
"Anak?" Tuan Mahawira mendekat sambil mengerutkan dahi. "Maaf, siapakah gerangan yang Nyonya maksud anak?" tanya pria itu kepada wanita paruh baya.
"Dia! Cornelia Aksita Chandini Minara! Anakku. Oh, Tuhan. Anakku, Cornelia. Kau sudah sebesar ini dan ... kau cantik sekali."
Ekpresi wanita itu kegirangan, tetapi bercampur dengan rasa haru yang terpancar dari bola matanya. Aku sungguh tidak mengerti. Paduka Raja pernah mengatakan bahwa orang tuaku hanyalah orang-orang biasa dan mereka sudah lama mati saat terjadi perang besar.
Aku bergeming, kubiarkan wanita itu meraih kedua pipi, serta mengelus-elus kepalaku. Jika diperhatikan lagi, wanita itu memang cukup mirip dengan diriku. Ya, tepatnya diriku yang dulu.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ini. Kenapa Nyonya mengatakan aku adalah anak Nyonya? Bagaimana bisa aku percaya kalau Nyonya benar-benar ibuku?"
"Ayo, ikutlah bersamaku," katanya sambil meraih lenganku. Dipaksanya diriku untuk berjalan.
"Hei! Mau kau bawa ke mana Cornelia?!" Tuan Mahawira menarik tanganku yang satunya lagi.
"Biarkan aku membawa anakku sendiri! Jangan halangi aku! Lepaskan anakku!" pekiknya dengan sorot mata tajam.
Kutolehkan pandangan ke arah Tuan Mahawira, lalu mengangguk. "Biarlah, Tuan. Aku akan mengikuti Nyonya ini. Jika Tuan ingin kembali ke istana, kembalilah. Aku akan menyusul setelah mendapatkan penjelasan."
"Tidak bisa!" bantah Tuan Mahawira lugas. "Aku tidak bisa membiarkanmu jauh dariku."
"T-tapi, Tuan—"
"Aku akan ikut bersamamu."
Kuembuskan napas panjang. Tuan Mahawira benar-benar keras kepala. Padahal, ia sedang khawatir dengan keadaan Paduka Raja.
Setelah itu, kami pun dibawa ke sebuah gubuk tua di arah barat negeri ini. Gubuk berada di tengah-tengah hutan, tempatnya tersembunyi, ditambah lagi banyak tanaman liar yang menghalangi jalan menuju ke sana.
"Ayo, duduk. Di sinilah ibu tinggal, Nak, setelah diusir dari istana."
Dahiku mengernyit sembari duduk di sebuah kursi yang terbuat dari anyaman bambu. Begitu juga Tuan Mahawira yang duduk di sebelahku. Sedangkan, wanita itu hanya berdiri sambil memandangi wajahku.
"Apa maksud Nyonya? Diusir? Istana? Memang siapa yang mengusir Nyonya dari—"
"Ayahmu, Nak. Ayahmu yang kejam itulah yang mengusir ibu, bahkan lelaki itu tidak mengizinkan ibu untuk membawamu. Dia mengatakan kau telah melarikan diri dari istana dan tidak pernah ditemukan."
Aku benar-benar tidak menyangka, atau aku hanya terlalu cepat percaya dengan orang asing yang baru kukenal?
"Kalau Nyonya memang ibuku, kenapa aku tidak ingat sama sekali? Seharusnya aku mengingat wajah ibuku sendiri."
"Entahlah. Ibu tidak tahu apa yang sudah dilakukan lelaki itu padamu. Yang jelas, malam itu kau bersama ayahmu, dia mengajakmu pergi ke suatu tempat. Lalu, saat dia kembali tanpamu, dia mengusir ibu dari istana bersama dengan penasehatnya. Dia benar-benar lelaki yang licik! Sampai sekarang aku sangat dendam padanya."
"Tidak masuk akal!" timpal Tuan Mahawira sambil menyedekapkan tangan.
"Jaga bicaramu, Anak Muda!"
"Hei, Nyonya. Asal kau tahu. Cornelia dibawa ke Kerajaan Rosalia oleh ayahku saat dia berusia delapan tahun. Mana mungkin dia bisa melupakan wajah ibunya."
"Lalu, sekarang apakah dia bisa mengingat wajah ibunya?"
Aku menggelengkan kepala. Benar apa yang wanita itu katakan. Aku tidak ingat sama sekali bagaimana sosok ayah dan ibuku. Namun, sejak kecil aku selalu dihantui oleh sebuah mimpi yang memperlihatkan kehidupan harmonis dua orang dewasa dengan wajah yang tidak jelas.
"Dengar, Nak. Ayahmu adalah raja di Kerajaan Batalia, sedangkan ibu hanya seorang pelayan biasa. Ibu tidaklah berasal dari darah bangsawan. Namun, ayahmu datang pada ibu dan mengaku telah jatuh cinta."
Mendengar penuturan wanita itu, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Perasaan tidak menentu. Aku bisa saja tidak percaya, tetapi melihat wajahnya saat menceritakan hal pahit itu, hatiku selalu bisa menerima setiap bait kata-katanya.
__ADS_1
"Mereka mengutuk kita, Nak."
"Apa?! M-mengutuk? Apa maksud Nyonya?"
"Ibu tidak cukup tahu kebenarannya. Namun, terakhir kali ibu bercermin, wajah ibu tidaklah seperti saat ini. Kau mungkin bertanya-tanya kenapa ayahmu bisa sampai jatuh cinta pada ibu jika wajahku saja buruk rupa seperti ini." Air mata bertengger di kelopak mata wanita paruh baya itu. Sesekali disapunya dengan tangan.
Beberapa saat, kutolehkan pandangan ke wajah tuanku yang berada di sebelah kiri. Dahinya mengernyit, tetapi aku yakin ia benar-benar kasihan dan tersentuh dengan cerita wanita itu.
"Aku tahu kau seorang pangeran dari kerajaan. Siapa namamu?" tanya sang wanita pada Tuan Mahawira sembari membersihkan sisa-sisa cairan bening di pipi.
"Mahawira," jawab sang pria singkat.
"Bantulah Cornelia. Bantu dia mendapatkan haknya di Kerajaan Batalia. Apa kau tidak sedikit pun marah mendengar cerita dariku? Seharusnya kau marah karena gadis yang kau sayangi ini punya ayah licik yang tega membuangnya."
"Bagaimana aku bisa percaya dengan ceritamu, Nyonya? Sedangkan, kau tidak punya bukti apa-apa. Lagi pula, dari mana kau tahu aku menyayangi dia?"
"Sebentar, aku akan mengambil sesuatu."
Dilangkahkan kaki ke dalam gubuk oleh sang wanita. Tak berselang lama, ia keluar sambil memperlihatkan sesuatu pada kami.
"Kau pasti mengenali benda ini."
Melihat benda yang diacungkan sang wanita, aku terkesiap. Sebuah anting-anting yang terbuat dari emas murni berbentuk lingkaran, tetapi memiliki lubang seperti bulan sabit. Motifnya pun sama seperti milikku. Sayangnya, sudah lama sekali aku tidak memakai benda itu karena tidak memiliki pasangannya.
Segera kuraih anting-anting berkilauan itu dari tangan sang wanita, lalu menatapnya dengan lamat.
"Itu adalah anting-anting pemberian ibu untukmu, Nak. Sejak kecil, benda itulah yang selalu menemanimu. Saat kau dikabarkan menghilang oleh semua orang di istana, hanya benda itu yang ibu temukan di kereta yang membawamu. Lalu, setelah diusir dari istana, ibu menghabiskan waktu di perjalanan hanya untuk mencari dirimu."
Tiba-tiba saja air mata menganak sungai tanpa bisa kuhentikan. Kubekap mulut menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanan masih memegangi benda yang diberikan sang wanita. Tangisku lebat seperti hujan pertama saat memasuki musimnya.
Ibuku ikut menangis tersedu-sedu sambil mengelus-elus punggung serta rambutku.
"Iya, Nak. Ini aku ... ibumu, Nak. Aku ibumu," ucapnya begitu parau.
Momen mengharukan sekaligus menyedihkan itu berlangsung cukup lama. Bagaimana mungkin akan berlangsung singkat karena diriku saja tidak pernah mengingat bagaimana wajah ibuku yang sebenarnya. Kerinduan ini begitu besar sehingga tangis seolah tak berkesudahan.
Aku tidak peduli dengan penampilan wanita itu. Jika dilihat sepintas, siapa pun akan mengira ia gila, bau, serta buruk rupa, bahkan ada juga yang akan mengira ia mirip nenek sihir.
Namun, bagiku ibu tetaplah ibu. Ialah seorang ibu yang telah melahirkan diriku ke dunia ini sehingga dapat bertemu dengan pria yang membuat hatiku berdentum tak berkesudahan. Aku bersyukur, sama sekali tidak membenci dirinya.
Akan tetapi, mendengar penuturannya menciptakan sebuah api kecil di dalam dada dengan mengingat pria yang dengan tega membuang anaknya.
"Kalau begitu, maaf sudah lancang," kata Tuan Mahawira sambil sedikit membungkuk.
"Tidak apa-apa. Lupakan saja. Yang penting sekarang, apa tujuan kalian?"
"Cornelia," kata Tuan Mahawira, "kau menetaplah di sini dan temani ibumu. Lepaskanlah rindu kalian. Aku akan kembali seorang diri ke istana."
"Tapi, Tuan—"
"Tenanglah. Aku tidak akan memutuskan secepat itu akan menikah dengan putri yang tidak aku cintai. Lagi pula, sekarang tidak ada lagi yang membatasi kita untuk saling dekat. Sudah jelas, bukan?"
Aku menunduk karena mengerti apa yang dimaksud oleh Tuan Mahawira.
"Kenapa kau menunduk?" tanyanya. "Oh, ya. Aku mencintai anakmu, Nyonya." Tanpa basa-basi atau terbata-bata pria itu mengatakan hal yang membuatku kembali pada keheningan.
__ADS_1
"Kalau begitu, besok aku akan menemui kalian. Tunggulah di sini. Jika kau rindu, sebut saja namaku, maka aku akan datang melalui mimpimu."
Tuan Mahawira segera berjalan meninggalkan diriku. Kulihat punggungnya yang bidang, langkahnya yang santai.
"Tuan!" panggilku. Pria itu menghentikan langkah, lalu menoleh dan menunggu diriku mengatakan sesuatu.
"Aku juga mencintai Tuan Mahawira!" teriakku keras untuk dapat mencapai telinga sang pangeran.
Tak lama kemudian, pria itu berbalik badan dan melanjutkan perjalanannya. "Aku sudah tahu!"
Setelah hujan, selalu saja ada pelangi. Dan ketahuilah, pelangi yang tumbuh di hatiku begitu indah. Berwarna, pun mewarni. Meskipun sangat menyesali hari ini tidak bisa bersama Tuan Mahawira dan akan merindukannya, tetapi aku bersama sosok yang puluhan tahun telah aku nantikan keberadaannya.
Di setiap ada kesempatan, aku selalu berpikir bahwa ibuku pasti orang yang sangat baik hati. Dan ternyata benar. Ia baik, lemah lembut, penuh kasih sayang. Wajah? Aku tidak terlalu peduli. Meskipun ia terlihat seperti nenek sihir, di mataku ia seperti bunga yang bermekaran. Wangi dan indah.
"Ayo, kita masuk, Nak."
Aku mengangguk dan menampilkan senyum hangat.
-----------------------
"Ayah, kita akan ke mana?" tanyaku pada pria paruh baya dengan pakaian kerajaan di dalam kereta yang membawa kami.
"Kita akan pergi ke sebuah tempat yang sangat indah," jawab pria itu sambil tersenyum.
"Asyik! Lia sudah tidak sabar, Ayah."
"Sabar, ya. Sebentar lagi kita akan tiba di tempat itu."
Tiba-tiba saja kereta terhenti. Kulihat sang ayah mengerutkan dahi.
"Hei! Kenapa kau berhenti?!" tanyanya pada kusir yang bertugas menjalankan kereta kuda.
Pria yang berada di depan itu tidak menjawab, lantas membuat pria di sebelahku mengernyitkan dahi.
"Kau tunggu sebentar. Ayah akan memeriksa apa yang terjadi."
Aku mengangguk. Sang pria keluar dari kereta.
Sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang ada hanya rasa takut yang membalut diriku. Banyak ketakutan yang kualami, terlebih saat terdengar suara teriakan pria yang baru saja bersamaku di dalam kereta.
"Aaaarrrggh!" teriaknya diiringi oleh suara pedang yang berdenting.
Tak lama kemudian, suara-suara itu menghilang. Dengan perasaan berdebar, aku keluar dari kereta.
"Ayah? Ayah di mana?" ringisku sambil melangkah dan mengedarkan bola mata ke sekitar.
Sama sekali tidak ada orang. Pria itu tidak ada, padahal beberapa saat yang lalu aku mendengar teriakannya. Tidak hanya itu, saat melihat ke depan kereta, kusir juga menghilang secara misterius.
Karena disusupi oleh rasa takut yang tinggi, aku berlari ke hutan. Berlari dan berlari semakin jauh, semakin dalam hingga gelap semakin gelap.
Di kegelapan hutan, erangan-erangan aneh terdengar di telinga, membuatku berhenti, lalu menjongkok sambil menutupi telinga dengan tangan.
"Jangan! Pergi kalian! Pergi kalian!"
Sesuatu berderap semakin dekat, aku tidak berani menoleh ke belakang. Semakin dekat, hingga sesuatu terasa memukul punggungku. Rembulan seolah padam. Bintang-bintang apalagi, lenyap tak tersisa. Kesadaranku sirna seketika.
__ADS_1
------------------