
Flashback on
"Jika kamu tidak memberiku racunmu, aku akan menikam jantungku sendiri!" ancam Luo Xia yang menghentikan langkah suaminya.
"Kamu mengancamku, Xia'er?!" Yan Lu menatap tajam istrinya dengan mata merahnya tanda ia sedang menahan amarah lebih besar dari sebelumnya.
Luo Xia menatap suaminya sendu. "Cepat atau lambat, aku akan mati. Jadi, lebih baik lakukan sekarang"
Yan Lu berjalan menghampiri istrinya diranjang dengan langkah lebar. "Apa kau kira dengan mati, semua akan baik-baik saja?! Apa kau tidak memikirkan putri kecil kita? Dimana pikiranmu Xia'er! Apa kau pikir, putri kecil kita tidak akan bersedih hah!" teriaknya sambil menggoncang pundak istrinya geram.
"Jika kau mencoba bunuh diri, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap Yan Lu kemudian berbalik hendak pergi.
Namun, tanpa pria itu duga. Istrinya mengambil sebilah pisau buah yang sudah berada dibawah bantalnya.
"Ku harap, kamu dapat membesarkan putri kita dengan baik. Aku selalu mencintai kalian berdua. Semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa menjadi satu keluarga kecil lagi. Maafkan aku suamiku"
Bagaikan tersihir dengan kata-kata yang dilontarkan istrinya untuk yang terakhir kalinya. Tubuh Yan Lu terasa kaku dan tidak bisa digerakkan untuk beberapa saat, hingga suara benda menembus sesuatu di iringi dengan suara ringisan kesakitan terdengar ditelinganya.
Dengan cepat ia menoleh kearah sang istri. Apa yang ia lihat sungguh sangat menyayat hati. Tubuh istrinya terbaring diatas peraduan dengan sebilah pisau menancap di dadanya. Darah segar keluar dari luka tusukan itu dan juga keluar dari bibir tipis yang sudah memudar ronanya. Kedua mata yang lembut itu sudah menutup untuk selamanya.
"Xia'er!" teriak Yan Lu sangat kencang. Mungkin saja teriakannya kali ini terdengar di sepenjuru kediaman Luo.
Yan Lu membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya. Ia menangis hebat. "Kenapa kau sangat kejam terhadap kami Xia'er! Apa yang harus aku katakan pada ayah! Apa yang harus aku katakan pada putri kecil kita! Bangunlah sayang! Buka matamu! Aku tidak mengizinkanmu pergi. BUKA MATAMU XIA'ER! AKU BILANG BUKA MATAMU! AARRGHHH...!" teriak Yan Lu
Prang....
Pisau itu ia buang sembarangan setelah ia cabut dari tubuh sang istri.
Ia sangat marah dengan apa yang dilakukan istrinya.
Yan Lu memeluk sang istri dengan erat, menghiraukan darah istrinya yang mengotori pakaiannya yang berwarna putih sekarang sudah berwarna merah.
Tanpa Yan Lu sadari, pintu kamar dibuka oleh seseorang.
Orang itu melangkahkan kakinya dengan cepat saat sudah mengetahui situasi yang terjadi didalam sana. Terdapat pisau buah yang berlumuran darah, dan seorang pria memeluk seorang perempuan yang sudah tidak bergerak.
__ADS_1
Dengan dikuasai amarah, pria paruh baya itu menikam Yan Lu dari belakang.
Darah segar keluar dari mulut Yan Lu. Ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Tubuhnya ditusuk dari belakang dengan sebilah pedang.
"Ayah" lirihnya saat menoleh kebelakang.
"Biadab! Kau sunggu biadap Yan Lu. Jika kau sudah tidak menginginkan putriku lagi, kau bisa mengembalikannya padaku! Kau membunuh putriku!" Kakek Luo murka dengan apa yang dilihatnya.
Yan Lu berdiri kemudian terkekeh menyedihkan. "Bukankah dengan mengakhiri nyawanya, dia akan sembuh ayah mertua" lirihnya.
Bagai disiram minyak. Kakek Luo bertambah murka. Ia kembali menghunuskan pedangnya ke perut menantunya.
"Ayah!" teriak seorang gadis kecil di ambang pintu yang menyaksikan kejadian di dalam kamar.
"Ze'er" lirih Yan Lu.
ZeeLin berlari kearah ayahnya yang terluka. Namun, kakek Luo menghadang cucunya.
"Jangan mendekati pembunuh itu Ze'er!" larang kakek Luo dengan keras.
Bibir mungilnya terisak pedih melihat keadaan ibu yang ia cintai sudah tidak bernapas lagi.
"Apa anda pikir, aku akan membunuh istriku sendiri?! Aku tidak akan pernah melakukannya! Lebih baik aku mati dari pada membunuh orang yang kucintai!" ucap Yan Lu lirih sambil menahan darah yang terus merembes keluar.
Kakek Luo mencengkram baju menantunya "Kau kira aku akan percaya pada omong kosongmu?! Sudah jelas jika kau yang membunuh putriku dengan pisau itu!" teriak kakek Luo lalu menyeretnya keluar kamar dengan kasar.
Didorongnya dengan kasar tubuh Yan Lu hingga terjerembab ke lantai yang membuat lantai berlumuran darah.
Yan Lu tertawa keras bagai orang kerasukan lalu ia berteriak dengan kencang. "Ya! Aku yang membunuh putrimu! Apa anda puas ayah mertua!" meskipun Yan Lu juga merasa marah dan kecewa pada ayah mertua yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya sendiri tidak percaya dengan yang ia katakan. Dengan gilanya ia mengakui apa yang tidak ia perbuat, tapi ia tetap menggunakan bahasa yang sopan
"Kau!"
Kakek Luo mengarahkan pedangnya pada Yan Lu.
Trang...
__ADS_1
Kedua pedang saling beradu.
"Aku tidak akan membiarkan anda menusukku lagi! Jika anda berhasil mengalahkanku, aku akan pergi dari sini jika itu yang anda inginkan. Tapi, jika aku berhasil mengalahkan anda... Aku tidak pernah membunuh putri anda!"
"Kau berani menantang jendral besar ini heh?!"
"Ya aku berani untuk pembelaan diriku serta demi putriku!"
"Cih! Jangan banyak omong kosong lagi!" ucap kakek Luo berdecih.
Pertarungan sengit di dalam keluarga Luo terjadi. Tidak ada yang mengalah satu sama lain.
jleb' pedang itu menusuk tubuh Yan Lu untuk yang ke tiga kalinya.
'sret'
Kakek Luo mencabut pedangnya, lalu darah menyembur keluar dari mulut Yan Lu.
"Uhuk uhuk"
"Pergilah dari sini! Jangan pernah tampakkan lagi wajahmu dan jangan pernah berpikir untuk mengusik kehidupan cucuku!" Usir kakek Luo.
Yan Lu pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Luo dengan tertatih sambil menekan luka diperutnya. Dirinya ditekan sampai sedemikian rupa oleh takdir.
Kematian istrinya dan mendapat beberapa luka tusukan dari sang ayah mertua, lalu ia juga harus meninggalkan putri kecil tercintanya.
Kakek Luo beranjak pergi dari tempat bertarung tadi menuju kamar putrinya. Didalam sana cucu perempuannya Luo Zee Lin sedang menangis sesenggukan atas apa yang terjadi pada ibunya.
Bertahun tahun sudah berlalu. Tepat di ulang tahun ke dua puluh lima ZeeLin, Yan Lu kembali pulang dengan membawa orang-orang yang setia kepadanya, yang berani mengorbankan nyawanya demi pria yang sudah menolong mereka dan keluarga mereka.
Para pengawal kediaman Luo begitupun dengan Zee Lin dan kakek Luo langsung menyerang orang-orang berpakaian serba hitam itu. Kemenangan hampir didapat oleh keluarga Luo. Tapi, semua berubah saat salah satu dari mereka berhasil melumpuhkan kakek Luo dan menjadikan kakek Luo sebagai sandra mereka. Kemenangan pun berpihak pada pihak musuh.
"Beraninya kalian menjadikan kakek ku sebagai sandra!" Geram Zee Lin.
Tiba-tiba salah satu dari mereka tertawa keras "Hahahaha... Bagaimana sekarang? Kau mengusirku tanpa membawa apa-apa dari kediamanmu, dan sekarang aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!. Kau juga yang sudah menusuk diriku!" Marahnya.
__ADS_1
Tubuh Zee Lin menegang saat mendengar suara yang ia kenal. Meskipun sudah puluhan tahun lamanya, namun ia masih mengingat suara tegas tersebut.