True Empire'S (Kekaisaran Sejati)

True Empire'S (Kekaisaran Sejati)
True Empire's • 26 • Sumpah Kaisar


__ADS_3

"Jika ada kehidupan selanjutnya, kelak aku akan mencarimu dan meminta pengampunanmu. Aku akan setia kepadamu. Hanya menjadikanmu istriku satu-satunya" gumam kaisar pelan. Setetes air mata jatuh membasahi tangan yang terbalut sarung tangan permaisuri.


Kaisar mengecup dahi, mata, pipi kemudian bibir permaisuri dengan lembut, seakan tubuh itu takut hancur jika ia melakukannya dengan keras.


Kemudian kaisar mengecup tangan permaisuri sebelum meletakkan kembali tangan itu ketempat sebelumnya.


Kaisar berdiri lalu menghampiri pangeran Yuan yang menggendong bayi. Di ambil alih bayi tampan yang masih terlihat kemerahan dengan pelan dan lembut. Di kecupnya kening bayi itu yang masih terlelap.


Kaisar tersenyum tipis saat bayinya menggeliat lalu memeluknya dengan hangat.


"Tutup sekarang!" Satu perintah dari kaisar dan prajurit yang bertugas mengangkat peti mati permaisuri langsung melakukannya dengan segera.


Sebelum peti mati itu tertutup sempurna. Bayi dalam gendongan kaisar tiba-tiba menangis dengan keras. Hingga mengejutkan kaisar dan yang lainnya.


"Putraku, ibumu sudah beristirahat. Biarkan dia beristirahat dengan damai" kata kaisar dengan lembut.


Orang-orang yang mendengar kaisar berbicara dengan lembut tertegun. Mereka tidak pernah mendengar kaisar berbicara selembut itu!.


Setelah kaisar berkata begitu, bayi yang masih kemerahan itu langsung menghentikan tangisannya dan kembali terpejam, meskipun bayi itu masih sedikit tergugu.


Kaisar mengecup kening putranya lagi sangat lembut.


"Lakukan segera!" Perintah kaisar.


Semua orang menunduk hormat saat kaisar berjalan lebih dulu lalu di ikuti peti mati permaisuri yang diiringi para pelayan permaisuri.


Semua orang yang hadir juga mengikuti dibelakang membuat sebuah barisan yang panjang, termasuk para selir.


Para rakyat bersujud dengan setangkai bunga didepannya saat kaisar dan rombongannya berjalan melewati mereka.


Isak tangis pilu mulai terdengar setelah rombongan kaisar sudah lewat.


Para rakyat menangisi kepergian permaisuri mereka yang baik hati. Kaisar benar-benar beruntung mendapat permaisuri yang baik hati serta penyabar. Tapi sayangnya, kaisar tidak menyadarinya. Kaisar terlambat menyadari sifat lembut permaisurinya.


Bulan terus berlalu.


Kini selir Hia Lu akan segera melahirkan.


"Aku akan tetap disini menjaga putraku! Aku tidak peduli siapa yang akan mendampingi selir itu!" acuh kaisar sambil menimang putanya yang baru saja tertidur.


Pelayan itu kembali ke paviliun mawar dengan kecewa. Kaisar sungguh sangat tega!.


"Sayang, apa kamu haus hmm" ucap kaisar pelan saat bayinya menggeliat lagi sambil mengarahkan wajahnya kedada bidang kaisar.


"Fu Len! Buatkan susunya!" perintah kaisar.


"Ini Yang Mulia" Fu Len memberikan susu formula dalam mangkuk kecil dengan sendok kecil pada kaisar.


Dengan telaten kaisar menyuapi putranya susu menggunakan sendok yang terbuat dari bahan khusus.

__ADS_1


"Sudah habis! Pintarnya anak ayah! Ayah yakin kamu akan menjadi kaisar yang lebih hebat dari ayahmu ini! Kelak kamu harus mencintai satu gadis saja ya!" ucap kaisar memuji putranya.


Kaisar kembali menimang putranya. Tak henti-henti dia bersenandung sambil terus tersenyum.


Fu Len hanya diam mendengar saja. 'Yang Mulia, apa anda lihat? Kaisar begitu menyayangi pangeran kita' batin Fu Len sambil tersenyum tipis.


"Yang Mulia, bukankah anda seharusnya berada disamping selir Hia Lu? Dia sedang membutuhkan anda Yang Mulia" ucap Fu Len memberanikan diri.


Kaisar berhenti menimang, senyumnya luntur seketika.


"Kau benar. Seharusnya aku berada disamping selir itu!" ucap kaisar.


"Tapi aku tidak sudi mendampingi orang yang sudah menjebak dan meracuni permaisuri sehingga membuat tubuh permaisuri melemah!" sambung kaisar cepat.


"Apa ada lagi yang ingin kau katakan?!" lanjut kaisar menatap tajam pelayan mendiang permaisuri yang kini menjadi pengasuh putranya karena permintaan permaisuri langsung.


Fu Len menggeleng cepat "Tidak Yang Mulia"


"Hmm bagus! Sekarang tinggalkan kami. Putraku sudah tertidur"


Fu Len membungkuk sebentar lalu pergi dan menunggu diluar kamar mendiang permaisuri.


Setelah pemakaman permaisuri selesai. Kaisar selalu tidur dikamar permaisuri bersama putranya.


Kaisar juga mencaritahu masalah kenapa tubuh permaisuri semakin melemah! Sangat mencurigakan! Padahal dirinya hanya bermain beberapa menit saja dengan permaisuri dan itu pun hanya dilakukannya satu minggu sekali!.


Karena harga dirinya yang tinggi, Kaisar menutupi rasa kasihannya dengan melakukan kekerasan pada permaisuri. Kaisar tidak pernah memukulnya dengan keras! Tapi bagaimana mungkin tubuh permaisuri bisa dipenuhi lebam di daerah yang sudah ia pukul walau tidak keras!.


Kaisar sadar jika apa yang dilakukannya sangat salah. Tapi kembali lagi pada harga dirinya. Harga dirinya sangat tinggi! Sampai kaisar tidak mencaritahu apa yang di alami permaisuri.


Hingga akhirnya kaisar mendapat informasi yang di inginkannya.


Setiap seminggu sekali, sebelum kaisar melakukan hubungan badan dengan permaisuri, selir Hia Lu, selaku adik permaisuri yang diberikan kebebasan untuk bertemu permaisuri.


Dengan berani, selir itu memberi racun meski dengan dosis yang sangat rendah. Tapi hal itu tetap tidak bisa ditolerir olehnya. Semakin lama racun itu akan menumpuk didalam tubuh jika tidak segera di netralkan.


Kaisar langsung murka setelah mendengar informasi yang di inginkannya.


"Berikan surat itu pada tangan kiriku!" kata kaisar memberi sebuah gulungan pada Fu Len.


"Baik Yang Mulia" Fu Len segera melaksanakan perintah kaisar.


"Bunuh semua selir! Termasuk Selir Hia Lu!"


Isi surat itu membuat sang tangan kiri kaisar tertegun.


"Apa lagi yang akan dilakukan kaisar! Pria itu sangat sulit ditebak!" Gumamnya lalu membakar surat rahasia dari kaisar sampai hangus tak bersisa.


Tangan kiri kaisar mau tak mau melakukan apa yang ada dalam surat tersebut.

__ADS_1


Dia memberi perintah pada pasukannya. Pasukan yang tidak pernah diketahui orang luar. Bisa dibilang, pasukan tangan kiri kaisar adalah pasukan hantu. Melakukan penyerangan dalam senyap tanpa ada yang menyadari keberadaan mereka.


"Jalankan perintah kaisar sekarang!" perintahnya.


"Siap laksanakan!" seru para pasukan itu.


"Pergi!"


Para pasukan hantu pergi dengan senyap menuju paviliun mawar.


Terdapat lima puluh orang yang diperintahkan kali ini.


Diluar paviliun tidak ada prajurit yang berjaga. Seakan-akan hal itu sudah direncanakan sebelumnya.


Semua pasukan hantu kembali setelah melakukan tugas mereka yang hanya menyisakan seorang bayi yang baru lahir. Semua selir dan pelayannya mati tanpa kepala.


Sekali pasukan hantu diperintah, maka mereka akan melakukannya dengan sangat baik! Tidak ada yang tahu jika yang melakukannya adalah pasukan hantu milik kaisar Han Haocun!.


"Perintah sudah dilaksanakan Yang Mulia!" ucap pemimpin pasukan hantu melapor.


"Bagus! Apa hanya tersisa bayi itu saja?!"


"Benar Yang Mulia!"


"Pergilah"


Pasukan hantu kembali ketempat mereka sebelumnya.


"Apa itu akan berakhir baik?" tanya sang tangan kanan kaisar.


"Itu keinginan dia sendiri. Besok kau yang harus tampil seperti sebelumnya!" kata tangan kiri kaisar.


"Ya ya aku mengerti. Kau dan pasukanmu yang melakukan dalam senyap tapi aku dan pasukanku yang harus tampil dimuka umum" tangan kanan kaisar mendengus.


Tangan kiri kaisar hanya terkekeh. "Itu sudah menjadi tugasmu Pangeran JinHu!"


"Huh!"


"Apa kau masih kesal dengan kaisar?!"


"Tentu saja! Karenanya adikku menderita lalu mati!" katus pangeran JinHu.


"Aku turut sedih atas kehilangan kakak ipar. Kau tahu bukan, jika kakakku memiliki harga diri yang sangat tinggi."


Pangeran JinHu menghembuskan napas lelah.


"Sudahlah. Percuma saja mengeluhkan kaisar" pangeran JinHu tersenyum kecut.


"Haha kau juga sudah tahu itu"

__ADS_1


__ADS_2