
"Hah?! Apa yang terjadi?"
Saat terbangun dari tidur, yang pertama kali kulihat ialah Tuan Mahawira. Aku membelalak seolah-olah lupa apa yang sebenarnya telah aku lakukan dengannya.
"Hmm ... Cornelia ... aku ingin menikmatimu sekali lagi ... hmm ...."
Tuan Mahawira sepertinya sedang mengigau. Jangan-jangan aku sudah melakukan hal yang senonoh dengannya.
Oh, tidak! Ya, Tuhan! Aku tidak p-p-perawan lagi.
"Tidak!"
Tuan Mahawira langsung terbangun karena teriakanku yang kencang. Pria itu mengusap-usap kedua matanya dengan tangan. Rambutnya kacau sehabis bangun tidur.
"Kau kenapa, Cornelia?" tanyanya seolah tidak tahu apa-apa.
"Apa yang kau lakukan padaku, Tuan?!" tanyaku dengan nada tinggi sambil melotot tajam.
Tak lama kemudian, Tuan Mahawira menampilkan ekspresi licik, ia menyeringai.
"Sudahlah, Cornelia. Semalam kau sudah memberikan aku kenikmatan yang tiada tara. Terima kasih untuk semuanya, ya."
Apa?!
"Apa yang Tuan k-k-katakan?! Jadi, aku sudah tidak p-p-perawan?!"
Tuan Mahawira bangkit seolah tidak peduli dengan pertanyaanku.
"Hei, Tuan! Tolong, jelaskan semua ini! Apa yang sudah Tuan lakukan padaku?!"
"Hah?! Bukankah kau yang melakukan sesuatu padaku? Bukan aku yang melakukannya, tapi kau, Cornelia."
Kembali senyum licik itu terpampang di wajah Tuan Mahawira.
Ya, Tuhan. Apa aku benar-benar sudah melakukannya? Tapi, kenapa aku tidak ingat sama sekali? Apa yang sebenarnya terjadi?
Bulir bening menitik dari netra. Aku tak percaya diri ini sungguh melakukan hal yang hina itu. Meskipun aku mencintai Tuan Mahawira, tidak semestinya aku melakukan hal yang menjijikkan sampai memberikan ragaku ini sebelum menikah dengannya.
Kututup wajah dengan kedua tangan. Tak terelakkan kesedihan yang membalut jiwaku.
Akan tetapi, tak berselang lama, suara tawa terdengar pekak di telinga. Itu suara Tuan Mahawira. Bisa-bisanya ia tertawa di atas penderitaanku. Apakah aku telah salah mencintai seseorang? Ya, Tuhan. Kenapa bisa aku sampai lengah?
Tuan Mahawira keluar dari kamar. Tanpa rasa bersalah, tanpa mengatakan apa pun padaku, ia meninggalkan diri yang sedang bersedih karena kesucianku kini telah ia renggut dengan sangat tega.
Akhirnya, sejak pagi aku tak meninggalkan kamar. Bahkan tidak lagi membuatkan sarapan untuk Tuan Mahawira. Lelaki itu tidak lagi muncul di hadapanku. Menengokku saja tidak. Dia benar-benar jahat, benar-benar telah menyakiti hatiku. Aku benci, marah, kecewa, orang seperti Tuan Mahawira tidak punya hati.
__ADS_1
"Hei, Cornelia! Mau sampai kapan kau terus bersedih?"
Aku tak merespons. Tatapanku hampa. Suasana hati benar-benar hilang setelah mengetahui aku tidaklah suci lagi. Dan semua itu tidak bisa dikembalikan.
"Pergi, Tuan. Aku sedang tidak ingin melihat wajah Tuan. Maaf," ucapku lirih tak bertenaga.
Pria itu pun pergi lagi tanpa memedulikanku. Kenapa dia menjadi seperti itu? Ke mana rasa peduli dan perhatiannya seperti sebelumnya?
Sudahlah, aku telah salah menilai seseorang. Apa yang terlihat baik belum tentu baik. Haha, aku ingin tertawa, tapi juga ingin terus menangis.
Siang hari menjelang, aku belum keluar dari kamar. Sedari tadi, kudengar langkah Tuan Mahawira yang mondar-mandir di depan kamar.
Tuan, kemarilah. Aku sedang bersedih. Ah, tidak, tidak. Aku sama sekali tidak ingin melihat Tuan Mahawira yang sekarang. Aku benci melihatnya.
Sampai sore tiba, aku masih merengkuh diri sambil terus menangis. Perutku bahkan sudah berbunyi sedari tadi meminta untuk diisi.
Tuan Mahawira terdengar masuk ke kamar. Ia meletakkan sesuatu di atas meja di samping ranjang.
"Makanlah, Cornelia. Kau harus punya tenaga untuk menangis."
Betapa kejam perkataannya.
"Cornelia. Makanlah," katanya sambil meletakkan tangannya di kepalaku. "Maaf, aku bercanda. Kita tidak melakukan apa pun malam itu."
Aku terkesiap. Tatapanku tak lagi kosong, setelahnya aku bangkit dan menatap pria itu dengan lamat.
Pria itu terbahak-bahak sambil menatapku. Suaranya menggelegar di kamar.
"Aku membohongimu. Maafkan aku," katanya sambil diiringi oleh suara tawa yang renyah.
"Kalau tidak percaya, silakan kau periksa. Kesucianmu masih ada padamu."
Tangisku terhenti, tetapi sesuatu ingin meledak di kepala.
"TUAN MAHAWIRA!" teriakku hingga membuat telinganya pekak. Pria itu menutup telinga dengan kedua tangan.
"Kau tega sekali membohongiku hingga membuat aku menangis berjam-jam!"
Kembali pria itu tertawa. "Maaf, maaf. Aku hanya ingin tahu reaksimu seperti apa jika aku benar-benar mengambil kesucianmu. Ternyata kau sungguh perempuan mulia, Cornelia. Kau akan cocok denganku karena aku juga akan selalu menjaga diriku untuk tidak melakukan sesuatu yang hina itu sebelum kita menikah nanti."
Tuan Mahawira tersenyum kemudian, tetapi tentu saja aku masih kesal dengannya. Berjam-jam aku menangis, dan itu adalah ulahnya.
Kubentur-benturkan kepalan tangan pada bahu pria itu sekuat tenaga.
"Aduh, aduh. Sakit, Cornelia. Aku sudah minta maaf, seharusnya kau memaafkanku."
__ADS_1
"Tidak, Tuan! Kau telah menyakiti hatiku. Ih, aku sebal padamu! Aku kesal, kesal, kesal! Bisa-bisanya kau membohongi aku!"
Tuan Mahawira tidak menghindar, ia membiarkanku memukul-mukul bahunya.
"Aku akan selalu menjagamu." Pria itu menenggelamkanku pada peluknya. Aku kembali luluh oleh tindakannya itu.
Jika saja ia benar-benar memintaku untuk melakukan sesuatu yang hina itu, aku pasti akan melakukannya karena dia selalu bisa menghipnotis diriku.
"Maaf, ya, sudah membuatmu sedih." Dielusnya punggungku dengan pelan. "Aku sangat mencintaimu, Cornelia. Seseorang yang benar-benar mencintaimu pasti akan menjagamu sekuat tenaganya, dengan seluruh kemampuannya, dan tidak akan pernah mengambil kesucianmu sebelum benar-benar sah dalam sebuah pernikahan."
Aku bisu karena mendengar kalimat tuanku yang begitu bijak.
"Sekali lagi, aku minta maaf. Kita akan selalu saling menjaga."
Dilepaskannya diriku kemudian, Tuan Mahawira menatapku dengan lamat. Jemarinya terulur, membersihkan bulir-bulir bening yang menempel di manikku.
"Kau lebih cantik jika tak menangis." Pria itu tersenyum hangat.
"Apa kau mau memaafkanku?"
"Tidak! Aku tidak akan memaafkanmu sebelum bertanggung jawab."
"Baiklah. Kau mau aku melakukan apa? Akan kulakukan apa pun."
"Nikahi aku secepatnya!"
Tuan Mahawira berdiri. "Baiklah. Kalau begitu, besok kita akan berangkat ke Kerajaan Simaseba." Wajah Tuan Mahawira begitu serius.
"Sekarang, makanlah. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya. Yakinlah kita bisa menyelesaikan semua ini, lalu menikah dan hidup bahagia."
Senyumku terkembang, lalu kuambil bubur yang dibuat sendiri oleh Tuan Mahawira. Begitu memasukkan bubur ke mulut, aku menjulurkan lidah.
"Uweeekk. Tidak enak sema sekali. Apa kau yang membuatnya?"
"Ya ... aku terpaksa karena sejak pagi kau selalu menangis. Apa boleh buat aku memakan makanan yang aku buat dan rasanya tidak enak sama sekali."
"Dasar! Kalau begitu, aku juga punya satu syarat untuk kau bisa menikah denganku."
Tuan Mahawira mengernyit.
"Kau harus bisa memasak makanan yang enak," tandasku sambil menyeringai.
Rasain kau, Tuan! Memangnya kau saja yang bisa mengerjaiku? Hahahahaha.
--------------
__ADS_1
Jangan lupa vote!!!!