True Empire'S (Kekaisaran Sejati)

True Empire'S (Kekaisaran Sejati)
True Empire's • 14 • Pengawal Pribadi


__ADS_3

"Kapan dia akan datang?" tanya putra mahkota mengalihkan pembicaraan.


ZeeLin yang sadar akan hal itu hanya tersenyum sangat tipis. "Setelah urusannya selesai, dia akan datang menemuiku ditempat kami pertama bertemu"


"Jika dia datang, tunjukkan dia padaku! Aku tidak ingin, adikku berada dalam bahaya jika dia orang yang bermasalah ternyata"


ZeeLin tertawa kecil mendengar perkataan kakaknya.


"Baiklah jika itu bisa memuaskan kakak. Sebelum itu, aku beritahu kakak. Wajahnya lebih tampan darimu! Jadi, jika saat itu tiba, kakak tidak perlu bersikap aneh karena cemburu melihat wajah tampannya" ucap ZeeLin sangat santai.


"Benarkah?! Kalau begitu, kakakmu ini akan menunggunya!" ketus putra mahkota karena dibandingkan dengan orang lain.


"Aku minta pada kakak untuk merahasiakan hal ini dari siapapun! Jika ada yang bertanya, katakan saja jika aku terluka parah dan masih koma!"


Putra mahkota menatap adiknya sendu "Apa kamu akan melakukan hal yang seperti dulu lagi Ze'er?"


"Emm.... Bukankah keluargaku ini aneh?! Hanya kakak keduaku saja yang terlihat normal!"


"Sudahlah. Aku ingin ingin istirahat. Selamat siang kak" ZeeLin berdiri dan segera pergi meninggalkan putra mahkota yang masih duduk sambil memandangnya sendu.


"Aku yakin, kamu bukan adikku yang sebelumnya. Yang ada ditubuh itu bukanlah kamu. Aku sangat paham dengan sifatmu itu. Sifat yang lemah lembut, tidak sepertinya yang memiliki sifat dingin. Meski kamu diperlakukan buruk oleh keluargamu, kamu tetap bersikap seolah semua orang menyukaimu, tidak seertinya yang secara terang-terangan berkata keluarganya aneh. Zezee maafkan kami. Semoga kamu bisa tenang disana. Kamu pasti sudah tahu jika kami benar-benar menyayangimu." gumam putra mahkota.


»---♡---«


Satu minggu kemudian.


"Xuan gege!" panggil ZeeLin dengan senyum lebar.


Gadis itu berlari menghampiri sang kekasih yang sudah satu minggu tidak bertemu.


"Xuan gege! Apa urusanmu sudah selesai?" tanya ZeeLin yang sudah memeluk Haocun.


Haocun membalas pelukan kekasihnya sambil mengelus rambut panjang ZeeLin.


"Urusanku sudah selesai Ze'er. Apa kamu merindukanku hmm?"


"Apa gege juga merindukan aku?" tanya ZeeLin balik tanpa mau menjawab pertanyaan pria itu.


Haocun terkekeh kecil, kekasihnya meskipun manja terhadapnya tapi dia masih memiliki harga diri yang tinggi.


"Jika aku berkata ya? Apa kamu akan menjawabnya sayangku" goda Haocun menatap mata indah ZeeLin.


"Tentu saja! Apa gege juga merindukanku?"

__ADS_1


"Ya! Aku sangat merindukan gadisku ini" jawab Haocun memandang kekasihnya dengan lembut.


"Aku juga sangat merindukan Xuan gege" ucap ZeeLin kembali membenamkan wajahnya didada bidang Haocun.


"Bagaimana dengan tawaranku waktu itu? Apa gege mau menjadi pengawal pribadiku? Jika aku membawa gege kedalam istana dengan status sebagai kekasihku, aku yakin wanita itu pasti akan merebutmu dariku! Jadi, jika aku memperkenalkan gege sebagai pengawal pribadiku saja. Harga diri wanita itu sangat tinggi, tidak mungkin dia akan menyukai bawahanku!" kata ZeeLin panjang lebar setelah duduk tak jauh dari danau.


"Hmm... Boleh. Jika itu yang di inginkan gadisku. Aku menerima dengan senang hati" kata Haocun membawa gadis itu kedalam pelukannya.


"Baiklah! Aku akan segera membawa gege dan memperkenalkan gege pada kakak ku!" ucap ZeeLin semangat.


»---♡---«


"Tuan putri, orang yang anda tunggu sudah datang" ucap Fu Len melapor.


ZeeLin yang sedang membaca lantas menoleh pada pelayan pribadinya itu. "Benarkah? Dimana dia?!" tanya ZeeLin dengan semangat.


"ee... Tuan putri semangat sekali!. Apa dia memang akan jadi pengawal pribadi anda atau ada sesuatu yang lain nih?!" ujar Fu Len menggoda ZeeLin dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"ehem... Sebaiknya kamu bantu aku bersiap. Jangan kebanyakan menebak"


"Anda tidak perlu malu tuan putriku. Umur anda sudah memasuki masa menikah, jadi boleh-boleh saja jika anda dan pria itu menikah jika saling menyukai hihi"goda Fu Len mulai menyisir rambut junjungannya.


"Fu Len! Kamu mulai berani ya sekarang!" ketus ZeeLin dengan memejamkan mata.


"Sudahlah. Cepat selesaikan" ZeeLin menghela napas pelan dengan sikap pelayannya yang satu ini. Begitu berani namun masih bersikap sopan padanya.


"Baik tuan putri! Hamba akan cepat agar anda bisa segera bertemu pria itu hihi"


"Len'er! Berhenti menghodaku!" ucap ZeeLin sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Namun tak ayal, pelayan yang sudah menjadi pelayan yang sudah melayaninya dari kecil tulus kepadanya. ZeeLin sendiri sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.


"Xuan gege!" panggil ZeeLin keluar kediamannya.


Pria yang dipanggil pun lantas membalik badan. Senyum hangat terlihat diwajah tampannya. "Salam pada tuan putri" ujarnya dengan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Mari masuk. Aku akan menunjukkan dimana kamu tinggal" kata ZeeLin mengajak Haocun masuk kedalam paviliun anggrek.


"Ini tempat tinggal kamu" kata ZeeLin setelah sampai disebuah bangunan tak jauh dari bangunan utama di paviliun anggrek.


"Kamu masuk dan periksa" lanjut ZeeLin berusaha bersikap tidak peduli.


"Baik tuan putri" ujar Haocun sopan.


"Aku akan kembali ke kamar ku. Oh iya, besok siang aku akan mengajakmu menemui putra mahkota" setelah itu ZeeLin benar-benar pergi di ikuti Fu Len, pelayannya sejak kecil.

__ADS_1


Haocun hanya berdiri ditempat sambil memperhatikan kekasihnya yang pergi. Sungguh menggemaskan kekasihnya itu. Gadis itu tidak bisa tidak peduli padanya. Namun kali ini, untuk merahasiakan identitas hubungan keduanya, gadis itu berusaha keras untuk bersikap tidak peduli.


Setelah kekasihnya sudah menghilang dari hadapan nya, ia memutuskan untuk masuk kedalam bangunan yang disiapkan kekasihnya itu.


»---♡---«


Ke esokan harinya.


Fu Len sedang menyisir rambut tuan putrinya. Kedua orang yang berbeda kasta itu saling berbincang layaknya seorang teman tanpa adanya kasta diantara keduanya.


Tok tok tok


"Tuan Putri ini kami" ujar seorang pelayan yang melayani ZeeLin di paviliun anggrek.


"Biar hamba saja Yang Mulia putri" ucap Fu Len meletakkan sisirnya di atas meja rias. ZeeLin hanya mengangguk saja.


Tak berapa lama, Fu Len kembali dengan tergopoh-gopoh.


"Yang Mulia! Kasim Yang Mulia Raja datang membawa pesan!" kata Fu Len mulai memanggil ZeeLin dengan sangat serius. Jika pelayan muda itu mulai memanggil ZeeLin dengan sebutan Yang Mulia, maka pelayannya itu sedang serius. Sebaliknya, jika pelayannya hanya memanggil tuan putri, pelayannya dalam mode santai seperti yang diperintahkan ZeeLin sendiri.


"Kasim? Untuk apa dia kemari?" tanya ZeeLin penasaran.


"Hamba tidak tahu Yang Mulia" jawab Fu Len menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, mari temui dia" putus ZeeLin.


"Salam Yang Mulia Putri" seru sang kasim membungkukkan badannya tanda hormat.


"Ada apa paman?" tanya ZeeLin langsung tanpa basa basi.


"Hamba membawa pesan langsung dari Yang Mulia Raja. Yang Mulia Raja mengundang anda untuk sarapan bersama" lapor kasim.


"Sarapan bersama?" tanya ZeeLin mengulang.


"Benar Yang Mulia" jawab kasim.


"Aku sudah sarapan. Aku juga akan keluar setelah ini. Permisi paman"


Tidak ada seorang putri yang akan bersikap sesopan itu hanya kepada seorang pelayan. Namun berbeda dengan ZeeLin.


Kasim kembali melapor pada Raja, mengatakan apa yang putri ZeeLin katakan.


Raja hanya menghela napas pasrah. Ia tahu jika putrinya masih enggan untuk bertemu dengan keluarga kerajaan kecuali kakak keduanya.

__ADS_1


__ADS_2