
Sudah sebulan ZeeLin berlatih menggerakkan anggota tubuhnya. Sekarang ZeeLin tinggal berlatih menggerakkan kakinya untuk berjalan. Dengan bantuan para pelayan, Zee Lin di bantu berdiri untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Baru satu langkah sudah membuat ZeeLin kelelahan dan akhirnya ZeeLin memutuskan untuk kembali.
"Fu Len" panggil ZeeLin.
"Ya putri?" jawab Fu Len.
"Apakah ada satu anggota kerajaan yang memperlakukan aku dengan baik?" Tanya nya.
"Benar putri. Pangeran kedua selalu bersikap lembut terhadap anda. Di saat semua orang membenci anda, pangeran kedua memperlakukan putri dengan sangat baik, layaknya seorang kakak pada adiknya pada umumnya" jelas Fu Len.
Zee Lin mengangguk. "Di mana dia?" Tanya nya.
"Sudah dua tahun ini pangeran pergi berguru untuk melatih pengobatannya. Pangeran kedua bukan hanya hebat dalam hal militer saja, tapi juga sangat berbakat di bidang pengobatan putri" jelas Fu Len.
"Kapan dia akan kembali?"
"Pangeran kedua akan kembali seb..-" perkataan Fu Len terputus saat seorang pelayan tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"Tuan putri ampuni hamba. Ini sangat penting putri" ucap pelayan itu cepat sambil berlutut.
"Katakan!"
"Yang Mulia Putra Mahkota sedang berjalan kemari" lapor pelayan itu.
"Putra mahkota?" tanya Zee Lin.
"Benar putri"
"Katakan padanya jika Fu Len sedang mengganti pakaian ku"
"Baik putri"
Pelayan itu pun keluar dan bertepatan dengan putra mahkota yang sudah berjalan mendekat lalu di cegah oleh pelayan itu dan mengatakan apa yang Zee Lin katakan.
"Dengan alasan aku yang masih berganti pakaian, dia akan menunggu di luar dan aku bisa memiliki waktu untuk berbaring dengan benar seperti sebelum aku terbangun Fu Len" jelas Zee Lin saat melihat pelayan itu kebingungan soalnya Zee Lin sudah berganti pakaian sejak tadi.
"Fu Len mengerti putri"
__ADS_1
Fu Len membantu ZeeLin berbaring dan memperbaiki selimut seperti biasanya kemudian Fu Len keluar dari kamar Zee Lin.
Tak lama setelah pintu tertutup, pintu di buka kembali dengan seseorang yang berjalan mendekat kearah nya.
Putra mahkota masuk kedalam dan melihat Zee Lin yang masih terpejam.
Zee Lin yang berpura-pura masih belum sadar itu merasa tidak ada pergerakan hanya ada keheningan.
Lama dengan keheningan itu, telinganya yang tajam itu mendengar suara terisak menahan tangis. 'Dia menangis?' batin Zee Lin bertanya.
Putra mahkota mengambil tangan kanan Zee Lin lalu di genggamannya tangan mungil itu. "Maafkan kakakmu ini Ze'er. Aku sudah gagal menjagamu dari jauh. Cepatlah buka matamu. Apa kamu tidak ingin melihat kakakmu ini lagi? Aku tahu, kamu marah pada kami semua karena sudah memperlakukan kamu dengan buruk. Ayahanda dan para kakakmu ini terpaksa melakukan itu semua agar kamu tetap aman. Hanya adik pertama Jin Hu lah yang secara terang-terangan menyayangimu. Kami harus menyayangimu dengan diam-diam karena kami tidak ingin kamu pergi meninggalkan kami semua" setelah mengatakan itu semua ZaYun ingin pergi meninggalkan Zee Lin. Tapi, saat melihat Zee Lin yang tanpa sengaja mengeluarkan air matanya membuat ia urung untuk pergi.
'Sudah terlambat. Dia sudah tidak ada lagi' gumam Zee Lin dalam hati merasa prihatin dengan takdir Quan Zee Lin yang asli.
"Kamu mendengar ku?" Tanya putra mahkota sambil menghapus air mata Zee Lin secara perlahan.
Bibirnya tersenyum haru karena ini baru pertama kalinya Zee Lin memberikan respon. Sebelumnya adiknya itu hanya diam tidak merespon. Sejak kematian mendiang ratu pertama ZaYun kehilangan senyumnya dan hanya ia tujukan pada ayah dan juga saudara se-ibunya saja.
ZaYun menggenggam tangan mungil Zee Lin "Cepatlah kamu bangun Ze'er. Kami selalu menunggumu untuk bangun" ucap putra mahkota penuh mohon.
'Sepertinya apa yang dia katakan bersungguh-sungguh. Baiklah, mungkin aku bisa minta bantuan putra mahkota. Untuk itu aku harus bangun dan berusaha mendekat padanya' batin Zee Lin yang sudah ia pertimbangkan terlebih dahulu.
Putra mahkota melebarkan matanya tidak percaya. Mata yang sudah lama tertutup itu sekarang kembali terbuka dan dialah orang pertama yang dilihat adiknya.
"Ze'er! Akhirnya kamu membuka matamu!" Ujar putra mahkota bahagia.
Zee Lin menatap ZaYun lama.
ZaYun tersenyum haru sampai air matanya keluar. Dengan segera ia memeluk adiknya itu sambil membelai rambut sang adik yang tetap lembut nan harum terjaga.
"Ze'er!" Gumamnya.
Zee Lin hanya diam meresapi pelukan dari putra mahkota. 'Begini rupanya rasanya dipeluk oleh sosok kakak yang sangat menyayangi mu' batin Zee Lin. Ia juga ikut menangis haru karena baru pertama kali ia merasakan pelukan seorang kakak. Pasalnya ia hanya anak tunggal dan juga dari kecil dirinya sudah di asuh oleh kakek Luo seorang.
"Maafkan kakakmu ini Ze'er. Karena sudah gagal dalam menjagamu" sesal ZaYun.
Zee Lin melepaskan pelukan Putra Mahkota. "Aku haus kakak" manjanya dengan suara yang di buat serak.
__ADS_1
Dengan segera putra mahkota mengambilkan air minum lalu membantu Zee Lin minum.
"Pelan-pelan" ucap putra Mahkota lembut.
Setelah Zee Lin selesai minum bekas wadah air itu ia letakkan kembali. ZaYun mengambil tangan kanan Zee Lin lalu menggenggam nya. "Ze'er" ujarnya.
Zee Lin menatap putra mahkota yang juga tengah menatapnya. "Ya?" Sahutnya.
Putra mahkota diam lalu menunduk sedih.
Zee Lin yang melihat putra mahkota menundukkan kepalanya lantas memegang pipi ZaYun. Meskipun itu terlihat tidak sopan tapi Zee Lin melakukannya sebagai seorang adik pada kakaknya.
"Aku baik-baik saja kak. Aku tidak pernah menyalahkan kalian semua. Kakak tidak perlu meminta maaf" ujarnya.
ZaYun mendongakkan kepalanya menatap mata Zee Lin. Dipeluk nya lagi Zee Lin dan Zee Lin membalas pelukan Putra mahkota. "Terimakasih" bisik nya.
"Kakak harus pergi sekarang. Kakak akan beritahu ayah soal keadaanmu" ujar ZaYun tapi dicagah oleh Zee Lin.
"Tidak kak!" Serunya.
Kening putra mahkota mengernyit tidak suka.
"Mengapa?"
Zee Lin menghela napas pelan "Sebenarnya... Aku sudah terbangun satu bulan yang lalu, aku...-"
"Apa?! Jadi kamu sudah sadar sejak satu bulan yang lalu?! Mengapa kamu tidak mengabari kakak? Apa sebegitu marahnya kamu sampai kamu tidak mengabari gegemu ini!?" Sela putra mahkota dengan nada kaget sekaligus kecewa karena bukan dia yang pertama kali dilihat oleh adiknya.
Zee Lin mengambil tangan putra mahkota "Dengarkan aku dulu, kak" pinta nya. Putra mahkota duduk kembali dan berusaha mendengarkan Zee Lin dengan baik.
Zee Lin yang melihat putra mahkota duduk kembali lantas menceritakan semuanya termasuk rencananya dengan syarat putra mahkota harus merahasiakan hal ini dari siapapun. Termasuk dari pangeran kedua sekalipun. Meskipun pangeran kedua dan dia begitu dekat, semakin sedikit yang tahu maka semakin kecil pula rahasia itu tidak bocor.
"Jadi, setelah kamu pulih total, kamu akan memberitahu semuanya jika kamu sudah sadar?"
Zee Lin mengangguk pelan.
"Hahhh... Jadi sekarang kamu masih berlatih berjalan kembali?" Tanya putra mahkota.
__ADS_1
"Benar kak"