
"S-sebenarnya apa yang terjadi di sini?"
Pria paruh baya yang mengenakan jubah terdiam. Ibuku pun begitu. Kuarahkan tatapan pada pria berpakaian putih yang berdiri beberapa meter dari tempatku berada. Senyumnya aneh, terkesan licik dan jahat. Aku sama sekali tidak mengerti.
"Menjauh!" tegas Pangeran Kalandra sembari bersiap-siap untuk menerima serangan yang mungkin saja akan dilancarkan pria itu. Akan tetapi, sang pria berambut ikal malah tertawa sambil bertepuk tangan.
"Lucu sekali," katanya.
Kulihat ke arah sang pria dengan mantel, ekspresinya sendu, bahkan ibuku tidak sanggup berkata-kata. Ia selalu saja memalingkan wajah.
"PRAJURIT! BERESKAN KEDUA BOCAH INI DAN TANGKAP PUTRI TERLANTAR INI!" titah pria berpakaian putih dengan baritonnya yang menggema di seluruh pekarangan istana.
Para prajurit pun berbondong-bondong keluar, berkumpul dan membentuk barisan untuk melawan Tuan Birendra serta Pangeran Kalandra.
"Birendra ... bersiaplah," bisik Pangeran Kalandra sambil membentuk kuda-kudanya.
Benar-benar tidak wajar. Kedua pangeran itu akan melawan ratusan prajurit kerajaan yang masing-masing memegang senjata. Lagi pula, tidak mungkin prajurit kerajaan hanya berjumlah ratusan. Mungkin lebih banyak lagi yang tidak dikerahkan untuk melawan dua pria yang sedang berusaha melindungiku.
Aku tidak yakin mereka bisa mengalahkan prajurit yang berjumlah ratusan.
"Tuan Birenda, Pangeran Kalandra. Maafkan aku ...."
Aku tertunduk karena merasa bersalah telah membawa keduanya ke dalam masalah yang benar-benar besar. Ya, bagaimana tidak? Jika mereka tertangkap, aku tidak tahu pria itu akan melakukan apa pada mereka.
Hal yang lebih membuatku bingung adalah, kenapa pria berpakaian putih yang memerintahkan para prajurit, dan bukan pria yang mengenakan mantel itu? Bukankah dia rajanya?
"Bersiap! Serang!"
Perkelahian pun pecah antara dua pangeran dengan ratusan prajurit yang terlihat sangat kompeten. Meski begitu, kulihat Tuan Birendra melumpuhkan lawannya dengan pukulan dan tendangan, tetapi sangat gesit berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Bahkan Pangeran Kalandra pun seperti itu. Mereka berdua sangat lincah; melesat, memukul, menyelinap, lalu merobohkan lawan, lagi, lagi, dan lagi.
Aku cukup kagum oleh keahlian mereka. Pedang mengilap mereka berdenting, beradu gigit serta menyilaukan saat cahaya rembulan memantul melalui benda logam itu.
Sang pria berpakaian putih kulihat berjalan dari ramainya ratusan prajurit yang coba menyerang dua pangeran.
"Nak! Larilah! Secepatnya! Pergi dari sini!" kata pria paruh baya dengan mantel berwarna biru.
Ialah pria yang kulihat menunggangi kuda waktu itu dan memberikan peringatan padaku. Mungkinkah maksud dari peringatannya adalah saat-saat seperti sekarang ini? Sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi.
"Nak. Dengarkan ibu. Kau harus lari, pergi dari sini. Biarkan aku dan ayahmu yang menanggung semua ini!" Begitulah ucap ibuku sambil berderai air mata.
Aku ingin sekali menggapai dan memeluk wanita itu, tetapi sepertinya waktu tidak mengizinkan.
Maka, sebelum pria berpakaian putih itu tiba di tempatku berdiri, aku menjauh dari sang ibu dan pria paruh baya menggunakan mantel.
"Pergilah! Kau bisa melewati jalan di sana," tunjuk pria itu ke sebuah tempat di belakangnya. "Di sana, kau akan menemukan sebuah pintu rahasia. Ikuti saja jalan ini dan masuk ke salah satu ruangan."
Pria itu mengangguk dan tersenyum begitu terpaksa.
Siapa dia sebenarnya?
Dalam hati aku terus mempertanyakan soal pria itu. Apakah benar dia ayahku? Raja Abirama? Tapi, kenapa justru dia tidak berkuasa di kerajaannya sendiri?
__ADS_1
Daripada memikirkan hal yang begitu rumit, aku pun menambah laju kaki agar segera tiba di tempat yang telah pria itu tunjukkan padaku.
Maafkan aku, Tuan Birendra. Maafkan aku, Pangeran Kalandra. Terima kasih, terima kasih.
Benar-benar tidak satu pun yang bisa menghalangiku. Sebab, saat seorang prajurit akan mencegahku, dua pangeran itu langsung bergerak cepat untuk menusuk dan menebasnya.
"TERUSLAH BERLARI, CORNELIA ANAKKU!"
Aku terkesiap kala mendengar suara menggelegar milik pria paruh baya mengenakan mantel. Ternyata benar dugaanku, ialah Raja Abirama yang punya kekuasaan tertinggi di Kerajaan Batalia. Namun, entahlah apa yang menyebabkan kekuasaannya tidak lagi dapat digunakan bahkan hanya untuk menyelamatkan gadis sepertiku.
Aku menemukan sebuah pintu kecil. Sebelum masuk melalui pintu itu, aku mendengar suara jerit yang merupakan milik ibu dan juga seseorang yang mengaku adalah ayahku.
Kenapa Ibu mengatakan Ayah adalah seseorang yang jahat dan tidak bertanggung jawab? Padahal, malam ini, dialah yang berusaha menyelamatkanku. Aku tidak mengerti! Aku benar-benar tidak mengerti!
Sambil berteriak sekuat tenaga, maka kulewati pintu kecil itu hingga menemukan sebuah hutan yang teramat gelap. Semak belukar menghalangi langkah, memelankan laju kaki, lalu membuatku terjatuh beberapa kali.
Pekat. Aku tidak dapat melihat jalan, tetapi kakiku tak ingin berhenti berjalan.
Karena tidak dapat melihat dengan jelas, tubuhku tiba-tiba terasa seperti jatuh ke jurang. Aku sadar pada saat itu benar-benar jatuh ke sebuah jurang dan entahlah akan selamat atau tidak. Aku pasrah. Telingaku menangkap suara seperti air yang mengalir dengan kecepatan tinggi. Mungkin ... sungai.
Tubuhku basah kuyup, tenggelam, dan sulit bernapas. Menit demi menit, kesadaranku mulai menghilang hingga apa yang kulihat benar-benar kosong.
--------------------
"Jangan mendekat kau! Dasar hewan jelek!"
Kulihat dari kejauhan, Tuan Mahawira sepertinya sedang ketakutan dan berusaha untuk melawan seekor serigala. Aku lekas berlari menuju tempat Tuan Mahawira. Sambil membentangkan tangan, aku berdiri di depan tuanku itu.
"Serigala jelek! Jangan mendekat! Kalau kau berani mendekat, akan kujadikan kau makan siang untuk para prajurit!" teriakku sambil menatap serigala itu dengan lamat.
"Pergi!"
Karena tidak mau enyah juga, maka kukeluarkan batu-batu kecil dari kantong pakaian. Setelah itu, kulemparkan batu-batu itu ke arah serigala.
"Pergi kau! Akan kulempar kau dengan batu yang lebih besar!" ancamku.
Sang serigala pun pergi dari hadapanku, masuk ke hutan tempatnya tinggal.
"Serigalanya sudah pergi, Tuan," ucapku sambil mengulurkan tangan untuk membantu Pangeran Mahawira berdiri.
Dilihatnya sejenak tanganku yang hitam. Aku pun sadar bahwa seharusnya tidak melakukan hal itu. Kutarik kembali tanganku, kemudian mengalihkan pandangan.
"Maaf," ucapku lirih.
"Aku butuh bantuanmu untuk berdiri," katanya yang seketika membuatku semringah.
Entah kenapa, Tuan Mahawira seolah-olah tidak ingin membiarkanku kecewa. Aku pun kembali mengulurkan tangan, tuanku itu meraihnya dan segera bangkit.
"Terima kasih karena sudah berkali-kali menyelamatkanku."
"Bukan apa-apa, Tuan. Sudah jadi tugasku."
__ADS_1
"Lain kali, kau tidak perlu malu lagi. Kau tahu? Ayahku pernah bilang, mutiara akan tetap mutiara meskipun terselimuti lumpur."
Aku tertunduk mendengar ucapan Tuan Mahawira.
"Kau kenapa? Tidak semestinya kau menunduk seperti itu. Angkat kepalamu dengan penuh kebanggaan."
Segera aku melakukan seperti yang Tuan Mahawira katakan. Aku mengangkat kepala, lalu curi-curi pandang padanya.
"Ayah juga mengajarkan kepadaku, apa yang terlihat buruk tidak selalu buruk. Aku pikir seperti itulah kau. Tak perlu kau malu dengan wajahmu, yang penting hatimu lebih berkilau dari mutiara apa pun."
Tuan Mahawira melangkah pergi. Aku menatap punggungnya. Hal yang biasa aku lakukan bahkan hingga ia beranjak dewasa.
Di saat usia 15 tahun, Tuan Mahawira selalu sibuk dengan latihan bela diri. Aku jarang sekali punya waktu untuk dapat melihat sang pria. Aku bisa bertatap wajah dengannya hanya ketika ia pulang dari hutan untuk berburu demi mengasah kemampuannya dalam memanah.
Setelah pulang dari berburu, ia pasti akan meminta dibuatkan makan atau minuman. Setelah kenyang, ia akan tidur. Melihatnya dibuai oleh rasa kantuk membuatku selalu bahagia. Entah kenapa itu terjadi. Yang pasti, itu adalah sesuatu yang alami. Padahal, berkali-kali aku coba membuang perasaan itu, tetap saja melekat dalam diri.
"Heh, Pelayan! Mana minuman dan makanan untukku?" tanya Putri Camelia saat berkunjung ke istana.
"Maaf, Tuan Putri. Hamba pikir—"
"Sekarang, cepat ambilkan makanan untukku!" potongnya dengan nada yang ditekan.
Aku mengangguk, lalu pergi ke dapur untuk melaksanakan perintah Putri Camelia.
Sekembalinya, aku membawakan minuman dan beberapa macam buah-buahan untuk Tuan Putri.
"Silakan, Tuan Putri," kataku sambil membungkuk memberikan minuman untuknya.
Putri Camelia meneguk minuman yang kubuatkan. "Uweeek! Apa-apaan minuman ini?! Kau mau meracuniku?! Minuman apa yang kau buat?! Rasanya sangat tidak enak!" bentaknya setelah memuntahkan minuman yang telah ia teguk.
"M-maaf, Tuan Putri. Itu minuman biasa. Hanya air putih biasa," ucapku sambil terus membungkuk. Tentu saja, perkataannya membuatku sangat panik karena bisa menjadi fitnah yang akan membuat namaku buruk.
"Tidak enak!" katanya lagi.
Tak berselang lama, disiramnya kepalaku. Tentu saja, ia sengaja melakukan hal itu.
"Camelia! Apa yang kau lakukan?! Kau jahat sekali!" Kudengar suara Tuan Mahawira.
"Mahawira! Biarkan aku memberi pelayan tidak becus ini hukuman. Dia ingin meracuniku dengan minuman buatannya yang sangat tidak enak!"
"Camelia! Hentikan! Kau tidak berhak menyalahkan pelayanku. Hanya akulah yang berhak!" Tuan Mahawira bernada cukup tinggi. "Cornelia, kembalilah ke kamarmu."
Aku mengangkat kepala, kemudian pergi dari singgasana Tuan Mahawira.
Hatiku begitu hancur. Jantung berdebar, dendam mulai tumbuh di hati. Namun, aku tak sampai hati membalas apa yang pernah Putri Camelia lakukan. Aku hanya bisa mengikhlaskan perlakuannya itu.
Meski begitu, aku merengkuh diri sambil menangis di kamar. Saat kudengar langkah berderap semakin dekat ke, tangis kuhentikan.
"Siapa?"
"Ingatlah. Kau tetap rembulan di malam yang gelap. Dan tetaplah menjadi mutiara meski lumpur menutupi dirimu. Kau cantik ...."
__ADS_1
Derap langkah itu semakin menjauh setelah tidak bertanggung jawab membuat hatiku berdebar tak tertahan pada gejolak yang membuncah. Tak padam, tetap bertahan meski angin terus mendesau.
------------------