda" ucap pangeran JinHu merendah sambil menundukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa?! Kau berbeda dari orang lain. Disaat orang lain menjauhi seseorang, tapi kau tetap bertahan disisinya untuk melindunginya!"
"Aku ingin menawarkan sesuatu padamu!"
"Kalau boleh tahu, apa yang akan Yang Mulia tawarkan pada hamba?" tanya pangeran JinHu.
"Sampai saat ini, orang-orang tahu jika aku hanya memiliki seorang tangan kiri. Posisi tangan kananku masih kosong. Jika kau ingin mengatakan ada pangeran Han Yuan, jawaban dia selalu ingin bebas tanpa ada yang mengaturnya. Aku juga tidak ingin bocah itu menjadi tangan kananku" kata kaisar mulai menjelaskan.
"Upah untuk posisi tangan kananku lebih tinggi dibanding posisi tangan kiriku. Karena posisi tangan kanan harus bersedia diperkenalkan di khalayak umum dan posisi itu juga sangat berbahaya, apa lagi akan ada banyak pihak yang mengincar orang yang menjadi tangan kananku. Berbeda dengan posisi tangan kiriku, dia tersembunyi dan misterius. Hanya aku dan sang tangan kananku saja yang tahu, serta bawahan dia sendiri. Mungkin posisi tangan kiriku terlihat tidak berbahaya. Namun, tugas yang di emban tangan kiriku lebih berat dibanding tangan kananku. Sampai sekarang posisi itu masih belum ada yang mengisinya."
__ADS_1