Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Hidup Berdua


__ADS_3

"Jangan terburu-buru untuk pergi ke Kerajaan Simaseba. Ada hal yang harus kau mantapkan," cetus Ki Cakra.


"Aku sudah tidak sabar untuk segera menghabisi para pengkhianat itu." Tuan Mahawira membelakangi Ki Cakra.


"Kau masih terlalu lemah, Mahawira. Kau tidak akan cukup mampu mengalahkan orang-orang dari istana itu."


"Orang-orang mana yang Ki maksud? Aku bahkan pernah berhasil kabur dari istana itu saat putri sombong Camelia menculikku."


"Kau harus mendengarkan kata-kataku. Jika tidak, kau akan mendapatkan kesulitan."


Tuan Mahawira berbalik badan sambil mengembuskan napas panjang. "Baiklah. Aku akan ikut apa yang Ki katakan."


"Bagus. Untuk hari ini, istirahatlah. Aku akan datang esok hari."


"Kenapa Ki harus pergi? Tidakkah sebaiknya menginap di sini saja?"


"Tidak usah. Aku orang yang sibuk dan banyak urusan." Ki Cakra berlalu pergi meninggalkan istana.


Setelah itu, Tuan Mahawira menghadap diriku.


"Cornelia. Ayo, masuk. Kau boleh tidur di kamarku."


Aku langsung tersipu kala Tuan Mahawira berkata seperti itu.


"T-tidak, Tuan. Aku bisa tidur di kamar pelayan seperti biasa—"


"Kalau begitu, aku juga akan tidur di sana."


"Tapi, Tuan—"


"Cornelia! Jangan menolakku. Aku sangat tidak suka mendengar kata penolakan."


Kutelan saliva, akhirnya menjawab, "Baiklah, Tuan."


Kami pun melangkah masuk. Tuan Mahawira menunjukkan kamarnya yang begitu luas dilengkapi oleh tempat tidur yang besar.


"B-benarkah aku boleh tidur di kamar ini? Apa tidak berlebihan, Tuan?"


"Tidak berlebihan. Lagi pula, saat menikah nanti, kita akan tidur bersama di—"


"Hentikan, Tuan!"


Pria itu terkesiap karena aku tiba-tiba menghentikan kalimatnya.


"Kenapa, Cornelia?"


"Ih, kau menyebalkan!"


"Menyebalkan dari mana? Aku hanya—"


Segera kudorong tubuh pria itu untuk segera keluar dari kamarnya sendiri.


"Kau harus segera keluar, Tuan."


"Tapi, kenapa—"


"Pokoknya kau harus keluar. Aku tidak mau tahu. Kau harus keluar."

__ADS_1


Dengan tenaga dorong yang cukup besar, aku pun berhasil mengeluarkan pria itu, lalu menutup pintu dan menguncinya.


Aku melangkah ke ranjang, tiba-tiba ketukan pintu terdengar. "Cornelia, waspadalah. Aku akan menyelinap masuk ke kamar ini dengan cara apa pun."


"Pergi, Tuan!"


--------------


Pagi-pagi sekali aku terbangun demi membuatkan Tuan Mahawira sarapan. Bubur hangat adalah sarapan yang paling pas di pagi hari yang begitu dingin.


Di luar istana, aku membersihkan halaman yang terlihat cukup kotor. Kuhela napas, menikmati udara yang begitu segar.


Entah kenapa rasanya di dunia ini aku hanya tinggal berdua dengan Tuan Mahawira. Apalagi kami tinggal di istana. Bagaimana jika kehidupan seperti ini akhirnya bisa kami capai nanti? Hmm, pasti akan sangat menyenangkan.


"Hei, Cornelia! Jangan hanya melamun. Mana sarapanku?"


Aku berbalik badan. Tuan Mahawira ternyata sudah bangun. Bahkan ia belum mencuci wajah. Rambutnya terlihat acak-acakan.


"Kau sudah bangun ternyata, Tuan. Tunggulah di meja makan, aku akan ke sana membawakan Tuan sarapan."


"Baiklah." Pria itu langsung pergi.


Aku segera ke dapur dan membawa dua piring bubur beserta air minum. Kuletakkan di atas meja. Tuan Mahawira terlihat menciumi aroma bubur yang begitu wangi.


"Aku sangat suka dengan masakanmu."


"Apa alasan kau suka?" tanyaku sambil duduk berhadapan dengan pria itu.


"Masakanmu selalu penuh dengan cinta. Aku suka dari dulu saat pertama kali kau menyajikan bubur ini untukku saat sakit."


"Sudah, sudah, Tuan. Aku malu jika kau bicara seperti itu."


Tuan Mahawira menyantap bubur dengan lahap. Hanya beberapa sendok saja, bubur sudah tandas.


"Aku tambah lagi," ucap Tuan Mahawira.


Segera aku ke dapur dan mengambilkan bubur untuk kedua kalinya.


"Ini, Tuan."


Aku suka sekali melihat Tuan Mahawira makan masakanku dengan lahap. Kebahagiaan terbesar bagiku jika seseorang menerima apa yang telah kubuat dengan sepenuh hati.


Aku menyunggingkan senyum.


Tiba-tiba saja momen indah kami terganggu oleh suara teriakan seorang perempuan di luar istana. Tuan Mahawira tampak memfokuskan pendengaran.


Ia segera bangkit dan melangkah keluar. Aku mengikuti di belakang.


Tiba di luar istana, Putri Camelia berdiri dengan beberapa bawahannya.


"Apa maksud kedatanganmu kemari?" Tuan Mahawira angkat bertanya.


"Sebenarnya bukan sesuatu yang penting. Tapi, sepertinya kau sangat tidak peduli dengan ayahmu yang sedang aku siksa di istana." Putri Camelia menyeringai.


"Baj*ngan! Apa yang kau lakukan pada ayahku?!"


Empat pendamping putri sombong itu berwaspada.

__ADS_1


"Coba tebak, apa yang aku lakukan pada tua bangka itu?"


"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?"


"Sudahlah, Mahawira. Lagi pula, kau sudah membuatku muak dengan tingkahmu. Kau menolak pernikahan kita. Lalu, ayahmu juga ikut-ikutan tidak mematuhi aturan yang ada. Dan yang lebih penting, kau memilih perempuan buruk rupa itu! Kau sudah membuat hatiku sakit, Mahawira."


"Hah! Konyol. Dengar, Camelia. Kau tidak bisa mendapatkan cinta dengan cara memaksa orang lain mencintaimu. Yang akan kau dapat hanyalah kebencian."


Pandangan Putri Camelia beralih padaku. Lamat dan penuh kebencian. Aku menunduk karena tidak tahan melihat bola mata berkobar itu.


"Perempuan busuk! Kau telah meracuni pikiran Maha—"


Langkah Tuan Mahawira hampir tidak dapat terdengar, pun terlihat. Tahu-tahu ia sudah tiba di hadapan Putri Camelia dan mencekik perempuan itu.


"Dengar, Camelia! Kau berhasil membuatku marah karena sudah menculik ayahku dan semua prajurit istana ini. Tapi, jangan kau buat aku lebih marah lagi dengan merendahkan Cornelia. Jika kau berhasil membangkitkan sesuatu di dalam jiwaku ini, kau bahkan seisi istanamu akan kubuat hancur. Kau akan menderita selamanya."


Putri Camelia tampak kesulitan bernapas karena cengkeraman Tuan Mahawira.


"Jangan bergerak! Atau majikan kalian mati di tempat."


Pengawal Putri Camelia langsung mundur karena ancaman pria itu.


"Yang perlu kau lakukan adalah menunggu kehancuranmu!"


Tuan Mahawira melepaskan cengkeramannya, lalu kembali ke hadapanku secepat kilat.


"Sialan kau, Mahawira. Kau akan menyesal setelah memperlakukanku dengan kasar."


Putri Camelia meludah, lalu akhirnya berjalan keluar dari pintu besar istana.


Setelah kepergian Putri Camelia, Tuan Mahawira masih berdiri sambil mengepal tangannya. Aku sungguh tidak berani untuk menyapa pria itu.


Tak berselang lama, ia berbalik badan sambil menampakkan sebuah senyum. Bagaimana bisa pria itu masih dapat tersenyum setelah tahu ayahnya sedang dalam masalah? Apalagi, baru saja ia mendapatkan ancaman dari Putri Camelia.


Aku terkagum-kagum dengan senyum teduh yang terpancar itu, meskipun sebenarnya terkesan begitu dipaksakan.


"Kenapa, Tuan? Kenapa kau masih bisa tersenyum di saat-saat genting seperti ini?"


"Tidak perlu heran, Cornelia. Aku masih bisa tersenyum karena seseorang yang sangat aku cintai berada di sisiku."


Tuan Mahawira menarik diriku ke dalam pelukannya. "Tetaplah bersamaku."


Aku pun membalas pelukan pria itu.


"Hei! Ini bukan saatnya untuk bermesra-mesraan. Ayo, kalian ikuti aku!"


Ki Cakra tiba-tiba datang dan mengganggu jalannya momen yang begitu hangat.


Tuan Mahawira melepaskan diriku, lalu mengangguk sambil menggandeng tanganku.


"Ayo, kita pergi bersama-sama. Kau juga harus memperkuat dirimu agar ketika kelak aku gugur di pertempuran, kaulah yang dapat meneruskan perjuanganku."


Aku seperti dihantam sesuatu yang begitu besar dan berat. Mengapa Tuan Mahawira berkata seolah-olah ia tidak yakin bisa mengalahkan orang-orang yang menjahati kami? Apakah ini suatu pertanda dari Tuhan bahwa Tuan Mahawira di masa depan akan benar-benar gugur dalam pertempuran.


Bila itu yang terjadi, aku lebih baik memilih untuk menyerahkan diri pada Baltra.


Tuhan, jangan sampai hal itu terjadi.

__ADS_1


------------------


__ADS_2