Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Pengorbanan


__ADS_3

"Kampung kami dirampas oleh Kerajaan Simaseba dan dijadikan sebagai wilayah untuk memperluas istana. Para rakyat ditangkap, lalu dipekerjakan tanpa imbalan untuk sebuah pembangunan. Anak-anak dijual, dijadikan bisnis dan budak. Sedangkan para lelaki yang masih remaja dipaksa untuk bekerja sebagai prajurit yang mengabdi kepada istana."


Aksa seorang pria yang beberapa waktu lalu menyerang kami ternyata ialah warga dari sebuah desa yang dirampas oleh Kerajaan Simaseba. Jadi, itulah alasannya menggunakan lahan di samping sungai ini sebagai tempat peristirahatan.


"Maaf, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menyerang kalian. Aku hanya berwaspada. Aku pun berpikir kalau kalian adalah orang jahat dari Simaseba," ucapnya dengan wajah sendu dan tertunduk.


Aku dan Tuan Mahawira fokus mendengarkan cerita dari Aksa. Bagiku sendiri, apa yang dilakukan oleh Putri Camelia dan para menterinya adalah hal yang tidak berprikemanusiaan. Bagaimana bisa ia melakukan hal sama seperti Baltra?


Ah, aku melupakan sesuatu bahwa putri congkak itu merupakan aliansi dari Baltra. Tidak heran dia begitu jahat kepada para rakyat.


"Lalu, sekarang desa kalian dikuasai oleh Simaseba?" Tuan Mahawira bertanya sambil menatap Aksa.


"Begitulah. Sebagian dari kami melarikan diri dan mencari tempat aman untuk tinggal. Aku sendiri memilih tempat ini karena aman. Setiap beberapa hari sekali, aku pergi untuk mengetahui keadaan di Simaseba. Tapi, hanya dari kejauhan. Para prajurit kerajaan sangat ketat."


Aku memberikan Ubi Rebus kepada Aksa karena menurutku ia tampak sangat lapar. Hanya firasat saja. Pria itu menerimanya, lalu ia lahap.


"Terima kasih makanannya," ucap Aksa sambil tersenyum tipis.


"Aku pikir kau salah satu utusan Putri Camelia," kataku sambil menatap pria itu penuh selidik.


"Tentu saja tidak. Mana ada orang lemah sepertiku menjadi utusannya. Namun, aku pun tidak sudi menjadi bawahannya." Napas Aksa seolah tertahan. Setitik cairan bening bertengger di manik.


"Kau kenapa?" Tuan Mahawira mengernyit.


"Putri sombong itulah yang menyebabkan kematian orang tuaku. Masih sangat jelas di ingatan bagaimana dia membakar rumah kecil kami dan tertawa saat ibu dan ayahku mati terbakar." Gigi pria itu menggertak. Air mata jatuh ke Ubi Rebus di tangannya.


Aku pilu mendengarkan cerita Aksa. Benar-benar kejam. Putri Camelia bukanlah manusia. Dia iblis yang berwujud manusia.


"Pantas saja. Sudah lama aku mencurigainya. Ternyata ini yang dia sembunyikan dari Rosalia." Tatapan Tuan Mahawira langsung berubah.


"Apa semua perkataanmu bisa dipertanggungjawabkan?" tanyaku memastikan.


"Jika kalian tidak percaya, bisa periksa ke desaku yang sekarang sudah mereka hancurkan. Bahkan banyak prajurit berjaga di sana. Hak-hak kami sudah dirampas oleh mereka. Kurang jelas apa lagi?"


"Aku percaya. Air matamu tidak akan bisa berbohong." Aku mengangguk.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu, Camelia. Aku akan menuntut balas atas semua yang kau renggut." Tuan Mahawira berbicara sendiri, tetapi kuyakin itu adalah luapan dari isi hati terdalamnya.


Aku sangat tahu Tuan Mahawira membenci perbudakan dan penindasan. Oleh itu, jika dia menjadi seorang pemimpin, pasti para rakyat akan terbebas dari belenggu beban pada kerajaan. Apalagi Tuan Mahawira begitu murah hati. Dia bahkan pernah meminta Paduka Raja untuk menurunkan setoran upeti rakyat ke istana. Ia juga meminta Paduka Raja untuk tidak memaksa rakyat membayar upeti jika tidak punya penghasilan.


"Rakyat seharusnya terbebas dari semua kewajibannya terhadap istana. Jika rakyat tak hidup makmur, maka tidaklah kerajaan itu disebut jaya. Tak ada kejayaan bagi sebuah kerajaan tanpa kebahagiaan para rakyatnya," tandas Tuan Mahawira.


"Sebenarnya kau siapa? Dan apa tujuanmu ke tempat ini?" Aksa mungkin penasaran pada sosok Tuan Mahawira karena perkataannya yang seolah membela rakyat.


"Aku hanya rakyat biasa yang mengerti dengan penderitaan. Ya, sebut saja begitu."

__ADS_1


Aku hanya bisa geleng-geleng mendengar jawaban Tuan Mahawira. Ia pasti punya alasan sehingga tidak ingin mengungkap siapa dirinya. Aku sangat percaya Tuan Mahawira tidak mengharapkan orang-orang mengakui, mengenal, atau bersikap takluk padanya yang seorang pangeran kerajaan.


Aksa mengangguk-angguk mendengar jawaban Tuan Mahawira. Namun, kulihat masih ada keraguan di benak pria itu. Mungkin saja ia tidak percaya dengan jawaban tuanku.


"Dan kenalkan. Dia adalah calon istriku," ucapnya tiba-tiba, membuatku tercengang dan langsung tersipu.


"Kau beruntung." Aksa tersenyum kemudian.


Ia tampak mengambil napas dalam.


"Aku pernah punya seseorang yang berharga, sama sepertimu. Dia perempuan yang paling aku kagumi di desaku."


"Lalu, sekarang ke mana perempuan itu?"


"Dia tertangkap oleh prajurit istana, lalu dijual dan menjadi budak untuk para bangsawan yang terhormat."


"Kau pasti sangat sedih."


"Tidak dapat kupungkiri. Hatiku hancur sekali. Seharusnya ia sudah bahagia bersamaku, tapi para bedebah anjing istana itu merusak segalanya."


Hening beberapa saat. Tuan Mahawira tidak sedikit pun mengalihkan pandangan dari wajah Aksa yang sedang geram.


"Baiklah, sudah diputuskan," ucap tuanku.


"Apanya yang diputuskan, Tuan?"


"Sudah diputuskan. Tugas kita adalah pergi ke Simaseba menyelamatkan kekasih Aksa."


"Apa?! Apa kau gila? Itu sama saja dengan bunuh diri!" Aksa terkejut, tentu saja.


"Kenapa? Jika kau mencintai seseorang, mati bukanlah masalah besar sebagai bentuk pengorbanan."


Perkataan Tuan Mahawira seketika membuat Aksa terkesiap. Pria itu menunduk kemudian.


"Pikirkanlah. Cinta itu adalah sesuatu yang suci. Apa pun kesulitan di depan adalah jalan menuju kepantasan diri. Setidaknya jika kau mati saat berusaha menyelamatkan perempuan itu, artinya kau mati dalam pemikiran yang benar daripada tenggelam dalam kesalahan karena tidak melakukan apa-apa.


Berdiam diri tidak membuatmu memiliki umur yang panjang. Kita adalah lelaki, sudah sepatutnya berkorban."


Entah, mungkin bagi Aksa kata-kata Tuan Mahawira begitu merasuk ke hatinya. Itu menjadi sindiran keras.


"Lalu, apa yang kau tunggu?"


"Aku tidaklah kuat sepertimu. Kau lihat sendiri, melawan calon istrimu saja aku kalah, apalagi melawan prajurit kerajaan."


"Asal kau tahu, calon istriku jauh lebih kuat daripada prajurit putri sombong itu. Kau tentu memiliki kesempatan yang besar. Berjuanglah! Jangan menunggu kuat dulu, baru kau mengambil tindakan. Kau harus mengambil tindakan dulu, barulah kau akan menjadi kuat."

__ADS_1


Aksa tampak termenung. Bahkan aku sendiri pun tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Tuan Mahawira. Dia begitu gagah, lelaki sejati. Jadi, karena itulah dia juga berjuang mati-matian demi cinta kami?


"Cornelia, mari kita biarkan dia merenung sendiri."


Tuan Mahawira menarik tanganku untuk menjauh dari Aksa. Kami duduk di bawah sebuah pohon besar.


"Nah, Cornelia. Bagaimana rasanya?"


Karena mengerti apa yang dimaksud Tuan Mahawira, aku segera memalingkan wajah. Mungkin saja wajahku sudah memerah.


"Jelaskan padaku. Apa yang kau rasakan?"


"J-jangan—"


"Aku harap kau ingin nambah, maka akan kuberikan yang jauh lebih panas dari—"


"Berhenti!" potongku. "J-jangan dibahas lagi. Aku—"


"Kalau begitu." Pria itu mencondongkan wajahnya, begitu dekat dari wajahku.


Lagi-lagi lidahku kelu.


"Aku akan memberikanmu sesuatu yang lain."


"Rasanya sangat nikmat," ucapku dengan cepat.


"Apa? Aku tidak mendengarnya. Ulangi."


"Rasanya sangat nikmat."


"Aku belum mendengarnya. Lebih keras lagi."


"Rasanya sangat nikmat!"


"Sudah dipastikan, kau sepertinya ketagihan. Tenang saja, akan kuberikan lagi besok. Jika kau tidak tahan, maka bicaralah sekarang. Akan kuberikan selama apa pun yang kau inginkan."


Aku benar-benar tak dapat bergerak dibuatnya. Mata Tuan Mahawira begitu teduh. Saat melihat bibirnya, entah rasanya masih melekat saat bibir kami bertemu dan ia melumatnya dengan begitu lembut.


"Aku ... ingin lagi dan lagi ...."


Tuan Mahawira menyeringai.


------------------


Jangan lupa vote, ya.

__ADS_1


__ADS_2