True Empire'S (Kekaisaran Sejati)

True Empire'S (Kekaisaran Sejati)
promosi sementara


__ADS_3

Sebelum membaca!


Cerita ini saya buat berdasarkan versi manusia biasa. Pemainnya tetap sama. Jalan ceritanya saja yang berbeda. Sebenarnya saya ingin memberi nama yang berbeda dan tidak dijadikan versi manusianya. Tapi berhubung, saya seseorang yang akan kesulitan ketika mencari nama yang pas dan memiliki arti yang tepat sesuai dengan karakternya 😅 jadi saya akan menggunakan nama sebelumnya :).


Versi Fantasy-nya berjudul "Immortal King's Fate".


Cerita ini juga saya akan update ketika saya ada waktu luang. Saya sedang fokus membuat cerita bertema Family Life, bagaimana kehidupan keluarga yang mengajarkan arti kata sabar dan kuat.


Judul ceritanya adalah "Love That Brings Heaven".


Saya tidak meng-Upload di sini, saya meng-Upload di N0VELT00N.


Sekian pembukaan dari saya. Doakan saja agar cerita ini cepat selesai 😆


Happy Reading


»---♡---«


Leyna Jeslyn adalah seorang gadis yang baru berusia 18 tahun dan baru lulus SMA beberapa bulan lalu. Satu bulan yang lalu, ayah angkatnya meninggal dunia karena terjadi komplikasi. Sehari-hari, Leyna mencari nafkah untuk dirinya dan sang ayah yang sakit-sakitan dengan berjualan kue keliling. Namun, kehidupannya yang damai bersama ayahnya harus berakhir karena ayah yang sudah ia anggap sebagai ayah kandungnya meninggal dunia. Selama satu bulan, Leyna jarang berjualan kue keliling karena ia tidak tahu harus berjuang untuk siapa. Kehidupannya pun berubah menjadi sunyi tanpa kehadiran sang ayah.


"Hei! Melamun saja," ujar seorang gadis yang lebih tua lima tahun darinya, mengagetkan Leyna hingga membuat gadis itu memegang dadanya karena terkejut. "Kak Sarah, ngagetin aja," Leyna menatap Sarah melotot, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa. "Kamu sudah siap?" tanya Sarah.


Leyna mengangguk singkat, "Apa aku, yang hanya seorang gadis miskin dan lulusan SMA bisa diterima kerja di rumah itu nanti?" ucapnya menunduk.


"Hei.... Jangan berkecil hati dan jangan selalu merendahkan dirimu sendiri. Aku yakin, kamu pasti akan diterima," Sarah memeluk tubuh kurus Leyna. Ia tidak tega melihat gadis malang itu hidup hanya berdua dengan ayah yang sakit, dan gadis itu tetap tinggal dan berjuang untuk mempertahankan hidupnya serta ayahnya. Sarah menganggap Leyna seperti adiknya sendiri, karena Leyna adalah gadis yang baik.


"Jika nanti yang diterima hanya kakak, aku tidak masalah. Aku akan kembali berjualan kue keliling," ujar Leyna sedih.


Sarah melepaskan pelukannya. Ia menatap Leyna tidak suka. "Leyna, kakak tidak suka kamu pesimis seperti ini. Kakak lebih yakin kalau kamu yang akan diterima, deh."


"Mengapa kakak berkata demikian?" tanya Leyna.


"Ayo kita berangkat. Nanti kita terlambat kalau kebanyakan ngobrol."


Sesampainya di tempat tujuan, Sarah bertanya pada satpam yang menjaga gerbang. "Bagaimana, kak?" tanya Leyna saat Sarah sudah kembali.


"Rumah ini memang sedang membutuhkan pelayan. Tapi hanya untuk satu orang," jelas Sarah.


"Apa?!"


"Ya, Leyna! Salah satu dari kita yang akan diterima!" kata Sarah bersemangat.


"Kalau begitu, kakak saja yang masuk. Aku akan tunggu di sini," ucap Leyna sedih.


Sarah menggeleng kuat, "Tidak! Kamu saja yang masuk."


"Kok aku? Kakak saja yang masuk. Pasti kakak akan diterima," kata Leyna mencoba membujuk Sarah.


"Kemungkinan kakak diterima itu sedikit, Leyna. Sebaiknya kamu saja yang masuk. Kakak yakin kesempatan kamu diterima kerja lebih besar."


"Tapi... "


"Sudah, ayo cepat masuk. Kamu jangan khawatirkan kakak. Aku masih punya pekerjaan sebelumnya dan aku juga belum keluar dari pekerjaan itu. Lagi pula, kamu lebih membutuhkan pekerjaan ini. Kamu ingin kuliah kan?" kata Sarah panjang lebar.


"Tapi, kakak... " Leyna merasa tidak enak hati terhadap Sarah.


"Tidak ada kata 'tapi'! Nanti kalau kamu diterima dan bisa kuliah, terus sukses, jangan lupakan kakak ya," ujar Sarah bercanda.


Akhirnya, karena Leyna hanya diam, Sarah menggeret gadis itu menuju ke arah satpam. "Pak, tolong antarkan adik saya ke dalam. Saya akan tunggu di luar sini," ucap Sarah kepada satpam.


Satpam pun membawa Leyna menuju kediaman berlantai tiga itu. Leyna yang dibawa hanya tercengang takjub dengan kemewahan di depannya. Pintu besar yang menjadi pintu utama dari rumah besar itu terbuka. Terlihat seorang wanita tua berseragam pelayan.


"Apa kamu yang akan melamar kerja di sini?" tanya pelayan itu untuk memastikan.

__ADS_1


"Benar, bu," jawab Leyna sambil menunduk.


Sontak pelayan wanita itu terkejut karena ia dipanggil 'bu' oleh gadis di depannya itu. Selama ini ia tidak pernah dipanggil seperti itu kecuali oleh anak-anaknya.


"Kalau begitu, ayo ikuti saya. Terima kasih, pak, sudah mengantar!" ucap pelayan itu sambil mempersilakan Leyna untuk ikut dengannya.


Leyna menatap sofa mewah yang terlihat sangat empuk itu. Benar saja, ketika ia menekan tangannya di atas sofa, sofanya sangat empuk dan lembut. Orang kaya memang luar biasa, batin Leyna kagum.


Tak berapa lama kemudian, seorang wanita paruh baya turun dari tangga dan diikuti oleh pelayan tadi. Nyonya rumah melihat seorang gadis tengah duduk di lantai marmer. Gadis itu menoleh ke segala arah dan sepertinya sedang melihat-lihat kemewahan di dalam rumah itu.


Gadis tersebut langsung berdiri ketika mata jernihnya bersitatap dengan wanita paruh baya yang seertinya adalah sang majikan. Sebab dibelakang wanita yang masih terlihat cantik itu terdapat pelayan tadi.


"Apa kamu yang melamar kerja di sini?" tanya sang nyonya dengan wajah datar.


"B-benar, nyonya," jawab Leyna sambil menunduk.


Nyonya rumah duduk di salah satu single sofa, "Duduk," perintahnya.


Leyna langsung duduk ketika disuruh oleh wanita yang akan menjadi majikannya, jika nanti ia diterima di rumah itu.


Tiba-tiba, kening sang nyonya mengernyit, "Kenapa kamu duduk di bawah?"


"S-saya tidak pantas duduk di sofa itu," jawab Leyna sambil cemas.


"Tidak pantas? Jelaskan secara rinci!" sang nyonya memintanya.


Leyna mendongak dan menatap nyonya, "Maksud Anda?"


"Jelaskan mengapa kamu tidak pantas untuk duduk di sofa itu," kata sang nyonya dengan tegas.


"Saya seorang gadis miskin. Itulah sebabnya saya tidak pantas duduk di sofa nyonya," ucap Leyna menunduk.


Nyonya melihat jam yang tergantung di dinding. Sudah menunjukkan waktu makan siang.


Pintu utama terbuka. Seorang gadis berpakaian seragam putih abu-abu masuk dengan wajah ceria. "Selamat siang Mom," sapanya.


"Kak Zeline katanya masih ada kelas, tidak bisa pulang. Kalau kak Sean, aku tidak tahu," jawab Eshal.


Nyonya hanya mengangguk pelan.


"Aku pulang," terdengar suara berat yang terdengar dingin.


"Kak Sean," gadis bernama Eshal itu menghampiri pria yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Kalian sudah berkumpul rupanya," seru seseorang yang baru masuk diikuti dua pria di belakangnya.


"Selamat siang, Dad, om Raf, dan om Kean," seru Eshal ceria menyapa ayah dan kedua om-nya.


"Selamat siang juga, sweety," balas Raf sambil mengacak rambut ponakannya sehingga si empunya rambut merajuk.


"Om Raf kebiasaan deh mengacaukan rambutku," kata Eshal cemberut.


Rafael hanya tertawa tanpa dosa sambil pergi ke kamar di lantai dua.


"Aku ke kamar dulu," pamit Kean sambil pergi ke kamarnya setelah juga sempat mengacak rambut Eshal.


"Om Kean!" jerit Eshal tertahan. Jika gadis itu berteriak di dalam rumah, pasti ia akan mendapatkan hukuman dari sang ayah.


"Dad, mereka selalu mengacaukan rambutku," kata Eshal mengadu pada sang ayah dengan bibir cemberut.


"Rapikan dulu rambutmu. Setelah itu, kita makan," suruh sang ayah dengan tegas, dan Eshal langsung menurutinya dengan pergi ke kamarnya di lantai dua.


Mata tajam pria tampan yang mirip dewa Yunani melirik seseorang yang duduk di lantai.

__ADS_1


"Aku pergi ke kamar dulu, sayang. Kita makan siang setelah semua berkumpul di ruang makan," pamitnya.


"Iya," jawab nyonya sambil mengangguk singkat.


Kini tersisa sang nyonya dan Leyna yang masih duduk di lantai sambil menunduk.


"Berdirilah," ucap nyonya pada Leyna.


Gadis itu langsung berdiri, namun kepalanya masih tertunduk dan tidak berani menatap nyonya di rumah ini.


"Saya akan membaca dokumenmu setelah makan siang. Ah, saya lupa menanyakan siapa namamu," ujar nyonya.


"Nama saya Leyna Jeslyn, nyonya. Anda bisa memanggil saya Leyna," jawab Leyna pelan.


"Begitukah cara kamu berbicara dengan seseorang? Dengan menundukkan kepalamu?" tanya nyonya dengan lembut.


"Ayah mengajari saya untuk tidak menatap secara langsung pada lawan bicara jika yang mengajak bicara orang tua. Selain itu, saya juga tidak diperbolehkan bicara dengan keras pada orang tua," jelas Leyna membuat hati sang nyonya semakin tertarik pada gadis kecil bertubuh kurus itu.


"Baiklah, Leyna. Sekarang kamu ikut saya," kata nyonya kemudian dan berjalan menuju ruang makan yang berada di samping ruang tamu.


Semua orang sudah berkumpul, kecuali satu orang yang tidak bisa hadir.


Nyonya berdiri di depan kursi yang akan ia duduki.


"Leyna Jeslyn, berdirilah di belakang putra saya. Pria yang berada di ujung sana," perintah nyonya.


Leyna mengangguk singkat, "Baik, nyonya," ucapnya pelan.


Semua orang memperhatikan langkah Leyna yang berjalan menuju pria muda di ujung ruangan yang ditunjuk oleh sang nyonya.


Leyna hanya berjalan sambil menunduk. Ia tak berani mengangkat kepalanya karena ia merasakan berbagai tatapan diarahkan padanya, terutama tatapan tajam dari arah yang ia tuju.


Tap.


Leyna menghentikan langkahnya setelah berada di belakang samping pria muda tersebut.


"Dengarkan perkataan saya dengan baik, Leyna. Apa yang akan kamu lakukan jika saya menerima kamu bekerja di rumah ini? Saya tidak menginginkan penjelasan, melainkan sebuah tindakan."


Pikiran Leyna langsung berputar. Sekarang ia berada di belakang pria muda itu, dan bisa dipastikan jika saat ini ia diminta, atau lebih tepatnya diperintahkan untuk melayani sosok dingin di depannya. Ingatannya kembali ke masa ketika ibunya masih hidup. Saat mereka sedang makan, ibunya pasti akan menyiapkan makanan untuk ayah dan dirinya.


Secara tidak sadar, Leyna langsung melakukan apa yang ibunya pernah lakukan ketika akan makan.


Mengambil piring di depan pria muda itu lalu mengambil nasi dan beberapa lauk serta sayuran di atas piring itu.


Eshal yang menyaksikan kegiatan gadis yang mencalonkan diri untuk bekerja di rumah itu hanya meringis pelan, sedangkan keempat orang lainnya hanya diam menyaksikan.


Krepp.


Kedua tangan pria yang dilayani Leyna mengepal erat di atas meja makan. Tatapan tajam dia arahkan pada gadis yang berani mengambil piring yang akan ia gunakan untuk makan.


"I-ini silahkan dimakan tu-"


Prank!


Belum sempat selesai bicara, Leyna dikejutkan dengan piring yang berisi makanan yang ia ambil barusan dilempar sehingga berantakan di lantai.


Tubuh Leyna sedikit gemetar, dan matanya berkaca-kaca. Ia merasa sedih melihat makanan yang sudah berserakan bercampur dengan pecahan keramik dari piring.


Pria yang bernama Sean tersebut berdiri dengan kasar sehingga kursi yang ia duduki terbalik ke belakang diikuti dengan suara barang jatuh.


Brak.


"Berani sekali kau menyentuh piringku!" kecam Sean.

__ADS_1


»---♡---«


Tbc.


__ADS_2