
Bruk
Tubuh Fu Len ambruk. Mengapa takdir memberikan hal buruk yang terus menimpa permaisurinya!.
"Aku akan menyiapkan obatnya" setelah itu tabib pergi. Namun, sebelum meninggalkan kamar permaisuri Fu Len berkata.
"Rahasiakan hal ini dulu! Tunggu keputusan permaisuri!"
"Baik" kata tabib patuh.
Fu Len merangkak mendekati junjungannya. Ia mengambil tangan permaisuri lalu menggenggam nya.
"Yang Mulia. Aku akan tetap selalu berada disampingmu" bisik Fu Len yang masih bisa terdengar pelayan lain, karena didalam kamar permaisuri sangat senyap hingga suara bisikan pun dapat terdengar.
Para pelayan ikut berlutut "Kami berjanji akan tetap berada disamping permaisuri" kata mereka bersama.
Para pelayan juga sangat terpukul dengan keadaan permaisuri. Selama ini, permaisuri memperlakukan mereka dengan baik layaknya keluarga sendiri.
Ke esokan harinya.
Para pelayan permaisuri berdiri di tempat sebelumnya kecuali Fu Len yang masih menunggu permaisuri yang tak kunjung bangun.
Para pelayan seperti hari-hari sebelumnya. Menunggu kaisar datang tak jauh dari kamar permaisuri. Mereka menunggu kedatangan kaisar dengan harap-harap cemas.
Mereka mencemaskan kaisar datang berkunjung, sedangkan permaisuri masih enggan membuka mata.
Tap…
Tap…
Tap…
Suara langkah kaki terdengar di ujung lorong. Para pelayan mulai berkeringat dingin. Mereka semakin menundukkan kepalanya saat kaisar mulai terlihat.
Terlihat, kaisar sedang berjalan mendekat. Kaisar pasti akan mengunjungi permaisuri!. Apa yang harus mereka lakukan.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar!" kata para pelayan menyambut kaisar dengan sedikit membungkuk.
Kaisar hanya terus melangkahkan kakinya sampai kaisar berhenti melangkah tepat didepan kamar permaisuri yang tertutup rapat.
Mata tajam kaisar menatap pintu yang terbuat dari Kayu termahal dengan ukiran naga yang rumit dan dilapisi emas murni.
Tangan kekarnya terulur hendak membuka pintu sebelum sebuah suara yang sangat dikenalnya, menghentikan dirinya.
Kaisar menoleh ke sumber suara itu. Rupanya adiknya. Tidak ada orang yang berani memasuki paviliun permaisuri tanpa izin darinya! Termasuk para penjaga hanya berjaga didepan paviliun saja.
"Ada apa pangeran Yuan" tanya kaisar dengan dingin.
"Gawat Yang Mulia! Musuh sudah bergerak mendekati perbatasan!" seru pangeran Yuan langsung.
__ADS_1
"Apa! Kalau begitu kita harus bergegas!"
Kaisar hanya menoleh sebentar ke kamar permaisuri yang terhalang pintu. Ada sedikit rasa cemas terlihat di mata tajam itu.
Kaisar berjalan tergesa meninggalkan paviliun permaisuri di ikuti pangeran Yuan.
Setelah kaisar dan pangeran Yuan tak terlihat lagi, para pelayan menghela napas kecewa.
Setidaknya kaisar karus tahu keadaan permaisuri!.
"Bawa selir Hia Lu" kata kaisar saat bersiap.
Pangeran Yuan tertegun. Biasanya kaisar akan tetap membawa permaisuri meskipun kaisar sangat membenci permaisuri.
"Tapi Yang Mulia. Bagaimana dengan permaisuri?" tanya pangeran Yuan.
"Kali ini aku tidak akan membawa wanita itu! Jangan banyak tanya! Lakukan saja apa yang kuperintahkan!"
Pangeran Yuan hanya pasrah melakukan apa yang diperintahkan kaisar.
Keberangkatan kaisar dan pasukannya segera berangkat menuju perbatasan. Tidak ada yang tahu kapan kaisar akan kembali.
Waktu terus berjalan.
Permaisuri sudah mengetahui jika dirinya sedang mengandung. Ada perasaan senang dan sedih yang hinggap dihatinya.
Dirinya juga sudah tahu, jika kaisar pergi membawa selir Hia Lu yang merupakan adiknya yang berbeda ibu.
Berbulan bulan berlalu.
Kaisar masih belum ada tanda-tanda kepulangannya. Sudah delapan bulan lamanya permaisuri menunggu tanpa kabar dari kaisar dan dia juga tidak memberi kabar pada kaisar. Menurutnya, memberitahu kaisar tentang kehamilannya lebih baik dibicarakan secara langsung.
Dua minggu kemudian.
Tubuh permaisuri Quan Zee Lin semakin melemah. Namun, permaisuri tetap mempertahankan kandungannya hingga lahir dengan normal.
"Yang Mulia!" teriak Fu Len yang mendapati permaisuri meringkuk dilantai sambil memengangi perutnya yang besar.
"Sakit Fu Len" lirih permaisuri menahan sakit.
"Yang Mulia apa anda akan segera melahirkan?!" Fu Len mencoba tidak panik.
"Sepertinya... Ugh!" kontraksi kembali dirasakan permaisuri.
"Cepat panggil tabib! Permaisuri akan segera melahirkan!" teriak Fu Len yang langsung dituruti pelayan lainnya.
Salah satu pelayan yang larinya paling cepat di antara yang lainnya memanggil tabib kekaisaran. Sedangkan yang lainnya bertugas menyiapkan apa yang dibutuhkan saat persalinan.
Tok tok tok
__ADS_1
Pelayan yang memanggil tabib mengetuk dengan cepat sambil berteriak "Tabib! Cepat bantu permaisuri!"
Pintu dengan cepat terbuka "Ada apa dengan permaisuri?!" tanya tabib cemas.
"Permaisuri akan melahirkan!"
"Apa! Baik aku ambil dulu apa yang dibutuhkan"
"Ayo pergi" ajak tabib setelah mengambil peralatannya.
Tabib dan pelayan itu berlari dengan cepat.
Sebelum memasuki paviliun. Pelayan itu berhenti, ia meremat ujung pakaiannya.
Ia ambil dua gulungan didalam kantung yang setiap hari ia bawa. Ia ragu untuk melakukan apa yang di inginkannya sedari dulu.
Tanpa berpikir banyak lagi, pelayan tersebut berjalan menghampiri salah satu prajurit yang berjaga.
"Hei! Bisakah aku meminta bantuanmu? Ini tentang permaisuri!" katanya.
Prajurit itu mengerutkan dahinya. "Permaisuri? Ada apa dengan permaisuri?!"
"Jangan banyak tanya! Sedari dulu aku ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa melakukannya! Sekarang keadaan sedang terdesak! Tidak ada waktu lagi! Berikan gulungan ini pada kaisar! Permaisuri sedang membutuhkan kaisar!" pelayan itu memberikan dua gulungan tersebut pada prajurit itu.
"Kau sedang tidak bercanda kan? Jika kau bercanda dengan kaisar, bukan hanya kau saja, nyawaku menjadi taruhan juga!"
"Aku tidak sedang bercanda! Cepat antar surat-surat itu pada kaisar!" teriak gadis itu di ikuti lelehan air mata yang sudah ia tahan dari tadi.
"Hei. Kau menangis?!" panik prajurit itu.
"Jangan banyak bicara! Cepat antar surat itu pada kaisar secepatnya! Permaisuri sedang membutuhkan kaisar!" desak pelayan muda itu.
Mendapat desakan, prajurit itu segera berlari meninggalkan paviliun permaisuri. Ia menaiki kudanya dengan cepat ia pacu agar cepat sampai pada kaisar.
Setelah hampir empat jam lamanya tanpa beristirahat, prajurit itu sampai ke perbatasan.
"Yang Mulia, ada surat dari pelayan permaisuri!" ujar pangeran Yuan dengan membawa dua gulungan.
Kaisar menghentikan kegiatannya. "Surat dari pelayan permaisuri?"
"Ini Yang Mulia" pangeran Yuan memberikan dua gulungan itu.
Kaisar menerima dua gulungan kecil itu dengan perasaan cemas yang sudah hinggap dihatinya. Dari beberapa hari yang lalu, dirinya selalu mencemaskan keadaan permaisuri. Ingin sekali dirinya mencari tahu keadaan permaisuri, tapi harga dirinya sangat tinggi! Sehingga ia tidak pernah mencari tahu kabar permaisuri dan memberi perintah pada siapapun agar tidak mencaritahu keadaan permaisuri.
Dibukanya gulungan pertama yang terlihat sangat kusam. Sepertinya surat pertama.
Ia buka dengan tangan sedikit gemetar.
Pangeran Yuan bisa melihat tangan kaisar sedikit gemetar. Dia tahu jika kaisar sudah jatuh hati pada permaisuri. Meskipun kaisar membawa selir Hia Lu yang merupakan adik permaisuri, tapi kaisar tidak pernah menyentuh selir itu lagi.
__ADS_1